Peran Pekerja Sosial dalam Penanggulangan dan Pengurangan Resiko Bencana

Peran Pekerja Sosial dalam Penanggulangan dan Pengurangan Resiko Bencana


Mengawali tahun baru 2021, di tengah pandemi COVID-19 yang masih belum mereda, Indonesia kembali berduka setelah berbagai bencana dan peristiwa terjadi di negeri ini. Peristiwa pertama yaitu jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ182 pada tanggal 9 Januari 2020. Pesawat Sriwijaya Air dengan rute Jakarta – Pontianak jatuh di perairan sekitar Kepulauan Seribu tak lama setelah take off dari Bandara Soekarno-Hatta. Kronologi kejadian berawal ketika pesawat Sriwijaya Air SJ 182 berangkat pukul 14.36 WIB. Kemudian pesawat naik menuju ketinggian 25 ribu kaki pada pukul 14.37 WIB. Namun pada pukul 14.40 WIB, pesawat Sriwijaya Air bergerak tidak sesuai dengan arah penerbangan sehingga pihak Air-Traffic Control (ATC) meminta penjelasan kepada pesawat tersebut (Tirto, 9 Januari 2021). Setelah itu, ATC tidak dapat berkomunikasi lagi dan pesawat Sriwijaya Air hilang dari radar. Hingga saat ini penyebab jatuhnya pesawat Sriwijaya Air masih simpang siur meskipun black box pesawat sudah ditemukan. Jatuhnya pesawat Sriwijaya Air ini telah menewaskan seluruh penumpang dan awak pesawat yang jumlahnya 50 orang penumpang yang terdiri dari 43 dewasa, 7 anak-anak dan 3 bayi dan 12 kru (Tirto, 9 Januari 2021). Hingga sekarang baru 34 orang jenazah yang telah teridentifikasi berdasarkan pengecekan DNA.

Setelah jatuhnya pesawat Sriwijaya Air, disusul dengan bencana longsor di Cimanggung, Sumedang pada tanggal 9 Januari 2021 yang terjadi sebanyak dua kali pada pukul 16.00 WIB dan pukul 19.00 WIB. Akibat longsor ini, puluhan rumah warga mengalami kerusakan berat dan sebanyak 1.020 orang harus mengungsi (Riana, 2021). Merujuk data Pusat Pengendali Operasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 17 Januari 2020 pukul 03.59 WIB, total korban yang ditemukan berjumlah 28 orang, dan 12 orang masih dinyatakan hilang (Riana, 2021).

Masih dalam suasana berduka akibat bencana longsor dan jatuhnya pesawat Sriwijaya Air, tak disangka terjadi bencana besar lainnya di belahan Indonesia Timur tepatnya di Sulawesi. Tanggal 15 Januari 2021, terjadi gempa bumi berkekuatan M 6,2 yang menghantam Kabupaten Majene dan Mamuju, Sulawesi Barat. Berdasarkan laporan terkini Pusdalops BNPB, gempa bumi di Majene dan Mamuju ini telah menewaskan sedikitnya 46 jiwa. Di Kabupaten Majene sebanyak 9 orang meninggal dunia, 12 orang luka berat, 200 orang luka sedang, 425 orang luka ringan dan 15 ribu lainnya terpaksa mengungsi (Riana, 2021). Sementara di Kabupaten Mamuju sebanyak 37 orang meninggal dunia dan 189 orang mengalami luka (Riana, 2021).

Setelah kejadian gempa bumi di Sulawesi Barat, ternyata Indonesia masih harus kembali berduka karena Kalimantan Selatan mengalami banjir bandang yang cukup besar. Banjir bandang ini disebabkan karena hujan lebat yang disertai kilat dan angin kencang pada tanggal 12-14 Januari 2021. Akibatnya banjir menggenangi beberapa wilayah di Kalimantan Selatan, dimana salah stau daerah yang terdampak cukup parah yaitu di Kabupaten Balangan yang berada di sebelah utara Kalimantan Selatan. Berdasarkan laporan Pusat Pengendali Operasi BNPB pada Sabtu (16/1/2021) pukul 02.00 WIB tercatat ada 3.571 rumah di Balangan yang terendam banjir (Hakim, 2021). Dengan ketinggian muka air sekitar 50-150 sentimeter, Basarnas mengungkapkan sekitar 2.600 warga yang terdampak harus mengungsi (Hakim, 2021).

