Peran Penyuluh Sosial ASN dalam Penanganan Lansia

Peran Penyuluh Sosial ASN dalam Penanganan Lansia


Lanjut usia pada umumnya memiliki fisik yang lemah. Mereka membutuhkan perhatian yang lebih dari orang-orang di sekitar mereka sebagai tempat untuk bercerita. Disamping itu, kita harus menjaga perasaan mereka dalam berbicara karena sifat mereka yang mudah tersinggung. Lansia sering dianggap identik dengan pikun, jompo, sakit-sakitan, dan menghabiskan uang untuk berobat. Upaya perlindungan dan pemenuhan hak kaum lansia harus berkesinambungan dan mendapatkan perhatian seluruh lapisan masyarakat. Sangat ironis bila gerakan menyejahterakan para lansia hanya bersifat temporer dan seremonial. Merawat orang di panti (residental care) dan menjamin terpenuhinya kebutuhan mereka adalah hal yang diharapkan namun sulit dilakukan.

Seiring berjalannya waktu, banyak situasi yang mengalami perubahan. Demikian juga angka harapan hidup manusia semakin meningkat. meningkatnya populasi lansia bukan hanya fenomena di Indonesia saja tetapi juga sudah secara global. Pada tahun 2000 penduduk usia lanjut di seluruh dunia diperkirakan sebanyak 426 juta atau sekitar 6,8 %. Jumlah ini akan meningkat hampir dua kali lipat pada tahun 2025, yaitu menjadi sekitar 828 juta jiwa atau sekitar 9,7 % dari total penduduk dunia. Di Indonesia pada tahun 2000 diperkirakan 7,4 % dari jumlah penduduk Indonesia atau sekitar 15,3 juta orang akan berusia diatas 60 tahun.

Indonesia memasuki ageing population, ditandai semakin meningkatnya persentase jumlah penduduk lanjut usia Indonesia, yang mencapai 25,66 juta jiwa (9,60 %); Lanjut usia laki-laki 47, 65 %, dan perempuan 52,35 %; Lanjut usia muda, umur 60-69 tahun (63,82 %), Lanjut usia madya, umur 70-79 tahun (27,68 %), dan lanjut usia tua, umur 80 tahun keatas (8,50 %); Tinggal di perkotaan 52,80 %, dan di perdesaan 47,20 % (BPS, Susenas Maret, 2019). Proyeksi BPS (2015-2045), usia harapan hidup penduduk Indonesia, dari 69,8 tahun (2010) menjadi 73,4 tahun (2020), dan akan meningkat lagi menjadi 75,5 tahun pada 2045.

Data tersebut menggambarkan capaian positif pelaksanaan pembangunan khususnya sektor kesehatan yang diselenggarakan pemerintah selama ini. Dengan tersedianya sarana prasarana kesehatan yang terus bertambah, dari sisi jumlah, dan semakin membaik kualitasnya, mulai tingkat desa/ kelurahan hingga tingkat pusat. Selain itu, juga tersedianya kebutuhan, yang diperuntukkan bagi penduduk lanjut usia, melalui berbagai program, seperti: bantuan keluarga (family support), pelayanan sosial kedaruratan bagi lanjut usia, layanan harian lanjut usia (day care services), layanan lanjut usia tangguh, posyandu/posbindu lanjut usia, dan pengembangan kawasan ramah lanjut usia, termasuk ketersediaan layanan lanjut usia berbasis panti. Namun, kabar kurang baiknya, terkait masa pandemi Coronavirus Disease-19 (Covid-19) adalah bahwa lanjut usia, rentan terpapar Covid-19.

Data World Health Organization (WHO) menunjukkan, lebih dari 95% kematian terjadi pada usia lebih dari 60 tahun atau lebih (WHO, 2020). Kasus terpapar Covid-19 di Indonesia terus bertambah dan mengalami peningkatan signifikan dari waktu ke waktu, dan belum diketahui kapan akan berakhir. Seperti dikemukakan, penduduk lanjut usia merupakan kelompok yang paling berisiko terpapar Covid-19. Karena, dengan bertambahnya usia, akan diikuti meningkatnya kecenderungan sakit, dan memiliki keterbatasan fisik (disable) sebagai akibat terjadinya penurunan kemampuan fisik yang cukup drastis (Christensen, dkk., 2009; Gatimu dkk., 2016 dalam Seftiani, 2020). Sejalan dengan pemikiran tersebut, menurut Kusumastuti (2020), pandemi Covid-19 meningkatkan risiko kerentanan lanjut usia, karena mobilitas yang terbatas akibat kebijakan stay at home, membuat para lanjut usia sulit untuk mengakses layanan dasar seperti layanan kesehatan. Selain terbatasnya lanjut usia mengakses perlindungan sosial lainnya, seperti memperoleh pendapatan sehingga para lanjut usia lebih rentan terhadap guncangan ekonomi.

