Produktivitas Lansia di Jepang

Produktivitas Lansia di Jepang



Sumber Foto: https://japanesestation.com/lifestyle/life-relationship/lansia-di-atas-70-tahun-mencapai-jumlah-2618-juta-di-jepang

 

Sutomo mengatakan bahwa produktivitas mengandung pengertian yang berkenaan dengan konsep ekonomis, filosofis dan sistem. Konsep ekonomis, produktivitas berkenaan dengan usaha atau kegiatan manusia untuk menghasilkan barang atau jasa untuk pemenuhan kebutuhan hidup manusia dan masyarakat pada umumnya. Konsep filosofis, produktivitas mengandung pandangan hidup dan sikap mental yang berusaha untuk meningkatkan mutu kehidupan dimana keadaan hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan mutu kehidupan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Hal inilah yang memberikan dorongan untuk berusaha dan mengembangkan diri. Konsep sistem, memberikan pedoman pemikiran bahwa pencapaian suatu tujuan harus ada kerjasama atau keterpaduan dari unsur-unsur yang relevan sebagai sistem.

 Jepang merupakan salah satu negara dengan tingkat usia harapan hidup tertinggi di dunia. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, angka rata-rata harapan hidup penduduk Jepang mencapai 83,7 tahun, jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan Indonesia yang hanya mencapai 69,1 tahun. Usia harapan hidup wanita Jepang lebih tinggi lagi yaitu sekitar 86,8 tahun. Jepang termasuk negara maju yang sangat memperhatikan kesehatan serta kesejahteraan masyarakatnya sehingga wajar jika warga Jepang memiliki angka harapan hidup tertinggi di dunia.

Angka harapan hidup yang tinggi tersebut, ternyata disertai dengan rendahnya jumlah kelahiran, sehingga distribusi penduduk Jepang pada tahun 2050 akan berbentuk piramida terbalik. Hal ini mengandung makna bahwa populasi penduduk lanjut usia (lansia) Jepang jauh lebih banyak daripada kelompok usia lainnya pada tahun 2050 nanti. Dengan piramida terbalik ini, beban pemerintah dan warga Jepang usia produktif, akan sangat besar untuk memenuhi kebutuhan pensiun dari para lansia.

Besarnya jumlah lansia di Jepang, membuat mereka hidup layaknya seperti orang-orang di usia produktif. Usia penduduk 80 tahun di Jepang, bisa tampak seperti usia 60 tahun di negara lainnya. Sopir taksi ataupun bus kota di Jepang, banyak yang berusia lanjut. Pekerja seperti petugas keamanan, kebersihan, ataupun pelayan di rumah makan juga banyak diisi oleh pekerja lansia.Para lansia di Jepang bekerja paruh waktu untuk mengisi waktu luangnya. Ketika usia masih muda, mereka gunakan waktunya untuk bekerja di kantor, sementara hari tua diisi dengan kerja paruh waktu. Namun banyak juga lansia Jepang yang masih tetap bekerja di tempat yang sama seperti sebelum mereka pensiun.

Komposisi lansia yang sudah terlalu banyak dibanding usia muda (produktif), berimbas pada beban anggaran pemerintah untuk memberikan jaminan sosial bagi para lansia. Tidak hanya itu, pajak penghasilan usia produktif juga semakin meningkat karena digunakan untuk mensubsidi kehidupan para lansia yang dibayarkan lewat tunjangan pensiunnya. Namun meskipun hidup dengan subsidi, bekerja bagi para lansia Jepang tetaplah menjadi sebuah spirit yang tidak dapat dihilangkan. Untuk melepas rasa kesepian, lansia Jepang seringkali mencari pekerjaan tambahan.

Pemerintah Jepang juga tidak memberikan batasan usia bagi para lansia ini untuk terus berkarya, membuka usaha sendiri atau bekerja paruh waktu pada perusahaan, tidak membeda-bedakan mereka dari kelompok umur lainnya. Banyak lansia Jepang yang memasuki masa pensiun berkumpul untuk membuat perusahaan yang kebanyakan bergerak di bidang konsultansi dengan memanfaatkan pengalaman semasa bekerja. Ada juga yang menjadi relawan sebagai ahli (silver expert) yang dikirim mewakili JICA (Japan International Coorporation Agency) ke negara-negara berkembang.Ada pula yang bekerja kembali di yayasan seperti JASS (Japan Association of Second-life Service) dengan berbagai kegiatan seperti menyelenggarakan seminar tentang pembelajaran hidup, berdiskusi dengan orang asing mengenai budaya, atau mengadakan kelas-kelas untuk memperdalam hobi.

Faktor yang mempengaruhi perusahaan Jepang mempekerjakan lansia yang sudah pensiun Masalah kekurangan tenaga kerja yang dialami Jepang saat ini membuat pekerja senior/lansia memegang peran kunci terhadap masa depan ekonomi Jepang. Jika kekurangan tenaga kerja dari kelompok usia muda dan usia pertengahan muncul sebagai hasil dari menurunnya angka kelahiran, maka pertumbuhan ekonomi Jepang akan banyak bergantung pada pekerja lansia. Oleh karena itu, pekerja lansia diharapkan dapat tetap mengisi sektor ketenagakerjaan Jepang di kemudian hari.

