Peran Keluarga dalam Penguatan Nilai Nilai Kesetiakawanan Sosial pada anak melalui Pembinaan Karakter sejak dini

Peran Keluarga dalam Penguatan Nilai Nilai Kesetiakawanan Sosial pada anak melalui Pembinaan Karakter sejak dini


Peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) yang jatuh pada tanggal 20 Desember 2021 dengan tema "Perkokoh Solidaritas Indonesia Sejahtera". Galang rasa kesetiakawanan sosial melawan Covid-19” menjadi momentum sekaligus tantangan bagi kita bagaimana menanamkan nilai-nilai kesetiakawanan sosial pada anak di masa Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung hampir 2 tahun. Pandemi Covid-19 menyebabkan perubahan rutinitas keseharian anak, mereka harus bermain, belajar dan menghabiskan sebagian besar waktunya dirumah.  Anak menjadi jarang bergaul dan bersosialisasi dengan teman dilingkungan sekolah, teman sebaya dan lingkungan sekitar. Anak-anak lebih akrab dengan dunia digital sehingga mereka cenderung asik dengan dunianya sendiri. Hal ini cenderung menjadikan mereka tumbuh menjadi generasi yang individualistis dan antisosial (Khofifah Indar Parawansa, 2017).

Anak merupakan amanah dan karunia Tuhan yang Maha Esa sekaligus tunas, potensi dan generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa memiliki peran strategis dan mempunyai ciri dan sifat khusus yang menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan negara di masa depan. Pengertian anak dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, menyebutkan bahwa anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.  Sedangkan anak usia dini disebutkan dalam Pasal 28 Undang Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang mana rentang usianya diantara 0 hingga 6 tahun. Usia dini merupakan fase emas dari masa pertumbuhan anak dimana kapasitas otak berkembang secara maksimal pada dimensi intelektual, emosi dan sosial anak. Perkembangan anak usia dini yang berkualitas telah diakui secara luas sebagai investasi utama dalam pembangunan manusia di Indonesia.

Data dari BPS, Susenas Maret 2020 menunjukkan bahwa terdapat sekitar 32,96 juta anak usia dini di Indonesia. Mereka hadir untuk mengisi 12,19 persen penduduk Indonesia dan menjadi bagian dari generasi alfa. Rasio jenis kelamin anak usia dini sebesar 104,16 yang menunjukkan bahwa anak usia dini laki-laki lebih banyak dari perempuan. Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional Modul Sosial Budaya dan Pendidikan pada tahun 2018 menunjukkan bahwa sebagian besar anak usia dini di Indonesia tinggal bersama ayah dan ibu kandung yaitu sekitar 89,03 persen. Fakta ini menunjukkan bahwa masih ada 10,93 persen anak usia dini yang hanya tinggal dengan salah satu orang tua mereka, baik ayah saja (1,27 persen) atau ibu saja (7,04 persen) bahkan tidak dengan keduanya (2,67 persen) yang menyebabkan proses pengasuhan diwalikan pada anggota rumah tangga lainnya.

Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri atas suami istri, atau suami istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya, atau keluarga sedarah dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sampai dengan derajat ketiga. Keluarga memiliki kewajiban dan tanggung jawab untuk : a. mengasuh, memelihara, mendidik, dan melindungi Anak; b. menumbuhkembangkan Anak sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minatnya; c. mencegah terjadinya perkawinan pada usia Anak; dan d. memberikan pendidikan karakter dan penanaman nilai budi pekerti pada Anak.

Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab pembinaan karakter anak, keluarga berperan untuk melakukan penguatan kesetiakawanan sosial yang merupakan upaya dalam memperkuat penanaman dan pelestarian kesetiakawanan sosial secara terarah, terpadu, terencana, dan berkelanjutan. Kesetiakawanan sosial adalah nilai dasar yang terwujud dalam bentuk pikiran, sikap dan tindakan saling peduli dan berbagi yang dilandasai oleh kerelaan, kesetiaan, kebersamaan, toleransi, dan kesetaraan guna meningkatkan harkat, martabat, dan harga diri setiap warga negara Indonesia.

Pembinaan karakter secara informal di lingkungan keluarga dilakukan melalui pendidikan, sosialisasi, dan pembinaan anak sejak usia dini. Karakter yang baik menurut Lickona (2013 : 82), terdiri dari mengetahui yang baik (moral knowing), menginginkan yang baik (moral feeling), dan melakukan hal yang baik (moral action), yang dalam penjelasannya disebutkan sebagai pembiasaan dalam cara berfikir, kebiasaan dalam hati, dan kebiasaan dalam tindakan. Kebiasaan yang terbentuk semasa kanak-kanak dan remaja kerap bertahan hingga dewasa. Orang tua dapat mempengaruhi pembentukan kebiasaan anak mereka, dalam hal yang baik maupun yang buruk.

