Upaya Pencegahan NAPZA


 

Masalah Napza/Narkoba sudah menjadi masalah yang sangat krusial hampir di semua negara di dunia, tak terkecuali di Indonesia. Setiap hari kita bisa melihat ditayangan televisi atau membaca berita di media sosial tentang penangkapan para pengguna Napza tak terkecuali para pesohor, artis, politisi, bahkan orang-orang yang kita tidak duga sebelumnya yang terciduk tengah menggunakan napza, atau bahkan kedapatan berpesta Napza. Mengapa Napza begitu menarik minat seseorang sehingga mengabaikan hukum dan norma, serta resiko yang sangat besar ? di tengah pandemi yang berkepanjangan kita tetap tidak boleh lengah. Napza tentu saja tetap harus diwaspadai.

Penyalahgunaan Napza (Narkotika, Psikotropika, dan Zat-zat Adiktif) merupakan suatu pola perilaku yang bersifat patologik, dan biasanya dilakukan oleh individu yang mempunyai kepribadian rentan atau mempunyai resiko tinggi, dan jika dilakukan dalam jangka waktu tertentu akan menimbulkan gangguan bio-psiko-sosial-spiritual. Sifat Napza tersebut bersifat psikotropik dan psikoaktif yang mempunyai pengaruh terhadap sistem syaraf dan biasanya digunakan sebagai analgetika (pengurang rasa sakit) dan memberikan pengaruh pada aktifitas mental dan perilaku serta digunakan sebagai terapi gangguan psikiatrik pada dunia kedokteran. Obat-obatan ini termasuk dalam daftar obat G yang artinya dalam penggunaannya harus disertai dengan control dosis yang sangat ketat oleh dokter. Secara farmakologik, yang termasuk Napza antara lain ganja, morfin, sabu, ekstasi, marijuana, putau, kokain, pil koplo, dan sebagainya. Akan tetapi obat-obat pengurang rasa sakit yang dijual bebas mengandung Napza, dalam dosis yang telah diatur secara ketat.

Beberapa jenis Napza terbuat dari tumbuhan koka yang dihasilkan hari hutan di Amerika Selatan, ada juga yang terbuat dari zat kimia seperti sabu, putau, morfin dan ekstasi. Ganja dihasilkan dari tanaman ganja yang banyak dimasukkan dari daerah perbatasan Thailand, Birma dan Vietna sedangkan sabu diselundupkan dari Cina sedangkan ekstasi dari Belanda. Para pengguna Napza biasanya individu yang mempunyai masalah psikologis dan kepribadian yang rentan, serta mempunyai harga diri rendah. Tahapan individu dalam penyalahgunaan Napza dari tahap coba-coba, artinya individu sekedar ingin tahu dan merasakannya serta terpaksa menggunakannya karena mendapat tekanan dari teman-temannya. Faktor-faktor penyebab timbulnya penyalahgunaan Napzadapat berasal dari dalam diri individu dan dari luar diri individu. Faktor yang berasal dari dalam diri individu, seperti individu yang memiliki kepribadian beresiko tinggi, tidak dewasa, tidak sabaran, mempunyai toleransi frustasi yang rendah, tertutup, senang mengambil resiko yang berlebihan dan mempunyai kepercayaan diri yang rendah. Faktor yang berasal dari luar individu seperti lingkungan keluarga yang tidak harmonis, lingkungan sekolah yang tidak memadai, dan lingkungan masyarakat yang apatis.

 Menurut laporan Rumah Sakit Ketergantungasn Obat (RSKO) di Jakarta, dari penderita yang umumnya berusia 15 - 24 tahun, banyak yang masih aktif di SMP dan SMA, bahkan perguruan tinggi. Dengan demikian berarti generasi muda merupakan sasaran strategis mafia perdagangan narkoba atau napza. Oleh karena itu perlu dilakukan tindakan pencegahan atau preventif dilakukan secara aktif melalui pembinaan masyarakat dengan mengadakan penyuluhan dan bimbingan sosial. Pencegahan adalah kegiatan penyuluhan dan bimbingan sosial  untuk memberi pengetahuan dan kesadaran, tentang akibat buruk/bahaya penyalahgunaan napza, untuk meningkatkan ketahanan daya tangkal perseorangan, keluarga atau masyarakat terhadap masalah penyalahgunaan Napza. Upaya pencegahan ini dilaksanakan melalui kegiatan diskusi, peningkatan kemampuan teknis, dan penyuluhan sosial. Lebih lanjut dikemukakan bahwa tujuan dari upaya pencegahan ini, yaitu :

