Dualisme Instagram: Bencana Atau Berkah?

Dualisme Instagram: Bencana Atau Berkah?

Apakah dengan adanya kemajuan di era teknologi membuat orang semakin produktif atau malah semakin hedonis dan malas? Dualisme ini tentu menjadi sebuah dilema saat kita tak pandai dalam menyikapinya.

Siang itu, saat saya berada di ruang kelas melihat sekumpulan mahasiswa sekitar 20 orang. Hanya satu atau dua anak yang sedang bercakap-cakap di kursi bagian depan. Sedangkan sisanya sibuk mengayunkan jari-jemarinya di smartphone masing-masing.  Suasana riuh kemudian mendadak terjadi saat segerombolan teman membicarakan tentang produk kecantikan dan fashion terbaru di sebuah situs belanja online. Akupun kemudian melangkahkan kaki keluar kelas, kulihat sederet mahasiswa sedang asik ber-selfi ria, ataupun foto bersama teman-temannya dengan berbagai gaya. Beberapa diantara mereka kemudian sibuk mengunggah hasil jepretan nya ke akun instagram dengan caption yang puitis. Kondisi ini kemudian memberiku inspirasi untuk membuat tulisan ini. 

Di era postmodern saat ini tidak dapat dipungkiri bahwa dari anak-anak sampai orang dewasa memiliki smartphone atau gadget. Dengan segala kepintarannya smartphone ini memiliki berbagai fitur yang menarik, salah satunya adalah instagram. Hampir setiap remaja dan orang dewasa memiliki akun instagram. Menurut data yang dilangsir oleh tekno.kompas.com pada tanggal 16 Desember 2016 pengguna instagram di Indonesia mencapai 600 juta, bahkan jumlah ini masuk dalam 3 besar dunia setelah Jepang dan Brazil. Instagram ini memberikan beberapa fitur dan informasi yang dapat meningkatkan budaya konsumtif, antara lain online shop, referensi tempat-tempat wisata dan kuliner. 

Online shop menawarkan berbagai produk yang khususnya disenangi oleh kaum perempuan seperti fashionfood, alat-alat kecantikan. Mereka tidak perlu keluar banyak tenaga untuk dapat menemukan yang diinginkan, para penikmat online shop hanya duduk dan menunggu pesanan nya datang, semua serba mudah, cepat dan praktis. Keadaan ini tentu membuat gaya hidup masyarakat semakin malas. Saya melihat bahwa mahasiswa jaman sekarang seringkali terkena syndrom  anoreksia nervosa. Apa sih syndrom anoreksia nervosa itu? Sebuah kelainan, dimana si penderita akan selalu merasa dirinya gemuk. Jadi dia akan melakukan berbagai cara agar selalu terlihat kurus meskipun tubuhnya hanya berbalut tulang dan kulit. Keadaan syndrom ini selain faktor genetik juga bisa dipicu faktor media massa, dimana televisi selalu mencitrakan bahwa perempuan yang cantik itu tinggi, putih, kurus dan kulitnya mulus. Pencitraan inilah yang kemudian senantiasa masuk kedalam pikiran penontonnya. Para perempuan akan melakukan usaha apapun untuk menjadi perempuan yang “ideal”, meskipun dengan diet yang ekstrim. 

Pakaian juga menjadi salah satu unsur penting dalam melengkapi citra perempuan yang ideal itu. Perkembangan trend/mode pakaian senantiasa mereka upgrade agar tidak ketinggalan jaman, dan instagram memberikan jembatan untuk itu. 

Sikap konsumerisme pun tak ter-elakan lagi, instagram memberikan berbagai kemudahan dalam mencari, memilih serta bertransaksi berbagai macam produk pemenuh orang-orang konsumtif. Selain itu, eksistensi diri menjadi sebuah point penting ketika memiliki akun instagram, bergaya sesuai dengan tuntutan zaman yang kemudian di unggah ke akun instagram milik pribadinya untuk mencari ratusan bahkan ribuan like dan followers. Jumlah followersdan like yang mencapai ratusan bahkan ribuan menandakan bahwa ia diakui keberadaan nya di media massa.

Dampak kemajuan teknologi

Melihat permasalahan di atas tentu dengan adanya akun instagram membuat anak muda khususnya menjadi hedonis, konsumtif dan pragmatis. Segala fasilitas dan kemudahan yang di dapatkan di smartphone membuat mereka malas untuk berjuang untuk mendapatkan apa yang ia butuhkan. Dengan adanya online shop mereka hanya tinggal menunggu pesanan nya datang. Berbagai penawaran produk kecantikan, delivery food membuat seseorang semakin tertarik dan tak pernah puas. Selain itu, dampak lain dari adanya media sosial menjadikan seseorang malas untuk  bersosialisasi langsung. Para remaja akhirnya akan lebih asyik dan fokus pada kegiatan nya mengabadikan foto daripada berdiskusi dan berinteraksi dengan teman-temannya. 

Mampu membaca peluang usaha

Dampak adanya kemajuan teknologi tentu memiliki dua sisi, yaitu positif dan negatif. Tinggal bagaimana kita menggunakan teknologi menjadi sesuatu yang bermanfaat dan berbuah manis layaknya kurma. Harapannya kita tak hanya menjadi komsumen akibat kemudahan teknologi berbasis online shop. Akan tetapi juga harus mampu melihat peluang usaha dari adanya instagram ini. Yakni dengan menciptakan usaha baru, sehingga membuat orang semakin produktif. Berbagai kemudahan akses informasi serta meng globalnya situs instagram akan membuat bisnis kita lancar. Jelas dibutuhkan kreatifitas, inovasi dalam berkarya, agar kita mampu bersaing dan bertahan dalam dunia bisnis. 

Mata kuliah kewirausahaan yang didapatkan di bangku perkuliahan tentu akan berjalan optimal apabila mahasiswa mampu memaknai instagram sebagai sebuah lahan bisnis yang cukup menjajikan. Setelah itu, mereka dapat mengaktualisasikan nilai-nilai kewirausahaan yang diberikan dalam bangku perkuliahan. Harapannya Instagram sebagai salah satu media sosial yang populer saat ini bisa menjembatani pertumbuhan ekonomi, terutama menumbuhkan mental wirausahawan muda sejak dini.


Bagikan :