Terhambatnya Proses Aktualisasi Potensi Diri Perempuan Disabilitas yang Mengalami Kekerasan

Terhambatnya Proses Aktualisasi Potensi Diri Perempuan Disabilitas   yang Mengalami Kekerasan



 

Dalam kehidupan bermasyarakat pemaknaan awal tentang disabilitas dapat ditelusuri dari pandangan agama dan budaya terhadap penyandang disabilitas. Disabilitas dipandang sebagai sebuah hukuman. Penyandang disabilitas dianggap sebagai karma, dimana orang yang mengalami disabilitas merupakan hukuman karena  telah melakukan dosa besar, dan akibat kemarahan para leluhur akan kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan. Bayi yang lahir dan mengalami disabilitas adalah bentuk kutukan Tuhan, karena perilaku orang tuanya yang tidak baik, dan melanggar perintah Tuhan. Penyandang disabilitas dalam model ini dipandang sebagai orang yang bernasib sial, berbeda, kotor dan tercela.

Sementara itu dalam konteks kebijakan terminologi yang banyak digunakan untuk menjelasakan keberadaan orang-orang yang mempunyai ketidakberfungsian sebagai dari organ tubuh atau gangguan mentalnya adalah dengan menggunakan istilah penyandang disabilitas. Sebagaimana yang tertuang dalam UU. No4 tahun 1997 tentang penyandang disabilitas pasal 1 ayat 1 menjelaskan istilah penyandang disabilitas sebagai berikut:

Setiap orang yang mempunyai kelainan fisik dan/atau mental, yang dapat mengganggu atau merupakan rintangan dan hambatan baginya untuk melakukan sesuatu secara selayaknya”.

            Peraturan perundang-undangan tersebut melihat kecacatan sebagai sebuah bentuk abnormalitas. Orang-orang yang mengalami kecacatan adalah orang yang tidak normal, mereka adalah “orang lain” dan dianggap orang yang tidak mampu untuk melakukan sesuatu dan hanya memberatkan saja bagi orang lain. Tentu saja pengertian ini dibangun dari perspektif orang-orang yang merasa dirinya normal, karena organ tubuhnya lengkap dan tidak mengalami gangguan fungsi.

        Orang yang mengalami disabilitas adalah orang yang mempunyai kelainan fisik atau mental, tidak mempunyai kesempurnaan fungsi jiwa dan raga yang baik. Maka sepantasnya kita patut menghargai keberadaan mereka. Mereka tidak pantas disingkirkan dari kehidupan masyarakat kebanyakan, tidak boleh disisihkan, karena tujuan kaum disabilitas hanya ingin dihargai juga diberi ruang kesejahteraan, kedamaian, ketentraman, memperjuangkan hak asasi manusia demi memprioritaskan keadilan yang sepantasnya. Itulah sebabnya, kita tidak boleh memarginalkan dan mendiskriminasikan mereka, karena hal itu bisa menyakiti hati nuraninya sendiri, dan merupakan bentuk dari kekerasan yang kita lakukan kepada mereka.

           Harus kita akui, kaum disabilitas layak memiliki kehidupan seperti orang non disabilitas yang sempurna jiwa dan raga. Kaum disabilitas memang mempunyai cacat fisik maupun cacat mental.  Apa yang pantas dimiliki oleh mereka, haruslah kita rasakan dan mencoba berempati dengan terlebih dahulu berfikir bila “bagaimana kalau hal tersebut  terjadi dengan kita sendiri”. Oleh sebab itu Marilah Kita Galakkan Rasa Solidaritas Kepada Kaum Disabilitas. Berbicara menganai kekerasan, terutama terhadap perempuan, secara sederhana dapat dibagi menjadi dua bentuk, yaitu kekerasan secara fisik dan secara non fisik. Kekerasan non fisik biasanya justru memiliki kecenderungan memperkuat dan mengawali terjadinya kekerasan fisik. Kedua jenis kekerasan tersebut kemudian terjalin erat dan dapat memperjelas kekuasaan si pelaku kekerasan kepada korban.   

Para perempuan yang mengalami disabilitas ini tersandung oleh dua hal sekaligus, yaitu karena jenis kelaminnya dan ketidakmampuan fisik. Menjadi perempuan seringkali diasumsikan lemah, pasif dan tergantung  kepada orang lain. Sifat-sifat yang lekat pada perempuan ini cocok dengan sifat-sifat disabilitas.  Dalam ranah gender maupun dalam kecacatan, seorang perempuan penyandang disabiltas mendapatkan label “lemah dan pasif”. Sehingga dalam kehidupannya perempuan disabilitas ini mengalami diskriminasi ganda. Lebih tragisnya lagi selain mereka mengalami diskriminasi ganda mereka juga seringkali menjadi korban kekerasan yang makin membuat mereka semakin mengalami hambatan untuk mengaktualisasikan potensi diri mereka secara wajar.