1.     Terhindar dan terbebasnya generasi muda dari penyalahgunaan napza, menumbuhkan, memulihkan, dan mengembangkan keberfungsiaan sosial eks korban penyalahgunaan napza sehingga dapat hidup secara wajar sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat; dan

2.       Meningkatnya peran aktif masyarakat dalam upaya penanggulangan penyalahgunaan napza sehingga masyarakat memiliki ketahanan sosial dan daya tangkal terhadap permasalahan penyalahgunaan Napza.

Disamping upaya preventif atau pencegahan terhadap penyalahgunaan Narkoba atau Napza, juga pecandu narkotika dan korban penyalahgunaan wajib menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial. Penyembuhan  pecandu Napza dapat diselenggarakan oleh instansi pemerintah atau masyarakat melalui pendekatan keagamaan dan tradisional. Sedangkan rehabilitasi sosial mantan pecandu narkotika diselenggarakan baik oleh instansi pemerintah maupun oleh masyarakat. Dalam Undang-Undang RI Nomor 11 Tahun 2009 Tentang Kesejahteraan Sosial, pada Pasal 7 ayat (1) menyebutkan : rehabilitasi sosial dimaksudkan untuk memulihkan dan mengembangkan kemampuan seseorang yang mengalami disfungsi sosial agar dapat melaksanakan fungsi sosial secara wajar. Rehabilitasi dapat dilaksanakan secara persuasive, motivatif, koersif, baik dalam keluarga, masyarakat maupun panti sosial/balai sosial. Upaya pencegahan, penanggulangan penyalahgunaan dan pemberantasan peredaran  gelap Narkoba diperlukan peranserta masyarakat. Masyarakat perlu mengembangkan program dilingkungannya masing-masing secara bertanggung jawab dan profesional. Agar program di lingkungan masyarakat dapat berjalan baik diperlukan pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat adalah suatu asas penting dalam pengembangan program tersebut  yaitu:

1.     Bekerja bersama masyarakat, sehingga menggeser tanggung jawab lembaga pemerintah dan profesional kepada masyarakat; dan

2.     Melibatkan semua komponen masyarakat.

Prinsip ini merupakan paradigma dalam pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan Narkoba/Napza dan pemberian pelayanan kepada sasaran masyarakat tertentu oleh pemerintah dan profesional tertentu, menjadi pemberdayaan masyarakat, sehingga mampu mengembangkan dan melaksanakan rencana kegiatan mereka sesuai dengan kebutuhan. Sebagai konsekuensinya, metode pencegahan dan penaggulangan harus diubah dari cara-cara konvensional atau klasikal yang dibantu oleh pemerintah dan para profesional kepada cara-cara yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Masyarakat harus didorong agar mampu menyelesaikan masalah mereka sendiri. Tugas pemerintah sebagai fasilitator mendorong proses membangun kesadaran masyarakat, membangun sistem, menyusun pedoman, dan melatih tenaga-tenaga masyarakat agar menjadi tenaga handal. Dengan demikian pemberdayaan dapat diartikan sebagai sebuah proses orang menjadi cukup kuat untuk berpartisipasi dalam berbagi pengontrolan atas pengaruhnya terhadap kejadian-kejadian serta lembaga yang mempengaruhi kehidupannya. Pemberdayaan menekankan bahwa orang memperoleh keterampilan, pengetahuan, dan kekuasaan yang cukup untuk mempengaruhi kehidupannya dan kehidupan orang lain yang menjadi perhatiannya.     

Ada 3 (tiga) sasaran tindakan preventif  yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat.

