Perempuan dan Bencana : Menelisik Benang Merah Peran Perempuan Dalam Mitigasi Bencana

Perempuan dan Bencana :  Menelisik Benang Merah Peran Perempuan Dalam Mitigasi Bencana


Letak geografis dan geologis Indonesia menjadikan wilayah-wilayah Indonesia rawan terhadap berbagai jenis bencana. Secara geologis wilayah negara Indonesia berada dalam area yang tidak stabil, karena terletak di atas lokasi yang dikenal dengan istilah “ring of fire”. Lokasi ini berupa sebuah zona pertemuan lempeng-lempeng bumi dan dikelilingi oleh gunung berapi yang mengepung cekungan Samudra Pasifik sehingga sangat rawan terjadi bencana, baik gempa bumi  maupun letusan gunung berapi.

Selain bencana alam yang disebabkan oleh posisi geologis Indonesia, bencana alam lain yang sering terjadi adalah tsunami, angin topan, banjir, tanah longsor dan kekeringan. Bencana yang ditimbulkan oleh ulah negatif manusia antara lain kegagalan teknologi, konflik sosial, kebakaran hutan dan lahan. Selain itu, bencana yang sejenis antara lain kecelakaan transportasi umum, pertentangan antar etnis dan kepercayaan yang dikenal dengan konflik  SARA. Bencana jenis lainnya adalah bencana yang berkaitan dengan kesehatan, baik yang merupakan dampak langsung dari bencana alam atau yang terkait dengan wabah penyakit menular atau penyakit-penyakit katastropik serta penyakit penyakit yang tidak menular yang merupakan penyakit degeneratif.

Secara statistik, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, total 1.441 kali bencana alam yang melanda Indonesia sejak Januari hingga pertengahan Juni 2021. Bencana alam yang terbanyak adalah banjir yakni 599 kejadian. Lalu puting beliung dengan 398 kejadian. Setelahnya ada tanah longsor dan kebakaran hutan yang masing-masing sebanyak 293 dan 109 kejadian. Sementara itu ada 20 bencana gempa bumi telah melanda Indonesia sejak Januari hingga pertengahan Juni 2021. Salah satu gempa bumi tersebut terjadi di Kabupaten Maluku Tengah pada Rabu, 16 Juni 2021.

Bencana adalah keniscayaan yang dapat terjadi dalam waktu yang tidak bisa diperkirakan dan dapat menimpa siapa saja. Bencana merupakan misteri dalam kehidupan manusia. Tindakan  yang dapat dilakukan adalah berkaitan dengan upaya-upaya untuk mengurangi risikonya. Korban bencana mencakup semua lapisan golongan masyarakat, mulai dari desa sampai kota, tua dan muda, perempuan dan laki-laki. Oleh karena itu, penanggulangan bencana, bukan semata menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga menjadi tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat.

Penanggulangan bencana adalah aktivitas yang dilaksanakan secara sadar, sistematik, terencana dan berkelanjutan. Indonesia sebagai salah satu negara rentan bencana menyadari betapa pentingnya mitigasi bencana untuk meminimalkan korban dan dampak yang ditimbulkan oleh suatu kejadian bencana. Masyarakat disiapkan untuk memiliki kemampuan mitigasi bencana dan hidup berdampingan secara harmonis dengan bencana. Bencana yang ada tidak untuk ditakuti tetapi untuk dihadapi dengan penuh kesiapsiagaan. Kejadian bencana tidak memandang gender, tetapi didalam upaya penanggulangan bencana perlu untuk memperhatikan aspek gender, karena perempuan bukan semata dipandang sebagai kelompok rentan menjadi korban bencana, tetapi juga sebagai kelompok potensial untuk aktif didalam penanganan korban bencana.

Perempuan dan Bencana

Dalam perspektif kebencananaan, perempuan dipandang dalam dua aspek, yaitu perempuan sebagai kelompok rentan dan perempuan sebagai kelompok potensial. Sebagai kelompok rentan perempuan dipandang sebagai korban bencana. Sebagai korban bencana, perempuan adalah kelompok yang dianggap memiliki risiko tinggi terkena dampak dari suatu  kejadian bencana, seperti mengalami cidera, sakit atau bahkan mengalami kematian. Secara fisik perempuan acapkali dipandang lebih lemah. Perempuan juga dipandang tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk menyiapkan dirinya dalam menghadapi bencana yang mungkin terjadi. Perempuan dianggap lemah, pasif dan pihak penerima program. Pandangan ini menempatkan perempuan sebagai objek proses penanggulangan bencana.