Posisi lanjut usia yang amat rentan ini tentu membutuhkan perlindungan. Terdapat beberapa pola tempat tinggal lanjut usia Indonesia, bahwa mayoritas bersama tiga generasi (40,64%), bersama keluarga (27,30%) dan hanya tinggal bersama pasangannya, sebesar 20,03%. Sementara yang tinggal sendiri sebesar 9,38% (Seftiani, 2020). Lanjut usia, dengan siapapun mereka tinggal, sesungguhnya memiliki kerentanan cukup tinggi terpapar Covid-19, karena kondisi fisik mereka. Posisi lanjut usia yang amat rentan ini tentu membutuhkan perlindungan. Lanjut usia yang tinggal pada institusi sosial lanjut usia, seperti: Balai dan Loka Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia (Balai-Loka RSLU) yang diselenggarakan Pemerintah Pusat (Kementerian Sosial RI.), Panti Sosial Rehabilitasi Lanjut Usia (PSRLU) yang dikelola Pemerintah Daerah, dan Lembaga Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia (LKS-LU) yang diselenggarakan oleh masyarakat, berperan penting dalam perlindungan lanjut usia, khususnya di masa pandemi Covid-19. Melalui perlindungan sosial yang diselenggarakannya, lanjut usia diharapkan tetap dapat menikmati kehidupannya secara bermartabat dan sejahtera.

Perlindungan sosial menjadi isu aktual saat ini, ia merupakan konsep yang luas dan berkembang seiring dinamika masyarakat. Dalam konteks Indonesia, sebelum periode krisis ekonomi tahun 1997, perlindungan sosial belum menjadi bagian dari prioritas pemerintah. Kondisi krisis ekonomi tahun 10 1997-1998 yang membuat krisis multidimensi, menyebabkan banyak penduduk Indonesia masuk jatuh miskin, memberikan kesadaran tentang kerentanan kondisi ekonomi Indonesia, serta pentingnya perlindungan sosial bagi seluruh penduduk. Sejak saat itu, Indonesia memiliki sistem perlindungan sosial yang diawali dengan kebijakan Jaring Pengaman Sosial nasional (JPS).

Sistem perlindungan sosial yang terdiri dari program jaminan sosial dan bantuan sosial ini terus mengalami perkembangan (Bappenas, 2014). Batasan tentang perlindungan sosial, antara lain dikemukakan International Labour Organization (ILO) (1984), bahwa perlindungan sosial sebagai sebuah sistem yang disediakan melalui serangkaian kebijakan publik untuk meminimalkan dampak dari guncangan ekonomi dan sosial yang dapat disebabkan oleh hilangnya atau berkurangnya pendapatan sebagai akibat dari, penyakit yang diderita, kehamilan, kecelakaan kerja, pengangguran, disabilitas, usia tua, atau kematian.

Bank Dunia, dalam dokumen Social Protection and Labor Strategy, menyebutkan bahwa perlindungan sosial mencakup jaring pengaman sosial, investasi pada sumber daya manusia, serta upaya-upaya penanggulangan pemisahan sosial. Perlindungan sosial harus mempertimbangkan keadaan yang sebenarnya dan lebih berfokus kepada pencegahan, bukan lagi kepada gejala dan akibat. Sementara itu, Asian Development Bank (ADB) mendefinisikan perlindungan sosial sebagai sekumpulan kebijakan yang dirancang untuk mengurangi kemiskinan dan kerentanan melalui usaha perbaikan kapasitas penduduk dalam melindungi diri dari bencana dan hilangnya pendapatan.

Perlindungan sosial setidaknya mencakup lima elemen, yakni asuransi sosial, bantuan sosial, perlindungan komunitas dengan skema mikro dan skema berbasis area, pasar tenaga kerja, serta perlindungan anak (Ortiz, 2001). Menurut UndangUndang Nomor 13 Tahun 1998 Tentang Kesejahteraan lanjut Usia, perlindungan sosial adalah upaya pemerintah dan/ atau masyarakat untuk memberikan kemudahan pelayanan bagi lanjut usia tidak potensial agar dapat mewujudkan dan menikmati taraf hidup yang wajar.

Kebutuhan Lanjut Usia Berbagai upaya perlindungan lanjut usia yang dilakukan oleh berbagai pihak, baik pemerintah maupun masyarakat tersebut, dalam upaya pemenuhan kebutuhan lanjut usia, agar dapat menikmati kehidupannya secara bermartabat dan sejahtera. Menurut Netting (1993), kebutuhan lanjut usia meliputi survival needs, yaitu: makanan, pakaian, perumahan, perawatan kesehatan; safety and security needs, yaitu perlindungan dari hal yang membahayakan dan kekerasan; social needs, yaitu kesempatan berinteraksi dalam lingkungan yang positif; esteem needs, yakni: kesempatan untuk membangun harga diri (rasa dihormati) dan mencapai martabat, serta self actualization needs, yaitu kesempatan untuk pendidikan terus menerus dan pengembangan diri. Berdasarkan batasan tersebut, kebutuhan lanjut usia yang dimaksud dalam kajian ini adalah kebutuhan dasar lanjut usia khususnya terkait kebutuhan perlindungan kesehatan, sosial dan ekonomi.

