Problematika Kehidupan Lansia di Jepang dan Model Penanganannya

Problematika Kehidupan Lansia di Jepang dan Model Penanganannya

 

Pendahuluan

Sebagai sebuah negara maju dengan mayoritas masyarakatnya bergaya hidup sehat ditopang dengan lingkungan yang bersih dan teknologi pengobatan yang mutakhir, tidak mengherankan jika Negeri Matahari Terbit Jepang memiliki banyak penduduk yang berumur panjang. Bahkan apabila dibandingkan dengan negara-negara lain, Jepang merupakan salah satu negara yang memiliki umur paling panjang. Berdasarkan data dari pemerintah Jepang, para lansia atau yang berusia di atas 60 tahun di Negeri Matahari Terbit di tahun 2020 berjumlah 36,17 juta orang, naik 300.000 orang dari tahun sebelumnya (Kyodo News).

Di Jepang, orang yang berusia lanjut dinamakan koureisha atau koureika. Istilah lansia secara resmi digunakan oleh pemerintah pada tahun 1996 dalam Pokok-Pokok Kebijakan Masyarakat Lansia Jepang. Jepang memiliki banyak tradisi yang sudah melekat sejak lama yang berhubungan dengan aktivitas sehari-hari masyarakatnya, yang membuat banyaknya populasi lansia yang berumur panjang. Salah satu tradisi paling berhubungan dengan usia harapan hidup modern yang lebih panjang adalah makanan. Orang-orang yang lahir sebelum meletusnya Perang Dunia II atau saat ini sudah menginjak usia sepuh kebanyakan dari mereka tidak menyantap makanan berat, hal ini mengurangi asupan kalori dan kolesterol sehingga penyempitan pembuluh darah yang merupakan penyebab utama dari segala penyakit akan lebih sedikit terjadi. Karenanya tahun-tahun belakangan ini topik-topik yang berkaitan dengan lansia di Jepang dari belahan dunia mendapat sorotan lebih dari banyak pihak.

Selain itu meningkatnya jumlah wanita yang menempuh pendidikan tinggi dan partisipasi mereka dalam pasar kerja dianggap sebagai alasan penundaan pernikahan yang mengakibatkan terus menurunnya jumlah kelahiran. Berkat kemajuan yang dicapai dalam perawatan medis sehingga tingkat kematian juga rendah, dan ini adalah faktor lainnya yang memperpanjang angka rata-rata harapan hidup dan membuat populasi Jepang makin menua.

 

Kehidupan Lansia di Jepang dan Problematikanya

Sebelum meletusnya Perang Dunia II, usia harapan hidup orang Jepang kurang dari 55 tahun, dan masing-masing keluarga mempunyai beberapa orang anak. Sistem keluarga Jepang pada waktu itu menganut sistem keluarga besar ie. Dalam sistem ie ini, chonan, anak laki-laki tertua akan mewarisi harta warisan orang tua dan berkewajiban merawat orang tuanya di hari tua. Dibandingkan dengan kondisi perawatan lansia sebelum perang, saat ini banyak masalah yang terjadi dalam keluarga sehubungan dengan perawatan orang tua lansia di rumah. Pada masa sebelum perang, masa perawatan orang tua lebih singkat karena usia harapan hidup juga masih pendek. Selain itu, didukung oleh banyaknya jumlah anggota keluarga yang hidup bersama dalam sistem ie untuk mendukung tenaga kerja pertanian, sehinga banyak menantu menemani lansia dan merawat lansia di rumah, masalah perawatan lansia bukanlah masalah utama.

Namun kini setelah dihapuskannya sistem ie setelah perang, dalam keluarga hanya terdiri dari orang tua dan anak, dan banyaknya kaum muda yang mencari kerja ke kota membuat jumlah keluarga semakin sedikit sehingga sulit untuk mengatur siapa yang akan mengurus lansia di keluarga mereka. Meningkatnya jumlah penduduk lansia berarti meningginya usia penduduk yang tidak produktif dalam membantu perekonomian negara dan menurunnya tingkat usia produktif yang merupakan ujung tombak pembangunan negara.

Diprediksi masa depan Jepang akan dipengaruhi oleh tiga masalah demografi: tren dalam harapan hidup, pernikahan dan melahirkan anak, dan imigrasi. Rendahnya pasangan menikah dan penurunan tingkat kelahiran bayi, sementara di sisi lain laju pertumbuhan yang sangat cepat dari para lansia mulai mengancam Jepang, jika kondisi ini dibiarkan terus berlanjut dalam beberapa tahun ke depan nantinya berimbas pada berkurangnya penduduk usia produktif dan juga tenaga  kerja di  Jepang. Masalah lainnya adalah tingkat kesejahteraan yang semakin membaik membuat orang Jepang berumur semakin panjang. Menurut data terbaru Japan Statistic Bureau dikabarkan bahwa rata-rata perempuan di Jepang diperkirakan hidup sampai 87,45 tahun dan laki-laki diperkirakan hidup sampai 81,41 tahun dan diperkirakan pada 2040 mendatang, rasio lansia di Jepang mencapai dua per tiga dari total populasi. Di satu sisi ini adalah hal yang patut disyukuri, tetapi di lain hal, ini berarti semakin banyak usia penduduk yang tidak produktif yang harus didukung oleh mereka yang masih muda.

