Perlindungan untuk Disabilitas dari Pandemic COVID19

Perlindungan untuk Disabilitas dari Pandemic COVID19

Dunia saat ini digegerkan dengan pandemi COVID19 yang awal mulanya kasus ini muncul Di Kota Wuhan, Cina. Sudah lebih dari 200 Negara yang terjangkit pandemic COVID19 ini. Bahkan secara global, kasus yang sudah terkonfirmasi sudah lebih dari setengah juta jiwa. Virus yang penyebabnya belum diketahui ini penyebarannya sangat cepat dan masif. Penyebaran virus ini melalui kontak fisik melalui benda atau orang yang terpapar virus ini. Pemerintah Indonesia saat ini menghimbau kepada masyarakatnya untuk melakukan Social Distancing yang akhir-akhir ini berkembang menjadi Physical Distancing. Dimana kita sebagai individu wajib untuk menjaga jarak fisik dengan orang-orang yand ada di sekitar kita. 

 

            Keberagaman individu salah satunya yaitu penyandang disabilitas tingkat kerentanannya untuk terpapar lebih tinggi. Himbauan pemerintah terkait dengan physical Distancing tidak bisa serta merta diterapkan kepada difabel Karena mereka dalam kesehariannya membutuhkan pendamping dan tingkat kontak secara fisik lebih tinggi dibandingkan dengan non-disabilitas. 

 

Ragam disabilitas yang rentan terpapar antara lain  penyandang disabilitas yang memiliki keterbatasan dalam mobilitas sehari-hari, Penyandang disabilitas yang membutuhkan pendamping dan interaksi sosial dan ada pula yang harus kontak melalui sentuhan berbagai macam benda untuk mengetahui kondisi disekitarnya. Tentunya langkah yang digunakan dalam upaya penyebaran COVID ini berbeda. Yang mana peran lingkungan dinilai sangat penting untuk menekan penyebaran COVID19 pada disabilitas dan menciptakan lingkungan yang ramah, inklusif dan mengakomodir semua. 

 

Kementerian sosial dalam hal ini yang menjadi salah satu leading sector terkait dengan penyandang disabilitas meluncurkan Pedoman Perlindungan Kesehatan dan Dukungan Psikososial Terhadap Penyandang Disabilitas Sehubungan dengan Terjadinya Wabah COVID19. Salah satunya yaitu dengan mengatur layanan Lembaga Rehabilitasi Sosial yang Inklusif Bagi Penyandang disabilitas diantaranya :

1. Menyediakan layanan informasi dan komunikasi yang ramah bagi penyandang disabilitas seperti menyediakan media yang bisa diakses oleh netra misalnya website bicara, pemberitaan menggunakan teks /subtitle, tenaga medis yang memahami Bahasa isyarat atau disediakan interpreter untuk berkomunikasi, pesan dan tips mengenai COVID dibuat sederhana agar mudah dipahami oleh ragam disabilitas intelektual. 

2.  Apabila ada pendamping yang perlu dikarantina, tetap memastikan untuk memberikan dukungan lanjutan kepada penyandang disabilitas. 

3. Seluruh elemen masyarakat harus memberikan dukungan kepada penyandang disabilitas apapun kondisinya khususnya ketika pendamping dalam masa karantina. 

4. Penyandang Disabilitas dan pendamping harus dilibatkan dalam semua tahap penanganan COVID19. 

 

Selain itu, hal yang paling penting lagi adalah dukungan secara psikologis dan mental bagi penyandang disabilitas. Beberapa hal yang bisa dilakukan antara lain : 

1. Memberikan informasi rinci dan jelas mengenai COVID-19 tentang bagaimana penularan dan cara pencegahannya dengan memperhatikan kebutuhan dan metode komunikasi pada ragam disabilitas.

2.     Dorong Penyandang disabilitas untuk melakukan konsultasi dengan pendamping apabila  mengenai COVID19. 

3.     Bimbingan Penyandang Disabilitas agar saling mendukung satu sama lain yang terpapar COVID19.

     4.  Kerjasama dengan petugas kesehatan lembaga/ pekerja sosial.

Bagikan :