Refleksi Hari Anak Internasional : Pendididkan Berbasis HOTS (High Order Thinking Skill) yang Berasaskan Keadilan Sosial untuk Kualitas Anak Indonesia yang Berdaya Saing Internasional

Refleksi Hari Anak Internasional : Pendididkan Berbasis HOTS (High Order Thinking Skill) yang Berasaskan Keadilan Sosial untuk Kualitas  Anak Indonesia yang Berdaya Saing Internasional


Setiap tahun tepat tanggal 1 Juni diperingati sebagai hari anak Internasional, pada tanggal ini dijadikan momentum oleh berbagai pihak untuk memberikan edukasi kepada siapapun tentang hak anak serta pentingnya dalam mengupayakan pemenuhan atas hak-hak tersebut. Sebuah pepatah menyebutkan bahwa masa depan yang cerah berasalah dari kualitas anak muda saat ini. Melalui pernyataan ini kita dapat belajar bahwa apabila kita menginginkan tatanan kehidupan yang berkualitas dengan perkembangan arus teknologi informasi yang baik dan didukung dengan nilai moral dan budaya yang terjaga maka diperlukan kualitas anak-anak yang baik.

 

Kualitas anak yang baik tentu dengan mempertimbangkan keseimbangan antara hak serta kewajiban dari anak tersebut. Sebagai pihak yang dalam proses perkembangan tentu anak memerlukan kebutuhan atau asupan baik bersifat material maupun non material yang berkualitas untuk menunjang kualitas anak yang sesuai dengan apa yang diharapkan. Salah satu upayanya adalah dengan memenuhi hak dari anak tersebut. Menurut Unicef terdapat empat hak utama dari anak yakni hak hidup, hak tumbuh dan berkembang, hak dilindungi dan hak partisipasi.

 

Saat ini posisi anak Indonesia seolah berada di posisi yang kurang baik karena harus berhadapan dengan situasi yang kurang baik, karena mengalami ancaman serius atas bullying, buta aksara, anak jalanan, anak terlantar putus sekolah serta angka literasi yang rendah. Kondisi ini seolah mendeskripsikan secara jelas bahwa terjadi situasi yang kurang ideal di tengah anak Indonesia yang notabennya ujung tombak pembangunan Indonesia kedepannya. Pada kasus-kasus tersebut menggambarkan kondisi dimana anak Indonesia menghadapi situasi dilematis, terlebih dalam mengahadapi persaingan Internasional, oleh karena itu salah satu alat terbaik untuk mengatasi permasalahan ini tentu Pendidikan yang berkualitas.

 

Pendidikan Indonesia saat ini menghadapi sebuah permasalahan, yakni adanya kesenjangan Pendidikan antara wilayah perkotaan dan perdesaan, hal ini sebagaimana yang tergambarkan dalam laporan Potret Pendidikan Indonesia yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2017. Buku laporan tersebut memberikan gambaran data yang cukup variatif, beberapa data yang diperoleh dapat terlihat sebagaimana pada tabel 1 berikut ini.

 

 

 

Tabel 1 Kesenjangan Pendidikan Di Wilayah Perkotaan dan Perdesaan

                                                                      Wilayah

 

Aspek

Wilayah Perkotaan

(%)

Wilayah Perdesaan

(%)

Angka Kesiapan Sekolah

79.74%

69.31%

Partisipasi Murni PAUD (Usia 3-5)

33.46%

29.44%

Partisipasi Murni PAUD (Usia 3-6)

36.06%

30.68%

Partisipasi Perguruan Tinggi

24.49%

11.03%

Akses Internet Siswa

51.78%

28.44%

Sumber: BPS. Statistik Pendidikan 2017: Potret Pendidikan Indonesia. 2017

 

Kesenjangan antara daerah perkotaan dan perdesaan ini tentu juga semakin diperparah dengan diterbitkannya peringkat negara berdasarkan kemampuan anak Indonesia khususnya pada bidang matematika, pengetahuan, dan membaca. Pada kesempatan tersebut Indonesia memperoleh peringkat 72 dengan nilai 379 untuk bidang matematika, sementara untuk membaca nilainya 371 dan bidang saintifik yang memporeleh nilai 396 (PASI, 2018). Selain itu dalam paparannya pada salah satu seminar yang dilaksanakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Nadiem Makarim menyebutkan juga bahwa salah satu yang menjadi tantangan Pendidikan Indonesia adalah kesenjangan dari sisi kualitas sumber daya manusia antar satu wilayah dengan wilayah yang lain lebih khususnya adalah wilayah perkotaan dan perdesaan.