Setelah gempa bumi, longsor, dan banjir menghantam Indonesia hanya dalam waktu 3 pekan, ternyata bencana lain masih terjadi di daerah Jawa Timur yakni erupsi Gunung Semeru. Tanggal 16 Januari 2021, Gunung Semeru di Jawa Timur mengalami erupsi yang mengakibatkan hujan abu vulkanik di beberapa wilayah di Kabupaten Probolinggo pada pukul 17.40 WIB-21.08 WIB (Hakim, 2021). Menurut Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Kasbani, guguran awan panas terjadi sampai dengan pukul 18.35 pada Sabtu sehingga status Gunung Semeru sampai saat ini masih berada pada level II atau 'Waspada' (Hakim, 2021). Akibat erupsi ini, masyarakat yang berada di sekitar Gunung Semeru dihimbau untuk tetap waspada terutama masyarakat di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS). Hal ini disebabkan karena jika terjadi intensitas curah hujan yang tinggi dapat menyebabkan terjadinya banjir lahar dingin. Namun hingga saat ini, belum ada laporan adanya korban jiwa akibat peristiwa erupsi Gunung Semeru (Hakim, 2021).

Berbagai peristiwa dan bencana yang terjadi diatas, tentu menjadi pengingat bagi kita untuk lebih waspada dalam menghadapi berbagai potensi bencana dan peristiwa lainnya yang akan datang. Meskipun peristiwa dan bencana alam yang terjadi sudah menjadi takdir Yang Maha Kuasa, namun kita tetap perlu melakukan berbagai upaya juga untuk memperbaiki dan meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana. Selain itu, bencana yang terjadi baik bencana alam maupun non alam dapat terjadi karena berbagai faktor, salah satunya faktor manusia (human error). Oleh karena itu, pekerja sosial perlu memahami upaya penanggulangan bencana dan pengurangan resiko bencana yang dapat kita lakukan, khususnya di tengah pandemi COVID-19 saat ini.

Menurut Coppola (2006), bencana adalah terjadinya kerusakan pada pola-pola kehidupan normal, bersifat merugikan kehidupan manusia, struktur sosial serta munculnya kebutuhan masyarakat. Sementara itu, United Nation dalam Coppola (2006) mendefinisikan bencana sebagai : “a serious disruption of the functioning of society, causing widespread human, material, or environmental losses which exceed the ability of the affected society to cope using only its own resources”. Mengacu pada definisi diatas, bencana dapat disimpulkan sebagai suatu kejadian luar biasa yang menyebabkan kerusakan pada alam dan masyarakat. Bencana dapat terjadi kapan saja dan dimana saja, namun kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana perlu terus dibangun sehingga upaya penanggulangan bencana dan pengurangan resiko bencana perlu dilakukan secara berkelanjutan dan terus-menerus.

 

Dalam Lassa, dkk (2009), penanggulangan bencana (disaster management) merupakan suatu proses yang dinamis, terpadu, dan berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas langkah-langkah yang berhubungan dengan penanganan rangkaian kegiatan yang meliputi pencegahan (preparedness), tanggap darurat (response), rehabilitasi (rehabilitation) atau evakuasi, dan pembangunan kembali (development). Sementara itu, menurut UNISDR dalam Lassa, dkk (2009), pengurangan resiko bencana adalah sebuah kerangka konseptual dari elemen-elemen yang menggandung kemungkinan dalam mereduksi kerentanan dan bencana di dalam masyarakat, atau juga mencegah/menghindari atau membatasi (memitigasi dan upaya kesiapsiagaan) dampak dari ancaman-ancaman dalam konteks yang lebih luas, yakni pembangunan berkelanjutan. Dalam konsep pengurangan resiko bencana terdapat istilah PRBBK (Pengurangan Resiko Bencana Berbasis Komunitas) yaitu cerminan dari kepercayaan bahwa komunitas mempunyai hak sepenuhnya untuk menentukan jenis dan cara penanggulangan bencana di konteks mereka.

 

Lalu bagaimana peran pekerja sosial dalam upaya penanggulangan bencana dan pengurangan resiko bencana? Pekerja sosial memiliki peran yang penting dalam upaya penanggulangan dan pengurangan resiko bencana, khususnya dalam konteks memberdayakan masyarakat dalam menghadapi bencana dalam konsep PRBBK. Pekerja sosial dapaf berperan dalam rangkaian kegiatan penanganan bencana, mulai dari pencegahan, tanggap darurat, evakuasi, rehabilitasi, hingga mitigasi dan pembangunan ulang pasca bencana. Dalam upaya penanganan bencana, pekerja sosial dapat berperan sebagai enabler, broker, educator, social planner, dan advocate, khususnya jika pekerja sosial berhubungan langsung dengan masyarakat dan melakukan kegiatan intervensi komunitas dalam rangka penanggulangan bencana dan pengurangan resiko bencana.

