Permasalahan Lansia di Indonesia & Upaya Penangannya

Permasalahan Lansia di Indonesia & Upaya Penangannya



Memasuki periode kehidupan lanjut usia artinya menduduki puncak dari siklus hidup manusia, periode lanjut usia merupakan periode terakhir dari siklus kehidupan manusia. Periode lanjut usia sering kali ditandai dengan menurunnya fungsi organ-organ biologis, selain itu lanjut usia identik dengan masa pensiun. Di Indonesia sendiri penduduk lanjut usia terus mengalami peningkatan jumlah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistika (BPS) dalam kurun waktu 1971-2019 struktur penduduk Indonesia terus mengalami perubahan dan mulai bergeser menuju lanjut usia (Susenas BPS).

Sementara data pada tahun 2019 menunjukkan adanya kenaikan jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia, 18 juta penduduk lansia pada tahun 2010 atau sekitar 7,56% dari total jumlah penduduk di Indonesia, tahun 2019 mengalami peningkatan menjadi 25,9 juta penduduk lansia atau sekitar 9,7% dari total jumlah penduduk di Indonesia, dan jumlah tersebut diperkirakan akan terus mengalami peningkatan pada tahun 2035 diperkirakan mencapai 48,2 juta jiwa atau sekitar 15,77% dari total jumlah penduduk di Indonesia

.

Permasalahan yang dialami oleh lanjut usia khususnya di Indonesia menurut Deputi Pemberdayaan Disabilitas dan Lansia Kementrian Koordiantor Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (2017) ada tiga yaitu :

1.     Masalah kesehatan,

Berdasarkan data riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2018, penyakit tidak menular terbanyak yang dialami oleh lanjut usia di Indonesia adalah hipertensi, masalah gigi, penyakit sendi, masalah mulut, jantung dan stroke. Penyakit menular antara lain seperti inpeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dan peneumonia.

2.     Menurunya produktivitas ekonomi,

3.     Masalah sosial

Berdasarkan data susenas pada tahun 2019 secara nasional tingkat kemiskinan pada lansia lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok umur lainnya, tingkah kemiskinan lansia di Indonesia mencapai 11,1%. Menurut BPS pada tahun 2019 rasio ketergantungan lansia terhadap penduduk usia produktif mencapai 15% yang artiya 15 orang lansia ditanggung oleh 100 orang penduduk usia produktif.

Lansia yang sudah mengalami kemunduran fisik tak banyak gerak bisa dilakukan, apalagi ketika ditimpa penyakit. Rasio ketergantungan lansia di Indonesia kepada orang muda cukup tinggi, hal tersebut dapat menjadi suatu permasalahan salah satunya muncul kekerasan terhadap orang tua atau elderly abuse seperti orang tua tidak diurus atau diterlantarkan. Berdasarkan hasil sebuah penelitan mengetakan bahwa lansia di Indonesia berada pada kelompok rentan secara ekonomi, sebanyak 6,3% lansia tinggal sendiri hal ini tentu beresiko tinggi dikarenakan kemampuan fisik, kondis kesehatan, dan perubahan mental sosial dari lansia yang cenderung terus menurun.

Hasil penelitian Bernard et.al (2018) yang dilakukan di Makasar dari 100 responden 70% diantaranya tidak aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. Masih berdasarkan hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa rendahnya partisipasi kegiatan sosial lansia disebabkan oleh terbatasnya kegiatan-kegiatan sosial di wilayah tempat tinggal lansia tersebut. Lansia yang aktif dalam kegiatan sosial memiliki persepsi terhadap kualitas hidup yang lebih tinggi.

Berdasarkan data dari badan kesehatan dunia (WHO) mengenai plan of healy aging 2020-2030 terdapat empat tujuan untuk mendukung kesejahteraan dan kesehatan lanjut usia di berbagai Negara termasuk di Indonesia, keempat tujuan tersebut adalah sebagai berikut :

1.     Kolaborasi dengan berbagai sektor untuk mendukung lansia.

2.     Mengintegrasikan berbagai layanan sosial yang berfokus pada lansia.

3.     Layanan kesehatan masyarakat yang berfokus pada lansia.

4.     Menyediakan akses untuk perawatan jangka panjang pada lansia yang mengalami permasalahan.

Bagaimana program perlindungan sosial bagi lansia di Indonesia ?

Program perlindungan pemerintah pusat yang digulirkan saat ini melalui Kementerian Sosial menyelenggarakan dua program bantuan sosial bagi lansia, yaitu :

1.     Program Bantuan Bertujuan Lanjut Usia (Bantu LU)

Program ini bertujuan unuk memberikan rehabilitasi sosial, pendampingan, dukungan teknis, dan dukungan aksesibiltas bagi lansia agar dapat memulihkan dan mengembangkan fungsi sosialnya. Sasaran dari progam ini yaitu lansia yang tinggal sendiri, bersama pasangan, baik yang potensial maupun yang tidak potensial. Program ini diberikan bukan pada lansia penerima PKH. Pada tahun 2019, besaran bantuan ini untuk setiap lansia yaitu Rp. 2.400.000 per tahun yang disalurkan melalui rekening milik lansia itu sendiri atau wali yang telah ditunjuk.

2.     PKH Komponen Lansia

Program Keluarga Harapan (PKH) sejak tahun 2016 memasukan lansia sebagai komponen penerima manfaat. Setiap KPM PKH yang memiliki anggota keluarga lansia mendapatkan tambahan bantuan dana. Lansia penerima manfaat program PKH diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup. Ada beberapa kewajiban yang harus dilakukan lansia sebagai penerima manfaat PKH diantaranya yaitu, minimal satu kali dalam satu tahun memeriksakan kesehatan, mengakses layanan home care dan day care.


 Oleh : Olvia Nursaadah

 

 


Bagikan :