 

Data di atas tentu sangat kontradiktif dengan fakta dimana siswa Indonesia sering memperoleh medali emas pada setiap kesempatan olimpiade sains internasional. Kondisi inipun memberikan gambaran lain, khususnya mengenai kesenjangangan Pendidikan yang besar pada masyarakat Indonesia, dimana kualitas Pendidikan yang baik tentu memiliki konsekuensi harga yang mahal, sehingga akses Pendidikan yang baik tersebut, hanya mampu diperoleh oleh orang yang mampu membayar mahal biaya Pendidikan, dimana sebagian besar merupakan masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan.

 

Kondisi di atas tentu berseberangan dengan tujuan dibentuknya negara Indonesia sebagaimana yang tercantumkan dalam pembukaan maupun Pancasila yakni mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. keadilan sosial dapat juga diartikan sebagai sebuah kesamaan kesempatan bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk mengakses segala sumber dalam rangka mencapai kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia sebagai tujuan utama dari terbentuknya negara Indonesia. Salah satu unsur dari upaya mencapai kesejahteraan tentu adalah Pendidikan.

 

Pendidikan merupakan salah satu alat yang paling efektif untuk dapat menciptakan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia hal ini dapat terlihat dari masuknya Pendidikan sebagai salah satu indikator dalam indeks pemnbangungan manusia bersama ekonomi dan kesehatan. Adapun tujuan dari Pendidikan sebagaimana yang dipercayai oleh Indonesia berdasarkan Undang-Undang No. 2 Tahun 1985 yang mengatakan bahwa tujuan dari Pendidikan merupakan pola pikir dalam hidup berbangsa dan membentuk anak menjadi sosok yang berkualitas melalui peningkatan nilai-nilai toleransi, memiliki ilmu pengetahuan, aktif dan bertanggung jawab terhadap bangsa.

 

Perkembangan teknologi saat ini memasuki fase dimana perkembangannya terjadi begitu cepat. Perkembangan inipun dibarengi juga dengan peningkatan kemampuan anak dalam mengakses teknologi tersebut. salah satu bidang teknologi yang perkembangannya sangat terlihat adalah teknologi infomasi. Melalui teknologi informasi, anak diberbagai wilayah memiliki kesempatan untuk mengakses sumber informasi yang begitu banyak dan dapat diakses dalam jaringan internet. Berdasarkan defisininya teknologi infomasi merupakan alat yang digunakan untuk membantu pekerjaan informasi serta melakukan tugas ataupun pekerjaan yang berhubungan dengan proses informasi itu sendiri (Haag dan Keen, 1996). Terlebih menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Lazar Stosic pada tahun 2015, menyebutkan bahwa teknologi Pendidikan memiliki tiga hal utama yang dapat digunakan yakni, teknologi sebagai tutor, sebagai alat pengajar, dan sebagai alat belajar.

 

Melalui definisi tersebut tergambarkan bahwa teknologi informasi merupakan salah alat yang sesungguhnya memiliki peran penting dalam upaya penyediaan Pendidikan yang berkualitas bagi anak sekaligus membentuk anak yang berkualitas dan dapat dengan mudah diakses.  Lebih lanjut lagi, saat ini menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) jumlah pengguna internet Indonesia sampai tahun 2019 mencapai 171,17 juta jiwa atau sekitar 64.8% dari total jumlah penduduk Indonesia, angka ini terus meningkat dari tahun 2017 yang hanya mencapai 54.86%. Data ini memperlihatkan bahwa saat ini treknologi informasi khususnya internet telah masuk ke masyarakat Indonesia dan lebih dari setengah penduduk Indonesia telah ‘melek” atas hal tersebut.

 

Sementara itu adanya ketimpangan Pendidikan jelas akan sangat mempengaruhi cara ataupun gaya anak dalam menggunakan ataupun menyaring informasi yang begitu bebas di jaringan internet terbut. Kondisi ini jelas bukan hanya akan memberikan resiko kerugian pada individu ataupun kelompok tertentu, melainkan seluruh elemen bangsa, karena adanya ketimpangan antara akses informasi yang sangat cepat namun tidak dibarengi dengan perkembangan cara berpikir dan kerangka berpikir masyarakat yang notabennya dapat dihasilkan melalui Pendidikan yang berkualitas dan merata bagi seluruh rakyat Indonesia.

 

Salah satu contoh dampak dari ketimpangan Pendidikan dapat terlihat dari bagaimana masyarakat kita sat ini masih kesulitan untuk merespon secara tepa tatas berbai informasi yang salah atau hoax. Hal ini sekali lagi dikarenakan Pendidikan memberikan kesempatan untuk membentuk kerangka berpikir dan cara berpikir kritis. Oleh karena itu perlu adanya tindakan melalui program dengan melibatkan pendekatan secara komprehensif yang dapat digunakan melalui pemanfaatan kehadiran internet atas Pendidikan yang berkualitas dan meratas bagi seluruh rakyat Indonesia yang tentu dengan tetap memperhatikan kekuatan gotong royong masyarakat Indonesia yang sampai saat ini menjadi kekuatan dari masyarakat Indonesia.