Keluarga memiliki 8 (delapan) fungsi dalam mendukung pembinaan karakter anak yaitu fungsi keagamaan, fungsi sosial budaya, fungsi cinta kasih, fungsi perlindungan, fungsi reproduksi, fungsi sosialisasi dan pendidikan, fungsi ekonomi dan fungsi pembinaan lingkungan. Kedelapan fungsi ini diharapkan dapat turut mendukung dalam menanamkan nilai-nilai kesetiakawanan sosial pada anak.

Penanaman nilai-nilai kesetiakawanan sosial pada anak menjadi tugas keluarga. Hal tersebut dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada keluarga dan seluruh anggotanya untuk mengembangkan kekayaan budaya bangsa yang beraneka ragam dalam satu kesatuan. Nilai luhur yang selama ini sudah menjadi panutan dalam kehidupan bangsa tetap dapat dipertahankan dan dipelihara. Keluarga menjadi wahana pertama anak dalam belajar berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya serta belajar adat istiadat yang berlaku di sekitarnya. Nilai dasar yang harus ditanamkan dan diterapkan oleh keluarga diantaranya:

1.       Toleransi dan saling menghargai, yaitu sikap menghargai dan menerima pendirian yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian kita sendiri serta sikap toleransi dan menerima keberadaan orang lain.

2.       Sopan santun, yaitu perilaku yang sesuai dengan norma norma sosial budaya setempat. Sopan santun dipelajari anak melalui teladan atau contoh dari orangtuanya.

3.       Gotong royong, yaitu melakukan pekerjaan secara bersama sama yang dilandasi oleh sukarela dan kekeluargaan. Menumbuhkan jiwa gotong royong dalam kehidupan keluarga berkaitan dengan perilaku anak-anak untuk saling menolong dan tanpa pamrih dalam melakukan pekerjaan.

4.       Kerukunan dan kebersamaan, yaitu hidup berdampingan dalam keberagaman secara damai dan harmonis. Keluarga sebagai tempat pertama mengajarkan anak dalam kebersamaan dan kerukunan dengan anggota keluarga lainnya.

5.       Peduli, yaitu mendalami perasaan dan pengalaman orang lain, serta mempunyai sikap kepedulian terhadap masalah sosial, budaya dan adat yang berbeda. Sikap kepedulian yang ditumbuhkan dalam kehidupan keluarga akan membangkitkan rasa kekeluargaan dan kesetiakawanan, menghargai dan menghormati budaya orang lain.

6.       Cinta tanah air, yaitu kesadaran diri sebagai bangsa Indonesia yang harus menjunjung tinggi harkat dan martabat bangsa. Cinta tanah air yang ditumbuhkan dalam keluarga akan membangkitkan anak-anak untuk cinta produk dalam negeri dan menghargai perjuangan para pahlawan.

Proses penanaman nilai nilai kesetiakawanan sosial dapat dilakukan dengan beberapa metode antara lain:

1.    Internalisasi

Internalisasi adalah upaya memasukkan pengetahuan (knowing) dan keterampilan melaksanakan pengetahuan (doing) ke dalam diri seseorang hingga pengetahuan itu menjadi kepribadiannya (being) dalam kehidupan sehari-hari. Memasukkan nilai peduli dan berbagi yang merupakan nilai kesetiakawaan sangat penting agar anak memiliki sikap kepedulian terhadap masalah sosial disekitarnya.

2.    Keteladanan

“Anak adalah peniru yag baik.” Ungkapan tersebut seharusnya disadari oleh orang tua, sehingga mereka bisa lebih menjaga sikap dan tindakannya ketika berada atau bergaul dengan anak-anaknya. Keluarga dapat memberikan contoh dalam berbagi dengan sesama yang membutuhkan baik berupa barang, uang atau jasa bagi mereka yang membutuhkan. 

3.    Pembiasaan

Inti dari pembiasaan adalah pengulangan. Jika anak sudah diperkenalkan nilai berbagi dan peduli terhadap sesama, keluarga memiliki tugas dan tanggung jawab untuk membiasakan anak melakukan kebiasaan berbagi dan peduli terhadap sesame, dari berbagi hal yang kecil misalnya berbagi barang mainan, berbagi makanan. Anak juga dapat dibiasakan untuk peduli terhadap sesama dengan menjenguk teman yang sakit, peduli terhadap saudara yang terkena musibah bencana alam (banjir, tanah longsor, gunung meletus) maupun bencana sosial (kebakaran rumah, teman yang terdampak Covid-19) .   