Kemampuan untuk mendukung kelompok pekerja lansia ini bergantung pada cara pemerintah mempertahankan angka partisipasi pekerja lansia di sektor ketenagakerjaan. Kebijakan abenomics yang dikeluarkan oleh pemerintah Jepang tidak hanya melibatkan penguasa dan pekerjanya saja, namun pihak penting lain yang terlibat adalah pihak pemberi kerja, yakni perusahaan Jepang. Kebijakan pemerintah tidak akan berjalan dengan baik tanpa dukungan pihak perusahaan. Oleh karena itu, bertahun-tahun sebelumnya sosialisasi mengenai kebijakan pengkaryaan kembali pekerja lansia terus dilakukan.

Dikaryakannya kembali pekerja lansia meski telah mencapai usia pensiun,menurut hasil penelitian Sakariah (2015) didorong oleh faktor-faktor tertentu dari pihak-pihak yang terkait di dalamnya. Faktor tersebut diantaranya adalah :

·       Meningkatnya angka harapan hidup Terdapat alasan mengapa perusahaan Jepang memutuskan untuk mengkaryakan pekerja senior/lansia meskipun telah mencapai usia pensiun. Alasannya yaituratarata usia harapan hidup orang Jepang saat ini adalah 80 tahun. Jika seseorang pensiun di usia 60 tahun mereka memiliki waktu 20 tahun, waktu yang panjang bagi mereka untuk menjalankan kehidupan. Mereka masih memiliki semangat dan keinginan untuk bekerja, sehingga perusahaan manufaktur Jepang memutuskan untk merekrut orang yang cerdas hingga umur 65 tahun.

·       Himbauan Pemerintah Jepang kepada masyarakat

Undang-Undang mengenai tindakan stabilisasi ketenagakerjaan pekerja senior yang bertujuan untuk menyediakan lingkungan kerja bagi pekerja senior sehingga mereka dapat terus bekerja sesuai dengan motivasi dan kemampuan mereka masing-masing. Untuk itu, pemerintah menghimbau kepada perusahaan-perusahaan Jepang untuk mengkaryakan kembali pekerja senior paska pensiun di perusahaannya. Kebijakan ini mendorong banyak perusahaan untuk mencoba mengkaryakan kembali pekerja seniornya sehingga rencana pemerintah untuk mewajibkan usia pensiun pada usia 65 pada tahun 2050 dapat terlaksana.

·       Produktivitas perusahaan Perusahaan manufaktur merupakan perusahaan yang bekerja di bidang pembuatan atau pengolahan bahan mentah menjadi bahan jadi. Perusahaan yang bergerak dalam bidang ini, selain mengutamakan keuntungan, juga dalam proses produksinya sangat mengandalkan penguasaan teknik, ide, dan memperhatikan detail dalam membuat produk-produk mereka sehingga mereka membutuhkan keahlian untuk mengerjakannya.

·       Transfer keahlian Dalam perusahaan manufaktur Jepang, selain penting untuk menjaga produktivitas dalam pencapaian target perusahaan, penting juga bagi perusahaan untuk menjaga ketersediaan sumber daya manusia maupun teknologi dengan tingkat kualitas yang baik. Sumber daya manusia dalam hal ini berkaitan dengan kemampuan para pekerja di perusahaan dalam menyelesaikan pekerjaan.

·       Gaji dan kontrak kerja sebagai faktor yang dipertimbangkan perusahaan Faktor lain yang mempengaruhi dikaryakannya kembali pekerja lansia setelah pensiun adalah gaji yang diberikan serta status pekerja lansia yang berupa kontrak. Kontrak bagi pekerja lansia paska pensiun adalah kontrak yang diperbaharui dengan melihat kondisi-kondisi tertentu, misalnya kesehatan dan kemampuan bekerja. Sebenarnya usia wajib pensiun adalah umur 60 tahun. Kemudian perusahaan memiliki kontrak tahunan, dan jika lansia bekerja dengan baikmaka pekerja lansia akan dikontrak kembali pada tahun berikutnya. Perusahaan manufaktur Jepang menerapkan 5 kali kontrak.

Masalah penanganan lansia menjadi salah satu topik penting di Negeri Sakura. Mulai pengelolaan dan pembagian dana pensiun untuk mereka hingga penyediaan rumah-rumah jompo dalam jumlah banyak. Jepang juga mengimbau perusahaan-perusahaan di negaranya tetap mempekerjakan para lansia itu meskipun tidak full time lagi. Lansia Jepang lebih suka tinggal terpisah dari anak-anaknya setelah anak-anak mereka sudah memiliki keluarga masing-masing.

            Membidik pemaparan diatas dapat dikatakan Lansia di Jepang porduktivitas dalam melaksanakan kehidupan sehari-hari masih tetap dapat dilaksanakan sebagaimana umur produktif, mayoritas mereka masih mampu melaksanakan kegiatan secara mandiri.

 

Oleh : Yosi Ermalena

 

 

Sumber Referensi:

1.     Jurnal Sains Manajemen Volume 5 No 2 Desember 2019

2.     https://www.jawapos.com/opini/sudut-pandang/16/01/2017/membidik-lansia-jepang/                                                

 

                                                                                     


Bagikan :