 

Berdasarkan kondisi yang disajikan di atas maka diperlukan sebuah langkah konkrit untuk dapat memastikan kualitas pendidikan sejalan juga dengan akses atas sumber Pendidikan tersebut oleh seluruh anak Indonesia. Berdasarkan hasil pengajian yang dilakukan sebagaimana di atas, maka ada beberapa unsur yang dapat menjadi solusi untuk permasalahan ini dapat dikombinasikan melalui program Community E-Du Action dan hal ini dapat digambarkan seperti gambar di bawah ini.


Gambar 1: Variabel Community E-Du Action

 

Community E-Du Action merupakan sebuah program pembelajaran dengan melibatkan komunitas dalam sebuah sistem yang terintegrasikan dengan teknologi dan mampu untuk diakses oleh siapapun melalui aplikasi. Pada program ini pembelajaran yang diberikan berbasis pada kearifan lokal dan mengusung tema utama Pendidikan berbasis teknologi dan beroritenasikan high order thinking skill. Adapun variabel yang menjadi unsur penting dari terbentuknya Community E-Du Action sebagaimana yang diterdapat pada gambar di atas terbagi atas dua yakni primer aspect dan secondary setting, primer setting terdiri dari teknologi, pendidikan, keadilan sosial dan HOTS sedangkan secondary aspect terdiri atas aksesibel, locality oriented, subsidi, pendampingan, kelompok dukungan sebaya, infrastruktur, dan toleransi. Pada gambar di atas diperoleh informasi bahwa seluruh aspek yang menjadi bagian dari Community E-Du Action memiliki keterkaitan antara satu sama lainnya, dengan kata lain argumentasi terbentuknya primer aspect adalah secondary aspect itu sendiri. Penjelasan atas variabel ataupun aspek di atas adalah sebagai berikut:

 

Teknologi

Pada aspek teknologi yang dimaksudkan disini adalah program ini melibatkan teknologi terbarukan yang berfungsi untuk dapat mempermudah proses pembentukan materi, distribusi sekligus evaluasi dan monitoring. Salah satu contoh spesifikasi teknologi yang digunakan adalah dengan pelibatan teknologi jaringan 5G yang akhrinya mampu untuk memberikan kecepatan arus informasi dan data yang lebih baik.

 

Pendidikan

Program ini merupakan sebuah program Pendidikan yang memberikan kesempatan kepada masyarakat secara luas untuk dapat menemukan komunitas yang sesuai dengan fokus mereka masing-maisng sehingga dapat belajar bersama melalui sebuah sistem teknologi terbarukan.

 

Keadilan Sosial

Pada program ini keadilan sosial berarti setiap anak Indonesia memiliki hak untuk dapat mengakses program ini dengan atau tanpa memerhatikan latarbelakang dari masyrakat tersebut dan tentunya dengan semangat inklusifitas demi pemerataan kualitas SDM yang tentunya dimulai dari pemerataan kualitas Pendidikan yang dapat diakses.

 

HOTS (High Order Thinking Skill)

Program ini menitikberatkan pada high order thinking skill dimana pada program ini anggota dari komunitas tersebut diajak untuk dapat bersama-sama mebahasa secara aktif terhadap satu isu ataupun pembelajaran. Hal ini bertujuan untuk dapat membentuk anggota yang lebih inovatif dengan mampu produktif dan menghasilkan produk yang inovatif.

 

Selain itu untuk secondary aspect lebih jelasnya, setiap aspek memiliki penjelasan sebagai berikut:

 

Aksesibel ini berarti bahwa program ini dapat diakses oleh seluruh anak Indonesia yang didukung baik dari sisi teknologi, Pendidikan, keadilan sosial dan materi yang berbasis high order thinking skill.

 

Locality Oriented ini berarti dalam pelaksanaannya program ini akan sangat menitikberatkan pada nilai-nilai yang dipercayai oleh masyarakat lokal, sehingga diharapkan perkembangan Pendidikan anggota mampu untuk memperkuat eksistensi dari nilai-nilai luhur yang telah ada dalam masyarakat tersebut. sehingga diharapkan anak Indonesia kedepan mampu untuk mempertahankan nilai-nilai luhur tersebut, bahkan mampu mengangkat nilai ini menjadi sebua pembeda Indonesia dalam mengahadapi kompetisi Internasional yang semakin terbuka dan kompleks.

