Peran SDM Kessos dalam Pemberdayaan Kelompok Anak

Peran SDM Kessos dalam Pemberdayaan Kelompok Anak


Kintap, 27 juni 2021. Pagi itu tepat pukul 09.15, kami menyambut kedatangan anak anak dari keluarga KPM peserta PKH di ruangan sekolah SMPN 3 Kintap, Desa Muara Kintap, Kecamatan Kintap Kabupaten Tanah Laut. Hari itu dilaksanakannya kelas motivasi anak, kegiatan yang diinisiatif oleh kawan-kawan SDM Kessos Pendamping Sosial PKH Kecamatan Kintap yang ditujukan kepada anak-anak Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Peserta Program Keluarga Harapan (PKH). Acara kegiatan ini diawali dengan pembentukan kelompok diskusi dari seluruh anak KPM Peserta PKH yang hadir, selanjutnya setiap kelompok melakukan presentasi dari hasil diskusi masing-masing.

Namanya Harisa, seorang anak KPM Peserta PKH yang berprestasi akademik ini, mewakili kelompoknya untuk mengutarakan tentang keresahan perihal kondisi di lingkungan sekitarnya, antara lain terjadinya pengedaran Narkoba, pergaulan bebas, banyaknya sampah berserakan dan kurangnya gotong royong pada masyarakat sekitar.

Berbeda dengan Musadi, salah satu dari peserta yang mewakili kelompok anak KPM Peserta PKH lainnya, menuturkan bahwa diantara kawan-kawannya masih banyak yang memiliki sifat kurang percaya diri, hal ini dikarenakan masih belum adanya dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar.

Harissa, Musadi dan kelompok anak KPM PKH lainnya merupakan potret sebagian anak kelompok rentan sasaran PKH pada masa milenial saat ini. Sasaran PKH adalah keluarga miskin dan rentan yang terdaftar dalam Data Terpadu Kesejahteran Sosial yang memiliki komponen kesehatan dengan kriteria ibu hamil/menyusui, anak berusia nol samapai dengan enam tahun. Komponen pendidikan dengan kriteria anak SD/MI atau sederajat, anak SMA/MTs atau sederjat, anak SMA /MA atau sederajat, dan anak usia enam sampai 21 tahun yang belum menyelesaikan wajib belajar 12 tahun. Sejak tahun 2016 terdapat penambahan komponen kesejahteran sosial dengan kriteria lanjut usia diutamakan mulai dari 70 (tujuh puluh) tahun, dan penyandang disabilitas diutamakan penyandang disabilitas bera serta KPM yang memiliki Penyakit TBC.

Salah satu Tugas Pokok dan Fungsi SDM Kessos, khususnya Pendamping PKH antara lain adalah membentuk kelompok Pengurus PKH (ibu dari anak KPM PKH) dan melakukan pertemuan di tiap bulannya. Dalam pertemuan pendamping menjadi fasilitator dalam penyampaian Family Development Session (FDS) kepada pengurus PKH (ibu dari anak KPM PKH).

Kendati tugas pokok SDM Kessos, Pendamping PKH adalah melakukan pertemuan rutin kepada pengurus PKH, namun ruang gerak anak dan ruang dialog anak anak tetap penting diprioritaskan, mengingat anak-anak KPM adalah bagian dari Aset Negara.

Anak adalah setiap individu yang dikategorikan karena ia berusia di bawah 18 (delapan belas) tahun, termasuk pula yang masih berada dalam kandungan. Seperti yang tertuang dalam Undang Undang HAM no 23 Tahun 1999 bahwa Anak- anak, merupakan salah satu bagian kelompok rentan sebagai kelompok rentan  yang memerlukan kondisi lingkungan yang baik, sehat, dan terjamin atas rasa aman dari segala bentuk ancaman ketakutan. Hal ini karena setiap manusia berhak untuk mendapatkan lingkungan tempat tinggal yang layak, yang bebas dari keributan dan berhak pula atas rasa aman. Jaminan hak tersebut termuat dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia Pasal 9 Ayat (3), Pasal 30, dan Pasal 35.

Menciptakan kondisi ideal bagi anak merupakan suatu hal yang penting karena perilaku dan karakter seseorang mulai dibentuk sejak kecil atau saat masih dikategorikan sebagai anak-anak. Di dalam proses perkembangan yang terjadi pada seorang anak meliputi pengetahuan dan pengalaman yang juga dialami dan diterima selama masa kanak-kanaknya, yang lama kelamaan seiring berjalannya waktu mempengaruhi tumbuh dan kembangnya hingga anak tersebut beranjak menjadi manusia dewasa (Singgih D. Gunarsa, 2008).

Pemberdayaan kelompok merupakan program yang diupayakan dengan tujuan membentuk sikap dan perilaku individu serta masyarakat yang mandiri dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Dalam buku Perencanaan Pembangunan Daerah Otonom dan Pemberdayaan Masyarakat (2005) karya I Nyoman Sumaryadi, Robinson menjelaskan bahwa pemberdayaan adalah suatu proses pribadi dan sosial. Serta suatu pembebasan kemampuan pribadi, kompetensi, kreativitas, dan kebebasan bertindak. Pemberdayaan kelompok sebagai proses pembangunan di mana masyarakat berinisiatif untuk memulai proses kegiatan sosial guna memperbaiki situsi dan kondisi diri sendiri.