Di sisi lain, perempuan dipandang sebagai kelompok potensial yang dapat berperan aktif dalam pengurangan risiko bencana, baik untuk dirinya, keluarga dan masyarakat pada umumnya. Memandang perempuan sebagai kelompok potensial dalam pengurangan risiko bencana akan menempatkan mereka sebagai subjek pelaku aktif dalam pengurangan risiko bencana. Perempuan dipandang memiliki kekuatan (pengetahuan, keterampilan dan sikap) yang tersimpan dan dapat dikembangkan untuk terlibat nyata memainkan peran-peran penting dalam pengurangan risiko bencana. Memandang perempuan dalam konteks yang lebih luas akan memberi ruang mereka pada ranah strategis dalam proses penanggulangan bencana. Peran-peran publik perempuan diaktualisasikan selaras dengan peran-peran domestiknya. Perempuan tidak lagi dipandang menjadi sekedar ibu rumah tangga, tetapi berganti peran menjadi relawan, aktivis dan penggerak masyarakat dalam penanggulangan bencana. Dalam situasi ini perempuan memainkan posisi kunci sebagai agen perubahan yang menentukan arah dan kebijakan berkaitan dengan mitigasi bencana yaitu upaya mengurangi risiko yang muncul dari suatu kejadian bencana.

Mitigasi Bencana

Bencana bisa terjadi kapan saja dan dapat menimbulkan risiko atau dampak baik kecil maupun besar. Bencana bisa timbul karena fenomena alam atau karena tindakan manusia. Tidak ada negara yang bebas dari bencana di dunia ini. Kerentanan (vulnerability) terhadap bencana di tiap-tiap negara berbeda satu sama lain. Dikutip dari Kamus Oxford : Advanced Leaner’s Dictionary (2014), Bencana disebut disaster dimana kata ini diketahui pertama kali digunakan pada tahun 1567. Laman resmi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mendefiniskan Bencana adalah sesuatu yang menyebabkan/menimbulkan kesusahan, kerugian atau penderitaan.

Dikutip dari situs resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), menurut Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, dijelaskan pengertian dan jenis-jenis bencana. Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam, nonalam maupun manusia. Bencana mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis. Berdasarkan undang-undang diatas, bencana dibedakan menjadi tiga macam, yaitu: 1) bencana alam, 2) bencana nonalam, dan 3) bencana sosial. Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam. Bencana alam berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan dan tanah longsor. Bencana nonalam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa nonalam. Bencana nonalam berupa kegagalan teknologi, kegagalan modernisasi, epidemi dan wabah penyakit. Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia. Bencana sosial meliputi konflik sosial antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat dan teror. Kejadian bencana adalah peristiwa bencana yang terjadi dan dicatat berdasarkan tanggal kejadian, lokasi, jenis bencana, korban dan/ataupun kerusakan. Jika terjadi bencana pada tanggal yang sama dan melanda lebih dari satu wilayah, maka dihitung sebagai satu kejadian bencana.

World Health Organization (WHO) mendefinisikan bencana adalah setiap kejadian yang menyebabkan kerusakan, gangguan ekologis, hilangnya nyawa manusia atau memburuknya derajat kesehatan atau pelayanan kesehatan pada skala tertentu yang memerlukan respon dari luar masyarakat atau wilayah yang terkena. Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia bencana adalah peristiwa atau kejadian pada suatu daerah yang mengakibatkan kerusakan ekologi, kerugian kehidupan manusia serta memburuknya kesehatan dan pelayanan kesehatan yang bermakna sehingga memerlukan bantuan luar biasa dari pihak luar.

Dari berbagai uraian di atas dapat ditarik benang merah bahwa bencana adalah akibat dari kombinasi aktivitas alami dan aktivitas manusia. Berbagai jenis bencana menimbulkan kerugian harta benda, kerusakan ekosistem dan juga menyebabkan korban manusia, baik korban yang meninggal dunia korban yang hidup yang berada dalam kondisi gawat darurat. Kondisi gawat darurat dapat mengarah kepada timbulnya kecacatan atau bahkan kematian jika tidak ditangani dengan baik. Bencana sangat erat kaitannya dengan situasi dan kondisi yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.