Merawat lansia atau sudah jompo memerlukan perhatian penuh, selain sudah pikun mereka juga harus terus diawasi dengan alasan keselamatannya, tetapi juga karena kondisi fisik mereka yang memerlukan perhatian khusus. Maka dari banyak keluarga yang lebih memilih menitipkan orang tua atau lansia dari keluarga mereka ke rumah lansia/panti jompo (nursing home), membawa mereka ke layanan harian untuk lansia (day service) atau pusat rehabilitasi dan rumah sakit khusus lansia. Rumah lansia adalah pelayanan untuk lansia dengan tingkat ketergantungan perawatan yang tinggi (fisik lemah), mereka tinggal di fasilitas tersebut sampai waktu yang tidak ditentukan. Pada umumnya mereka berada di rumah lansia sampai akhir hidupnya.

Adapun layanan harian lansia (day service) adalah jenis pelayanan untuk lansia yang masih aktif dan tinggal di masyarakat. lansia mendatangi pelayanan ini pada pagi hari dan pulang kembali pada sore hari. Layanan harian yang disediakan adalah perawatan dasar (pengukuran tanda-tanda vital, perawatan diri, eliminasi) dan juga sarana dan prasarana yang digunakan untuk melakukan ADL (Activity of Daily Living) pada lansia, seperti alat-alat memandikan yang ramah lansia sesuai dengan kebutuhan, maupun tempat lansia bersantai menghabiskan waktu bersama-sama teman sebaya maupun keluarga. Rumah sakit dan rehabilitasi lansia adalah jenis pelayanan perawatan akut dengan tingkat ketergantungan medis yang tinggi dimana fasilitas pelayanan kesehatan untuk lansia di tunjang oleh tim kesehatan yang bekerja secara profesional. Tim kesehatan terdiri dari dokter, perawat, caregiver, physical therapy, occupational therapy, pharmacist dan nutritionist, dll. Tim kesehatan bekerja sama dalam setiap fasilitas untuk memberikan pelayanan kesehatan yang paripurna untuk lansia.

Fasilitas pelayanan dan kesehatan yang diluncurkan Ministry of Health, Labour and Welfare Jepang sejak tahun 2000 sebagai upaya untuk mengatasi masalah peningkatan jumlah lansia dan memberikan support bagi penduduk dalam menghadapai hari tua. Walaupun panjang umur adalah sesuatu yang seharusnya patut untuk disyukuri, namun hal tersebut ternyata diikuti oleh masalah sosial seperti peningkatan jumlah pensiun dan biaya kesehatan. Hal ini tentunya akan meningkatkan beban ekonomi dan sosial yang harus ditanggung pemerintah Jepang.

 

Penutup

Memasuki masa lansia berarti memasuki masa kehidupan fisik dengan daya tahan dan fungsi yang telah menurun. Bertambah tua berarti bertambah besar pula kerentanan terhadap berbagai penyakit karna faktor usia. Meningkatnya jumlah lansia akan menimbulkan masalah pada besarnya beban tanggungan usia produktif di masa depan terhadap lansia, menurunnya partisipasi kerja, ketidakseimbangan yang dapat mengancam stabilitas pasar tenaga kerja. Panjangnya usia lansia yang berada dalam kondisi fisik yang lemah dengan nuansa yang lebih kompleks menjadi kekhawatiran akan beratnya beban yang harus ditanggung dalam menjalankan perlindungan dan perawatan terhadap kaum lansia yang berusia lebih dari 60 tahun keatas yang harus dipikul oleh seluruh masyarakat Jepang. Fenomena kehidupan lansia di Jepang memang menjadi hal yang sangat menarik untuk diulas oleh penulis yang pernah mengadakan field trip ke Negeri Matahahari Terbit dimana Pemerintah Jepang di satu pihak memang telah berhasil meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan rakyatnya yang bisa menjadi referensi dan rujukan bagi negara lainnya termasuk Indonesia dengan memberlakukan standar hidup yang tinggi sehingga penduduknya dapat hidup lebih lama, tetapi fenomena lansia dengan problematikanya mungkin tidak akan dapat diatasi dalam waktu singkat.

 

Referensi

Nipponia No. 29 (Majalah), 2004. Chooju No Kuni, Nippon”. Tokyo: Nihon Hokken.

 

Suherman, Eman. 2004. “Dinamika Masyarakat Jepang Dari Masa Edo Hingga Pasca Perang Dunia II”.Jakarta: Humaniora.

 

Yoneyama, Toshinao. “77 Keys to the Civilization of Japan” (hlmn 297-300, an Ageing Society).

 

https://english.kyodonews.net/news/2021/09/e8d7087c9447-seniors-account-for-record-291-of-japans-population.html

 

https://www.japantimes.co.jp/news/2021/09/20/national/japans-older-population-hits-record-high/

 

 

 

Penulis: Alamsyah, S.ST., S.Psi., MSW

 

·     Penyuluh Sosial Ahli Pertama Dinas Sosial Prov. Sulawesi Selatan

·     Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Kesejahteraan Sosial (STIKS) Tamalanrea Makassar

 


Bagikan :