Ada dua dimensi kekerasan yang dialami oleh para perempuan disabilitas, yakni dimensi kekerasan tidak langsung, yaitu kekerasan yang Built-in dalam suatu struktur sosial (Violence as structur), struktur sosial inilah yang menciptakan diskriminasi dan marginalisasi terhadap permpuan disabilitas. Yang kedua adalah dimensi kekerasan langsung yang dapat diartikan sebagai suatu kekerasan yang dilakukan oleh satu atau sekelompok pelaku kepada pihak lain. Kekerasan terhadap perempuan, apalagi terhadap perempuan yang mengalami disabilitas sulit sekali untuk diungkap. Terutama pada kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan disabilitas menjadi fakta bisu (silence) dan seakan tersembunyi dalam sebuah tabir yang sulit sekali terkuak. Peristiwa kekerasan terhadap perempuan oleh sebagian besar masyarakat umum masih saja dipandang bukan sebagai bentuk kekerasan yang serius, dan bahkan perempuan seringkali justru di tuduh sebagai pihak yang memancing tindakan kekerasan. Laki-laki sebagai pelaku tindakan kekerasan menjadi pihak yang mendapat permakluman karena terprovokasi oleh gaya dan prilaku perempuan.

          Lebih memperihatinkan lagi, kekerasan terhadap perempuan disabilitas bahkan dianggap tidak pernah terjadi. Masyarakat memahami bahwa perempuan disabilitas adalah aseksual dan tidak atraktif, jadi tidak mungkin menjadi obyek kekerasan seksual atau mendapat serangan seksual. Masyarakat juga sering salah memahami bahwa kecacatan fisik sama artinya dengan kecacatan mental, sehingga mengira perempuan yang mengalami disabilitas juga tidak bisa memahami suatu kejadian. Prasangka seperti ini seringkali menjadi pemicu bagi pelaku kekerasan terhadap perempuan yang mengalami disabilitas, karena disangka lebih mudah ditipu, atau diperlakukan sekehendak hatinya tanpa perlawanan, karena dianggap tidak menyadari apa yang terjadi.

Dalam kondisi kehidupan masyarakat seperti ini, perempuan yang mengalami disabilitas lebih rentan terhadap tindakan kekerasan baik kekerasan fisik, seksual maupun kekerasan psikologis, baik dilingkungan rumah tangga maupun di lingkungan tempat mereka tinggal. Kekerasan tidak hanya dilakukan oleh pasangan dan terjadi dalam lingkungan rumah tangga, namun juga dari orang–orang  yang  mempunyai relasi dekat dengan perempuan disabilitas di berbagai tempat seperti di kelembagaan, pusat rehabilitasi, rumah sakit, tempat dia bekerja maupaun ruang sosial lainnya dimana perempuan yang mengalami disabilitas berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain secara intens.

Namun sebagaimana kasus yang terjadi pada perempuan, kekerasan terhadap perempuan yang mengalami disabilitas sangat sulit utuk diungkap. Hal ini juga terjadi di negara-negara maju yang sudah mempunyai prosedur penanganan yang sangat memadai terhadap kasus-kasus kekerasan. Sebuah investigasi hanya dapat mengungkap 20% dari kasus kekerasan terhadap perempuan yang mengalami disabilitas, selebihnya masih menjadi fenomena gunung es. Meski kenyataannya demikian, sebagai sesama manusia kita wajib membantu para perempuan  disabilitas yang mengalami kekerasan ini. Sebisa mungkin kita menyelamatkan mereka dari kekerasan, baik kekerasan fisik maupun kekerasan verbal. Karena pada dasarnya kekerasan yang terjadi pada perempuan disabilitas ini sedikit banyaknya dapat menjadi faktor penghambat bagi mereka untuk mengaktualisasikan potensi diri yang mereka miliki.

Berdasarkan hal tersebut di atas dapat dikatakan bahwa kekerasan terhadap perempuan disabilitas membawa implikasi terhambatnya proses aktualisasi potensi diri mereka secara wajar. Implikasi lebih jauh dari kondisi ini adalah semakin terhambatnya upaya rehabilitasi terhadap perempuan disabilitas korban kekerasan. Sehingga menjadi sangat penting untuk membongkar atau menyibak tabir kekerasan yang dialami oleh para perempuan disabilitas korban kekerasan agar mereka mampu mengaktualisasikan potensi diri mereka secara wajar. Sebagaimana menurut Johan (2003) bahwa penghalang tersebut adalah sesuatu yang dapat dihindarkan, artinya kekerasan dapat dihindarkan atau disingkirkan sehingga para perempuan disabilitas tersebut dapat mengembangkan dirinya sebagai manusia dalam suatu struktur yang inklusif. Karena pada dasarnya, perempuan disabilitas juga makhluk Tuhan yang memiliki hak yang sama dengan manusia normal lainnya. Mereka berhak terbebas dari stigma negatif masyarakat, mereka juga berhak dari kekerasan dan pastinya mereka memiliki hak untuk mengembangkan dan mengoptimalkan potensi diri dengan cara mengaktualisasikannya.

Oleh : Hanny Susanty

 

 



Bagikan :