Sudibyakto dkk (2012) dalam buku ”Konstruksi Masyarakat Tangguh Bencana” menyebutkan bahwa risiko bencana dapat dijabarkan sebagai fungsi dari bahaya (hazard) dan kerentanan (vulnerability), serta kemampuan bertahan (coping ability). Kerentanan mencakup kerentanan fisik, ekonomi, sosial dan lingkungan. Kerentanan merupakan aspek yang berbanding terbalik dengan kapasitas. Semakin besar nilai kapasitas maka nilai risikonya semakin kecil, maka penurunan kerentanan dan peningkatan kapasitas perlu dikerjakan secara bersama-sama.

Menurut Pasal 1 ayat 6 Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana, mengartikan bahwa mitigasi sebagai serangkaian upaya yang dilakukan untuk mengurangi risiko bencana, baik lewat pembangunan fisik ataupun penyadaran serta peningkatan kemampuan dalam menghadapi ancaman bencana. Risiko bencana yang dimaksud ini meliputi timbulnya korban jiwa, kerusakan lingkungan, hilangnya dan kerugian harta benda serta timbulnya dampak psikologis. Bencana tidak dapat dihindari, tetapi risikonya dapat kita kurangi melalui upaya-upaya mitigasi bencana.

Dilansir dari situs resmi publicsafety Kanada, Mitigasi bencana adalah tindakan yang menghilangkan atau mengurangi dampak dan risiko bahaya melalui tindakan proaktif yang diambil sebelum keadaan darurat atau bencana terjadi. Tindakan mitigasi bencana dapat bersifat struktural (misalnya membuat tanggul banjir) atau non-struktural (misalnya penerapan zonasi tata guna lahan). Kegiatan mitigasi harus memasukkan pengukuran dan penilaian lingkungan risiko yang berkembang. Kegiatan dapat mencakup pembuatan alat yang komprehensif dan proaktif yang membantu memutuskan di mana harus memfokuskan pendanaan dan upaya dalam pengurangan risiko.

(Disaster mitigation measures are those that eliminate or reduce the impacts and risks of hazards through proactive measures taken before an emergency or disaster occurs. Disaster mitigation measures may be structural (e.g. flood dikes) or non-structural (e.g. land use zoning). Mitigation activities should incorporate the measurement and assessment of the evolving risk environment. Activities may include the creation of comprehensive, pro-active tools that help decide where to focus funding and efforts in risk reduction).

Contoh lain dari langkah-langkah mitigasi termasuk : pemetaan bahaya, adopsi dan penegakan penggunaan lahan dan praktik zonasi, menerapkan dan menegakkan kode bangunan, pemetaan dataran banjir, ruang aman tornado yang diperkuat, mengubur kabel listrik untuk mencegah penumpukan es, membangun rumah di luar daerah rawan banjir, program kesadaran masyarakat mitigasi bencana dan program asuransi.

(Other examples of mitigation measures include: Hazard mapping, Adoption and enforcement of land use and zoning practices, Implementing and enforcing building codes, Flood plain mapping, Reinforced tornado safe rooms, Burying of electrical cables to prevent ice build-up, Raising of homes in flood-prone areas, Disaster mitigation public awareness programs, Insurance programs).

Dikutip dari situs resmi Kompas, Sigit Sapto Nugroho dan kawan-kawan (2020), dalam buku “Hukum Mitigasi Bencana di Indonesia”, menyatakan bahwa tujuan utama dari adanya mitigasi bencana adalah mengurangi risiko cedera dan kematian masyarakat atau timbulnya korban jiwa. Sedangkan tujuan sekunder dari mitigasi bencana ialah mengurangi kerusakan dan kerugian ekonomi, termasuk infrastruktur yang mungkin ditimbulkan. Tujuan lain dari mitigasi bencana adalah untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam menghadapi dan mengurangi risiko bencana agar masyarakat bisa hidup dengan aman dan nyaman. Mitigasi bencana merupakan landasan perencanaan pembangunan.

Lebih lanjut secara garis besar, mitigasi bencana dibagi menjadi dua jenis, yaitu: 1) mitigasi struktural,  dan 2) mitigasi non-struktural. Mitigasi struktural merupakan upaya menurunkan tingkat kerentanan terhadap suatu bencana lewat bangunan tahan bencana. Mitigasi ini dilakukan dengan melaksanakan pembangunan sarana dan prasarana fisik yang menggunakan aneka pendekatan teknologi tahan bencana. Bangunan tahan bencana yang dimaksud ialah bangunan dengan struktur baik yang telah direncanakan, agar bisa bertahan atau meminimalisasi risiko kerusakan dan timbulnya korban jiwa saat terjadi bencana. Mitigasi non-struktural merupakan mitigasi yang dilakukan selain pembangunan prasarana fisik. Artinya bentuk mitigasi ini bisa dilakukan lewat pembentukan peraturan oleh pemerintah dan hal lainnya. Upaya mitigasi non-struktural biasanya dilakukan di daerah rawan bencana dan sekitarnya. Tujuan dari mitigasi ini agar masyarakat bisa tetap beraktivitas tanpa rasa takut berlebih dan merasa nyaman serta aman dalam hidup berdampingan dengan bencana.