Langkah-langkah strategis yang bisa diterapkan SDM Kessos untuk menyusun kelompok/forum anak adalah sebagai berikut:

1. Mengidentifikasi anak-anak yang berpotensi untuk memobilisasi anak-anak lain di komunitasnya dengan menanyakan kepada guru, kepala desa, atau pemimpin agama setempat. Anak-anak ini memiliki karakteristik berani berbicara, memiliki inisiatif, aktif dan kemampuan sosial lainnya.

 2. Mengidentifikasi kelompok-kelompok anak yang sudah ada di dalam komunitas serta siapa anak-anak yang menjadi pemimpin kelompok tersebut.

3. Mengidentifikasi anak-anak yang paling rentan di daerah seperti misalnya anak yang mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual, diskriminasi sosial, serta rentan bencana alam.

4. Anak-anak yang berpotensi serta anak-anak yang menjadi pemimpinn kelompok tersebut diajak untuk memobilisasi sesama anak-anak di desanya terutama anak-anak yang paling rentan untuk mengikuti pertemuan. SDM Kessos perlu memastikan bahwa anak anak yang paling rentan untuk bisa berhadir dan terlibat di dalam pertemuan yang dilakukan saat itu.

5. SDM Kessos memfasilitasi anak-anak di dalam pertemuan untuk mengerti siapa orang yang paling mereka percayai dan yang membuat mereka nyaman di dalam desa, lalu dalam merumuskan keinginan serta kebutuhan mereka. Kelebihan kelompok anak terletak di usia mereka, mereka sering kali adalah kelompok yang paling tahu mengenai siapa orang dewasa yang paling berdampak (baik positif maupun negatif) bagi kualitas hidup anak, siapa yang bisa dipercayai untuk bermitra dan siapa anak yang paling rentan. Sebisa mungkin kita mengupayakan agar suara dari anak-anak yang paling rentan bisa muncul dan diperhatikan oleh anak-anak yang lain. Anak-anak lain diusahakan untuk belajar memperhatikan kebutuhan teman-temannya yang paling rentan. Anak-anak yang lebih tua umurnya atau yang sudah menginjak usia perkembangan remaja bisa diarahkan untuk memimpin dan memfasilitasi anak-anak lain di dalam pertemuan ini. Pertemuan ini akan memilih anggota kelompok anak dan petugas harus memastikan beberapa anak-anak yang paling rentan masuk menjadi anggota kelompok tersebut.

6. Ketika kelompok anak sudah dibentuk, sebaiknya dihindari untuk sering mempertemukan kelompok anak dengan kelompok kader dewasa. Kelompok anak diharapkan bisa melahirkan diskusi-diskusi untuk menemukan visi dan prioritas-prioritas anak-anak untuk kesejahteraan mereka sendiri terutama untuk anak-anak yang paling rentan. Hasil diskusi dalam kelompok anak dijadikan materi untuk dibicarakan pada kelompok FDS dengan media perantara SDM Kessos. Hal ini bisa disiasati oleh SDM Kessos dengan melakukan pendekatan interpersonal untuk lebih memahami anggota per keluarga bahkan anak per anak sehingga komunikasi bisa dijalin dengan lebih baik.

Seperti pemikiran yang disampaikan oleh Dr. Tobirin dalam Webinar ‘Kemajuan Digital yang memberdayakan Kelompok Rentan” menyebutkan bahwa dalam memberdayakan kelompok rentan (ibu dan anak) diperlukan tiga faktor semangat agar kelompok semakin bertumbuh menjadi lebih baik, antara lain semangat berempati, semangat kolaborasi dan semangat kreatifitas.

Peran SDM Kesos sangat besar dalam pemberdayaan Kelompok Anak KPM PKH seiring dengan  intensitas SDM Kesos pendamping Sosial PKH dalam berinteraksi dengan ibu-ibu pengurus PKH di setiap pertemuan kelompok. Hal terpenting bahwa pemberdayaan Kelompok Anak KPM PKH adalah bagian dari upaya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Anak sebagai Aset Bangsa.

SDM Kesos juga berpotensi menjadi mediator bagi permasalahan ibu dan anak, yakni sebagai mitra dalam menggerakan wadah berdialog dan wadah kreatifitas antara ibu dan anak, hingga diharapkan terciptanya kondisi yang aman dan nyaman dalam keluarga dengan demikian secara perlahan Anak KPM PKH dapat melewati proses pertumbuhannya penuh rasa kepercayaan diri untuk membangun kesadaran dan kemandirian sikapnya dalam menyusun langkah-langkah masa depannya.


Oleh : Yuni Indro Purnomo

SDM Kesos, Koordinator PKH Kabupaten Tanah Laut


Bagikan :