Program Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia (Progres LU), meliputi:

1.     Therapi, yaitu mengoptimalkan fungsi fisik, mental spiritual, psikososial, dan penghidupan lanjut usia berdasarkan hasi asesment pekerja social, melalui beberapa kegiatan, yaitu: terapi fisik seperti olah raga, terapi penghidupan seperti musik dan ketrampilan, terapi mental dan spiritual seperti peningkatan dalam beribadah;

2.     Sosial care, yaitu memenuhi kebutuhan kasih sayang, kelekatan, keselamatan, kesejahteraan yang permanen dan berkelanjutan guna meningkatkan kualitas hidup dan berperan aktif di lingkungan sosial;

3.     Bantuan Bertujuan Lanjut Usia (Bantu LU), melalui usaha ekonomi produktif; dan

4.     Family support, yaitu penanganan rehabilitasi sosial terhadap lanjut usia dengan sistem luar balai, dimana lanjut usia tetap tinggal dirumah atau dilingkungan program keluarga, dalam keadaan tidak, mampu secara ekonomi, namun masih memiliki motivasi setiap upaya yang ditujukan kepada lanjut usia guna memperkuat keberfungsian fisik, psikologis, sosial dan spritual maupun ekonomi dengan dukungan dan penyertaan keluarga lanjut usia.

Bimbingan sosial, untuk membantu lanjut usia tetap mengenal dan berhubungan dengan lingkungan sosial. Selain itu, membantu lanjut usia menciptakan hubungan sosial yang baik sesama lanjut usia, termasuk dengan petugas, pimpinan lembaga, dan masyarakat. “Bimbingan individu dan kelompok kepada lanjut usia menjadi penting karena dalam kehidupan sehari-hari di panti/wisma sering terjadi “pasea” (ribut), seperti berebut remot TV, pembagian makanan, dan hal-hal lainnya yang memicu emosi pada diri lansia” (BT, Peksos, Sept. 2020). Bimbingan sosial dilakukan oleh Pekerja Sosial, seperti mengajaknya ngobrol, menonton TV bersama, dan bercengkrama dengan lanjut usia pada saat kegiatan bimbingan kelompok. “Apalagi pada saat pandemi Covid-19 ini, emosi atau kondisi psikis para lansia harus di jaga supaya tidak depresi dan murung dengan adanya pemberitaan atau informasi Covid-19, yang menjadikan lansia bisa terpapar (BT, Peksos, Sept. 2020).

Penyuluhan sosial adalah suatu proses pengubahan perilaku yang dilakukan melalui penyebarluasan informasi, komunikasi, motivasi dan edukasi oleh penyuluh sosial baik secara lisan, tulisan maupun peragaan kepada khalayak sasaran sehingga muncul pemahaman yang sama, pengetahuan dan berpartisipasi secara aktif dalam pembangunan kesejahteraan sosial.

 

            Kegiatan penyuluhan sosial diperlukan sebagai gerak awal memiliki tujuan disamping sebagai salah satu tahapan pengkondisian masyarakat, juga untuk meminimalisir terjadinya resiko kesenjangan sosial dalam masyarakat antara yang menerima bantuan langsung dengan yang tidak menerima bantuan. Penyuluhan sosial dilakukan untuk menumbuhkan pemahaman seluruh stakeholder yaitu pemerintah dan masyarakat dan untuk tahu, mau dan bisa berperan serta dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial.

Dilihat dari paparan diatas, peran Penyuluh Sosial ASN dalam memberikan penyuluhan  Penanganan Lansia dapat dengan metode individu secara anjang sana dengan mendatangi langsung rumah Lansia dan bertemu dengan keluarga dari Lansia, metode kelompok ketika ada pertemuan lansia baik yang diadakan perangkat desa/kelurahan atau Puskesmas, agar memudahkan penyuluhan dapat menggunakan alat bantu atau peraga seperti Brosur. Kegiatan penyuluhan sosial penanganan lansia dapat bekerja sama dengan Pendamping Lansia seperti Pekerja Sosial dengan batasan pekerjaan yang telah ditetapkan. Penyuluh Sosial Dinas Sosial Kabupaten Kepahiang melaksanakan penyuluhan sosial di Puskesmas dengan bantuan brosur agar memudahkan penyuluhan dan menulis artikel mengenai terharunya Lansia ketika mendapatkan Progres LU pada masa pandemi Covid-19.

Oleh : Yosi Ermalena

Sumber Referensi:

1.     Muhtar dkk, dalam buku perlindungan sosial lajut usia masa pandemi covid -19 : pada institusi Sosial Lanjut Usia Pemerintah danMasyarakat

2.     https://media.neliti.com/media/publications222034-pelayanan-sosial-lanjut-usia-studi-kasus.pdf (neliti.com)                                                          

                                                                             

 

    


Bagikan :