Sadisun (2006) menjelaskan bahwa prosedur mitigasi bencana hendaklah memperhatikan : 1) Kehidupan / penyelamatan nyawa, 2) Keamanan, 3) Kesehatan, 4) Perlindungan harta benda, 5)  Perlindungan lingkungan, 6) Pengamanan fasilitas penting, 7) Pengamanan fasilitas umum, dan  8) Koordinasi antar institusi pemerintah. Dari hal ini dapat kita pahami bahwa proses mitigasi bencana merupakan kerja bersama dari banyak pihak untuk mendapatkan aspek struktural dan non-struktural dari mitigasi bencana, termasuk upaya untuk melibatkan kaum perempuan sebagai mitra potensial dalam rancang bangun mitigasi bencana secara berkelanjutan.

Peran Perempuan Dalam Mitigasi Bencana

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan dalam masyarakat. Menjadi pertanyaan dasar adalah mengapa penting, apa urgensinya untuk melibatkan perempuan dalam proses pananggulangan bencana, khususnya mitigasi bencana. Apakah dengan melibatkan perempuan dalam mitigasi bencana maka risiko bencana yang mungkin terjadi dapat dikurangi. Untuk dapat menjelaskan pertanyaan ini maka dapat kita telusuri pada bagaimana keterlibatan perempuan dalam penanggulangan bencana, khususnya peran-peran mereka pada lembaga-lembaga yang fokus pada upaya  pengurangan risiko bencana.

Ketua Forum Mitigasi Bencana (FMB) Provinsi Bengkulu, Suryadi (2021) menjelaskan bahwa :

Perempuan memiliki peran strategis dalam mitigasi bencana. Mereka tidak dapat ditinggalkan, karena mereka memiliki kekuatan yang tidak dimiliki kaum lelaki seperti ketelitian, ketekunan, kejujuran dan semangat dalam bekerja. Setidaknya 30 % dari relawan mitigasi bencana di Provinsi Bengkulu              adalah perempuan.”

Dari pernyataan diatas dapat kita pahami bahwa perempuan telah berperan aktif dalam mitigasi bencana. Keberadaan mereka dalam organisasi mitigasi bencana merupakan bukti nyata partisipasi kaum perempuan dalam proses penanggulangan bencana, khususnya dalam upayat pengurangan risiko bencana. Keberadaan forum mitigasi merupakan ruang partisipasi masyarakat peduli bencana untuk secara bersama-sama dengan pemerintah melakukan berbagai upaya pengurangan risiko bencana. Melalui wadah ini masyarakat memiliki kesempatan untuk secara aktif membangun kesadaran tentang bencana dan merencanakan berbagai aktivitias yang dapat dilakukan untuk pengurangan risiko bencana. Perempuan sebagai salah satu elemen penting dalam wadah ini memiliki kesempatan luas untuk mengaksentuasikan kebutuhan dan masalahnya berkaitan dengan pananggulangan bencana, khsususnya dalam upaya mitigasi bencana. Penanggulangan bencana yang sensitif perempuan atau pro perempuan, bukan saja memandang perempuan sebagai kelompok rentan menjadi korban bencana yang memiliki kebutuhan dan masalah spesifik, tetapi yang lebih penting adalah menempatkan perempuan sebagai kelompok strategis, yang mampu merancangbangun perencanaan pengurangan risiko bencana di wilayahnya masing-masing.

Suara perempuan didengar dan diapresiasi. Karena, dalam banyak kasus perempuan lebih bersifat pasif dan hanya menjadi penerima program, dibandingkan menjadi pemilik suara aktif dan menjadi aktor utama yang merancang program-program penanggulangan bencana. Perubahan paradigma ini membutuhkan perubahan mindset dari semua pihak untuk tidak lagi memandang perempuan sebagai kelompok rentan bencana, tetapi dipandang sebagai agen perubahan yang berkontribusi penting dalam penanggulangan bencana termasuk dalam kerja-kerja nyata mitigasi bencana.