4.    Bermain

Masa anak-anak merupakan masa puncak kreativitasnya, dan kreativitas mereka perlu dijaga dengan menciptakan lingkungan yang menghargai kreativitas, yaitu melalui bermain. Pengenalan nilai nilai kesetiakawanan sosial pada anak dapat dilakukan sambil bermain. Anak juga dapat belajar berbagi mainan dengan saudara, teman sekolah dan teman sebaya.

5.    Cerita

Sebuah cerita mempunyai daya tarik yang menyentuh anak, dengan bercerita orang tua dapat menanamkan nilai pada anaknya, sehingga dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Penanaman nilai nilai kebaikan berbagi dan peduli dapat diselipkan oleh orang tua melalui cerita yang disukai oleh anak pada saat anak akan tidur.

6.    Nasihat

Nasihat merupakan kata kata yang mampu menyentuh hati disertai dengan keteladanan. Nasihat memadukan antara metode ceramah dan keteladanan, namun lebih diarahkan pada bahasa hati. Keluarga dapat memberikan nasehat kepada anak disesuaikan dengan perkembangan dan pertumbuhan anak.

7.    Penghargaan dan Hukuman

Memberi penghargaan kepada anak penting untuk dilakukan, karena pada dasarnya setiap orang membutuhkan penghargaan dan ingin dihargai. Selain penghargaan, hukuman juga bisa diterapkan untuk membentuk karakter anak. Penghargaan harus didahulukan, dibandingkan hukuman.

 

Dari uraian diatas, dapat kita simpulkan bahwa keluarga memiliki pengaruh besar dalam membentuk karakter anak karena lingkungan keluarga merupakan yang pertama berkewajiban dan bertanggung jawab atas pengasuhan anak. Pembinaan karakter dilakukan melalui pembiasaan secara terus menerus, sabar, tak mudah menyerah serta menjadi tauladan dalam menanamkan nilai nilai luhur bangsa Indonesia dalam kehidupan sehari hari. Menanamkan rasa peduli dan berbagi merupakan nilai penting dalam kesetiakawanan sosial yang dapat diajarkan oleh keluarga kepada anak sejak dini. Mulai dari hal hal yang kecil akan memiliki dampak yang besar bagi anak  kelak kemudian hari. Penguatan nilai nilai kesetiakawanan sosial ini sejalan dengan salah satu dari tujuh agenda pembangunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) IV tahun 2020 – 2024 untuk meningkatkan kualitas dan daya saing Sumber Daya Manusia (SDM) yaitu sumber daya manusia yang sehat dan cerdas, adaptif, inovatif, terampil, dan berkarakter.


Oleh : Sumartini

  

Sumber Referensi :

1.    Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak

2.    Undang-Undang  Republik Indonesia Nomor  20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

3.    Permensos nomor 10 tahun 2015 tentang pedoman penyelenggaraan penguatan kesetiakawanan sosial

4.    http://etheses.uin-malang.ac.id/1362/6/06210052_Bab_2.pdf

5.    https://www.kompasiana.com/primata/60c2a8fc8ede4835d73b3502/asal-dan-makna-peribahasa-belajar-di-waktu-kecil-bagai-mengukir-di-atas-batu

6.    https://kominfo.go.id/content/detail/10111/penguatan-pendidikan-karakter-jadi-pintu-masuk-pembenahan-pendidikan-nasional/0/artikel_gpr

7.    Infografis%20PPK.pdf

8.    https://kominfo.go.id/content/detail/23926/wujudkan-visi-sdm-unggul-indonesia-maju-dengan-pembinaan-karakter/0/berita

9.    https://katadata.co.id/ariayudhistira/infografik/5e9a50d9104a9/5-visi-jokowi-untuk-indonesia-2019-2024

10. https://www.bappenas.go.id/files/rpjmn/Narasi%20RPJMN%20IV%202020-2024_Revisi%2028%20Juni%202019.pdf

11. https://bimbinganperkawinan.kemenag.go.id/wp-content/uploads/2020/03/Buku-8-Fungsi-Keluarga.pdf

12. https://kemensos.go.id/logo-hari-kesetiakawanan-sosial-nasional-tahun-2021

13. https://www.republika.co.id/berita/pr2prp423/pendidikan-tanggung-jawab-siapa

14. https://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan_karakter

15. https://pauddikmasdiy.kemdikbud.go.id/artikel/mengapa-paud-penting-bagi-perkembangan-anak/

16. https://bimbinganperkawinan.kemenag.go.id/wp-content/uploads/2020/03/Buku-8-Fungsi-Keluarga.pdf

17. https://retizen.republika.co.id/posts/14906/learning-lost-dan-komitmen-penguatan-pendidikan-karakter

18. Profil Anak Usia Dini 2020, BPS

19. Peran Keluarga dalam Pendidikan Nilai dan Karakter – BP PAUD dan Dikmas DIY (kemdikbud.go.id)

 

 

 


Bagikan :