 

Subsidi ini berarti pelaksanaan program ini merupakan salah satu bukti kuat dari pemerintah untuk mendukung Pendidikan yang inklusif, sehingga diperlukan kontribusi dari pemerintah untuk dapat mengakomodasi subsidi dalam pelaksanaan dari program tersebut. harapannya adalah orang tua dari anak Indonesia tidak perlu mengeluarkan dana terlalu besar untuk terlibat dalam program ini.

 

Pendampingan ini artinya dalam pelaksanaan program, diperlukan sebuah pendampingan yang diberikan dari pihak yang memahami betul tujuan program untuk dapat memastikan adanya keberlanjutan dampak dari program ini dimasyarakat, sehingga program ini tidak hanya bersifta hit and run.

 

Kelompok Dukungan ini berarti perlu dibentuknya kelompok dukungan yang dapat berfungsi sebagai lingkungan yang bertujuan untuk melakuakn pengawasan terhadap pelaksanaan program dan juga menjaga stabilitas motivasi dari setiap anggota program untuk dapat memiliki dampak yang berkelanjutan dalam proses pembelajaran.

 

Infrastruktur ini artinya diperlukan juga infrastruktur yang baik seperti adanya pembangunan fasilitas jaringan internet, penyediaan ruang terbuka hijau yang menyediakan fasilitas internet dan tentunya ruang publik yang baik dan dapat digunakan untuk kegiatan pertemuan secara rutin dari program ini.

 

Inklusifitasi ini artinya platform ini bertujuan untuk dapat menyediakan wadah pembelajaran bagi seluruh anak Indonesia khususnya dalam peningkatan kemampuan berpikir kritis melalui teknologi dan kurikulum yang belandaskan high orger thinking skill.

 

Selain itu untuk dapat merealisasikan program ini maka tahapan yang harus dilaksanakan adalah sebagai berikut:




 

Gambar 2: Tahapan Pelaksanaan Program

Adapun untuk memaksimalkan program ini maka perlunya sinergitas antar berbagai pihak dalam upaya tersebut. oleh karena itu diperlukan pemetaan stakeholder, melalui stakeholder mapping berikut ini :

 


Gambar 3: Stakeholder Mapping

Gambar di atas menunjukkan terdapat tiga pilar utama stakeholder sebagai kunci penyelenggaraan program ataupun platform ini yakni, pemerintah, masyarakat dan perusahaan sebagai pihak yang memiliki peran penting untuk memaksimalkan dampak dari Community Electronic Education (E-Du) Action. Kekuatan dimasing-masing pihak harus baik dimulai dari bonding atau kekuatan secara internal yang akan mengantaran pada briding yakni kekuatan dalam membangun sinergitas lintas pihak.

 

Community Electronic Education (E-Du) Action, merupakan sebuah program atau platform yang digunakan untuk meningkatkan kualitas Pendidikan anak Indonesia secara menyeluruh. Berbasis empat hal penting yakni, teknologi, pendidikan, keadilan sosial dan High Order Thinking Skill (HOTS). Platform ini mengupayakan dan memperisiapkan anak Indonesia dalam menghadapi kompetisi terbuka secara Internasional untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dengan mengambangkan kerangka berpikir dan menciptakan ide yang inovatif, sekaligus memutuskan pilihan terbaik yang ada dalam kehidupannya secara efektif dan efisien.


ditulis oleh : Alfrojems

 

DAFTAR PUSTAKA

Harususilo, Yohanes Enggar. 2019. Skor PISA Terbaru Indonesia, ini 5 PR Besar Pendidikan pada Era Nadiem Makarim. https://edukasi.kompas.com/read/2019/12/04/13002801/skor-pisa-terbaru-indonesia-ini-5-pr-besar-pendidikan-pada-era-nadiem-makarim?page=all.

Iskandar.Liputan 6. 2018. Peran Edutech dalam Pemerataan Pendidikan di Indonesia. https://www.liputan6.com/tekno/read/3708709/peran-edutech-dalam-pemerataan-pendidikan-di-indonesia.

Pratomo, Yudha. Kompas.com. 2019. APJII: Jumlah Pengguna Internet di Indonesia Tembus 171 Juta Jiwa. https://tekno.kompas.com/read/2019/05/16/03260037/apjii-jumlah-pengguna-internet-di-indonesia-tembus-171-juta-jiwa.

RomaDecade. 2019. Pengertian Pendidikan. https://www.romadecade.org/pengertian-pendidikan/#!.

Stosic, Lazar. 2015. The Importance of Educational Technology in Teaching. (IJCRSEE) International Journal of Cognitive Research in Science, Engineering and Education. Vol. 3, No.1, 2015.

Pemerintah Republik Indonesia. 1985. Undang-Undang Nomor 02 Tahun 1985 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1969 Tentang Susunan Dan Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sebagaimana Telah Diubah Dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1975


Bagikan :