Dikutip dari laman Jurnal.uny.ac.id, Hastuti (2016) menjelaskan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam menghadapi bencana agar resiko yang ditimbulkan akibat bencana dapat ditekan melalui upaya meningkatkan peran perempuan dalam mitigasi bencana. Untuk meningkatkan  pemampuan perempuan dalam mengurangi risiko bencana dapat dilakukan melalui peningkatan : 1) Kesadaran perempuan dalam memahami situasi lingkungan dan ancaman bahaya, 2) Pemahaman tentang kerentanan dan kemampuan untuk mengukur kapasitas yang dimiliki perempuan, 3) Kemampuan untuk menilai risiko yang dihadapi perempuan sebagai individu, anggota keluarga dan masyarakat,4) Kemampuan untuk merencanakan dan melakukan tindakan untuk mengurangi risiko yang dimiliki baik melalui peningkatan kapasitas dan mengurangi kerentanan, dan 5) Kemampuan perempuan untuk memantau, mengevaluasi dan menjamin keberlangsungan upaya pengurangan risiko sehingga dampak bencana dapat dikurangi atau dicegah.

Sebagai makhluk sosial manusia diukur dari partisipasi dan kemanfaatan sosial yang dilakukan melalui interaksi sosial. Interaksi sosial seseorang termasuk perempuan dipengaruhi oleh komponen kualitas individunya dan kualitas interaksi sosial. Kualitas individu seorang perempuan berkaitan erat dengan kecerdasan emosi dan kecerdasan moral nya. Kecerdasan ini berkaitan dengan nilai-nilai seperti empati, kesadaran, kebaikan dan kepedulian. Intinya adalah bagaimana seorang perempuan dalam situasi bencana atau hidup di wilayah rawan bencana memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap kritis yang diberdayakan untuk membangun hubungan yang harmonis, baik dengan diri, keluarga, dan lingkungan dimana ia berada.

Kesimpulan

·       Dalam perspektif kebencanaan, perempuan dipandang sebagai kelompok rentan yang membutuhkan perlindungan dari berbagai risiko bencana. Dalam perkembangan penanganan kebencanaan, perempuan tidak lagi dipandang sebagai objek tetapi sebagai subyek yang aktif dalam penanganan bencana. Perempuan dipandang memiliki kemampuan untuk memainkan peran strategis dalam penanggulangan bencana. Perempuan adalah agen perubahan yang dapat membantu dirinya, keluarga dan masyarakat untuk memiliki ketahanan terhadap bencana, dengan diberi peran dalam lembaga-lembaga, forum, dan wadah yang peduli dengan isu-isu kebencanaan termasuk mitigasi bencana.

·       Semaju apapun teknologi kebencanaan yang ada, manusia tetapkan sebagai komponen yang paling utama. Manusia adalah piranti utama yang akan menjalankan perangkat keras dan perangkat lunak teknologi kebencanaan. Mendidik perempuan menguasai kompetensi dan teknologi kebencanaan akan membuat upaya-upaya mitigasi dan penanganan korban bencana menjadi lebih humanis, efektif dan efisien. Perempuan memiliki daya empati, ketekunan, kejujuran dan sensitivitas yang lebih baik dalam penanganan bencana. Perlu upaya-upaya sadar dan terus menerus untuk mendorong peran perempuan yang lebih besar dalam penanggulangan bencana seperti meningkatkan jumlah perempuan sebagai peserta diklat kebencanaan, porsi yang lebih besar sebagai relawan kebencanaan, dan termasuk mendorong lahirnya wadah-wadah partisipasi khusus bagi perempuan dalam penanggulangan bencana (pra-saat-pasca bencana) sehingga mereka secara mandiri mampu melakukan need asessment yang proprempuan.

·       Upaya menurunkan kerentanan suatu masyarakat akan berbanding terbalik dengan peningkatan kompetensi masyarakat. Dengan menurunnya kerentanan akan berdampak pada penurunan risiko yang mungkin terjadi atas suatu kejadian bencana. Secara domestik, perempuan adalah penguasa rumah, pengatur anak-anak, penjaga bahan pangan, dan pengaman berbagai dokumen penting. Peningkatan kompetensi perempuan dalam mitigasi bencana akan berdampak signifikan terhadap penurunan risiko atau dampak bencana. Dengan meningkatkan kompetensi perempuan dalam mitigasi bencana berarti ikut melahirkan satu generasi sadar dan tangguh bencana.

 Ditulis oleh : UDARA

 


Bagikan :