 

Dalam upaya penanggulangan bencana dan pengurangan resiko bencana, setidaknya ada lima peran yang dapat dilakukan oleh pekerja sosial dalam intervensi komunitas seperti yang dijelaskan dalam Adi (2013), yaitu :

 

1. Pemercepat Perubahan (Enabler)

Pekerja sosial membantu masyarakat untuk mengartikulasikan kebutuhan mereka, mengidentifikasikan masalah, dan mengembangkan kapasitas mereka agar dapat menangani masalah yang mereka hadapi secara lebih efektif. Dalam konteks penanggulangan bencana, pekerja sosial dapat melakukan peran ini dengan cara membantu masyarakat untuk bangkit setelah bencana yakni dengan membantu masyarakat menyadari dan melihat kondisi mereka dan mengartikulasikan kebutuhan apa saja yang menjadi prioritas untuk dipenuhi pasca bencana. Dalam tahapan kegiatan persiapan dan mitigasi, pekerja sosial dapat membantu masyarakat untuk mempersiapkan kegiatan mitigasi bencana seperti pemasangan tanda jalur evakuasi, pemasangan bronjong, pembuatan peta evakuasi, dan lain-lain.

 

2. Perantara (Broker)

Pekerja sosial berperan sebagai broker dengan cara menghubungan individu atau kelompok atau masyarakat yang membutuhkan layanan atau bantuan kepada pihak-pihak yang dapat membantu untuk menyediakan layanan atau bantuan tersebut. Dalam situasi bencana, masyarakat akan kebingungan dalam memenuhi kebutuhan dan keperluannya terutama jika kondisi rumah dan harta benda rusak berat sehingga masyarakat hanya bergantung pada bantuan yang diberikan. Oleh karena itu, pekerja sosial dapat segera menghubungi pihak-pihak yang dapat membantu masyarakat seperti pemerintah setempat, pemerintah pusat, NGO, dan lembaga-lembaga lainnya.

 

3. Pendidik (Educator)

Pekerja sosial dapat membantu dalam upaya penanggulangan bencana dan pengurangan resiko bencana dengan cara mengedukasi masyarakat terkait informasi kebencanaan, upaya mitigasi yang dapat dilakukan, cara evakuasi mandiri saat bencana, dan lain-lain. Sehingga pekerja sosial khususnya yang bergerak di bidang kebencanaan harus memiliki informasi dan pengetahuan tentang bencana dan penanggulangan bencana yang dapat membantunya untuk mengedukasi masyarakat.

 

4. Perencana Sosial (Social Planner)

Seorang perencana sosial, pekerja sosial mengumpulkan data mengenai masalah yang terjadi dan membuat altenatif tindakan rasional yang dapat dilakukan untuk menangani masalah tersebut. Seperti misalnya pasca bencana, biasanya masalah utama yang terjadi yaitu masalah kemiskinan dan kesehatan karena situasi sosial ekonomi masyarakat yang terganggu akibat bencana. Oleh karena itu, pekerja sosial mencoba menyusun dan mengembangkan program untuk mengatasi masalah tersebut, mencari pihak-pihak yang dapat ikut membantu/mendanai, merancang kegiatan pemberdayaan masyarakat, dan lain-lain.

 

5. Advokat (Advocate)

Dalam situasi bencana, terkadang masyarakat juga mengalami situasi yang semakin merugikan seperti misalnya akibat tidak meratanya bantuan, tidak diberikannya hak-hak ganti rugi masyarakat, atau fasilitas umum yang dibangun tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, pekerja sosial dapat berperan sebagai advokat yang membantu untuk mewakili kelompok masyarakat yang membutuhkan suatu bantuan ataupun layanan atau masyarakat yang dirugikan (disadvantaged people).



Oleh Syadza Alifa, M.Kesos

Calon Widyaiswara Ahli Pertama BBPPKS Bandung

 

 

Daftar Referensi :

Adi, Isbandi Rukminto. 2013. Intervensi Komunitas & Pengembangan Masyarakat Sebagai Upaya Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta : PT.Raja Grafindo Persada.

Coppola, Damon P. 2006. Introduction to International Disaster Management. USA: Butterworth-Heinemann.

Hakim, Rakhmat Nur. (2021). “5 Bencana Alam di Awal 2021, dari Longsor Sumedang hingga Gempa Sulbar” Kompas.com tanggal 18 Januari 2021. Diakses dari https://nasional.kompas.com/read/2021/01/18/12393831/5-bencana-alam-di-awal-2021-dari-longsor-sumedang-hingga-gempa-sulbar?page=all.

Lassa, Jonatan, Puji Pujiono, Djuni Pristiyanto, dkk. (2009). Pengelolaan Resiko Bencana Berbasis Komunitas. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

Riana, Friski. (2021).” Terdampak Gempa, Akses Jalan Kabupaten Majene - Mamuju Kini Telah Terhubung” Tempo.co. tanggal 16 Januari 2021. Diakses dari https://nasional.tempo.co/read/1423894/terdampak-gempa-akses-jalan-kabupaten-majene-mamuju-kini-telah-terhubung/full&view=ok.

Tirto. (2021). Kemenhub: Total Penumpang Sriwijaya Air 50 Orang, 12 Kru, 3 Bayi. 9 Januari 2021. Diakses dari https://tirto.id/kemenhub-total-penumpang-sriwijaya-air-50-orang-12-kru-3-bayi-f82i.

 


Bagikan :