1. Keluarga;  Peran keluarga dalam pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan Napza membentuk pribadi yang baik. Tidak ada  alasan repot mengurus soal pekerjaan sehingga orang tua tidak sempat memperhatikan kehidupan anak. Anak harus mendapatkan kasih sayang. Ayah dan ibu mempunyai kekuasaan sepenuhnya untuk membentuk pribadi yang baik terhadap kehidupan anak-anak. Kebiasaan hidup, hormat menghormati, sopan santun terhadap orang tua harus dimulai sejak masih kanank-kanak. Termasuk dalam hal kehidupan beragama orang tua yang harus memulainya dari kecil. Mereka harus dibimbing mengenai Tuhan, mengenai kewajiban, belajar agama sehingga mengetahui berbagai perintah dan larangan Tuhan.  

2. Sekolah;  Anak sekolah dari kelompok umur 13 – 20 tahun, masih sangat rentan terhadap bahaya penyalahgunaan narkoba/napza, mereka berupaya mencari jati diri. Perkembangan biologi masa pubertas, perkembangan kejiwaan, rasa ingin tahu yang tinggi dapat menyeret mereka pada pengalaman yang tidak semestinya. Jadi penting artinya membentengi mereka dengan langkah-langkah yang tepat. Ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dari para pendidik atau para guru untuk menangkal bahaya penyalahgunaan narkoba/napza di sekolah adalah sebagai berikut;

a. Perlu diadakan penyuluhan dan bimbingan terhadap masalah Napza oleh tenaga ahli di bidanya agar anak didik memiliki pengetahuan terhadap bahaya Napza. b. Perlu diadakan kontrol terhadap tempat-tempat yang mencurigakan di sekolah dan sekitarnya serta diadakan informan khusus. Sekali-sekali diadakan razia narkoba, baik oleh para guru maupun dibantu oleh petugas dari kepolisian. c. Hubungan yang harmonis antara pendidik dan siswa, atau antara guru dan murid, sehingga komunikasi menjadi lancar.  d. Jika terdapat siswa yang menjadi penghisap ganja atau morfinis lainnya, para guru tak usah panik, takut akan ancaman anak-anak. Pihak sekolah harus segera menghubungi pihak kepolisian yang terdekat untuk penyelidikan lebih lanjut. e. Murid-murid yang gemar membolos, bandel, berlaku tidak sopan kiranya perlu mendapat perhatian khusus karena gejala tersebut merupakan gejala penyalahgunaan napza.  

3. Masyarakat; Di dalam masyarakat terdapat komponen kerohanian seperti ulama, tokoh masyarakat, pemimpin kepemudaan, dan lain-lain. Para tokoh masyarakat tersebut bekerjasama member wawasan dari masing-masing tokoh masyarakat untuk memberi bekal menangkal penyalahgunaan napza. Ada tiga hal yang perlu disampaikan kepada remaja, yaitu : (1) apa dan bagaimana napza itu; (2) siapa yang berwenang memiliki; dan (3) mengedar dan memakainya dan bagaimana segi hukum pemakai napza ditinjau dari sudut agama dan hukum pidana. Mencegah dan menanggulangi penyalahgunaan nafza, dipandang efektif apabila kita dapat memerangi pemasok  barang haram berupa napza dan memberi pencerahan serta menanamkan kesadaran terhadap para remaja sebagai pengguna napza.

Masalah Napza tentu saja masih menjadi pekerjaan rumah yang berat, rumit karena kita berhadapan dengan sebuah bisnis besar internasional. Namun demikian kita harus melakukan berbagai upaya agar lebih banyak lagi masyarakat yang bisa diselamatkan.  Kita tidak hanya harus mengejar para bandar dan menguhukmnya akan tetapi yang lebih penting adalah memberikan penguatan kepada masyarakat, terutama anak-anak remaja bangsa agar memiliki kesadaran yang tinggi untuk tidak menggunakan Napza. Inilah yang harus Bersama-sama kita lakukan, maka dibutuhkan kerja sama yang baik dari berbagai elemen masyarakat karena masalah Napza tidak melulu menjadi tanggung jawab pemerintah tapi menjadi tanggung jawab kita bersama sebagi warga negara. (tammy, Pensos madya dari berbagai sumber)

 

Oleh : Tami 

 

 

 


Bagikan :