Penghidupan Berkelanjutan (Sustainabilty Livelihood) Sebagai Suatu Pendekatan Pemberdayaan Bagi Komunitas Adat Terpencil

Penghidupan Berkelanjutan (Sustainabilty Livelihood) Sebagai Suatu Pendekatan Pemberdayaan Bagi Komunitas Adat Terpencil

Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil (KAT) yang merupakan salah satu prioritas pembangunan nasionaldiharapkan menjadi upaya mengatasi keterpencilan dan membuka aksesibilitas agar KAT mendapatkan pelayanan kesejahteraan sosial yang sama, berkeadilan dan merata. Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2020 ini bertemakan “Peningkatan Sumber Daya Manusia untuk Pertumbuhan Berkualitas”, memiliki 5 prioritas nasional. Kelima prioritas tersebut meliputi; (1) Pembangunan Manusia dan Pengentasan Kemiskinan, (2) Konektivitas dan Pemerataan, (3) Nilai Tambah Ekonomi dan Kesempatan Kerja, (4) Ketahanan Pangan, Air, Energi dan Lingkungan Hidup, serta (5) Stabilitas Pertahanan dan Keamanan. Pada RKP tahun 2020 tersebut, kegiatan pemberdayaan KAT menjadi bagian dalam prioritas nasional kesatu dengan kegiatan prioritas “Kesejahteraan Sosial”.

Permasalahan keterpencilan dan keterisolasian yang dialami warga KAT, dapat dipandang dari kenyataan fisik berupa kondisi geografis yang sulit dijangkau serta fasilitas infrastruktur yang masih minim atau bahkan nihil. Kemudian pada sisi yang lain adalah adanya fakta permasalahan sosial dimana warga KAT pada umumnya belum melebur dan berintegrasi kedalam sistem kemasyarakatan yang lebih luas. Dalam kaitannya dengan permasalahan diatas, maka strategi pendekatan yang perlu kita bangun harus sinergis dan menyeluruh antara pendekatan pemberdayaan sumber daya manusia (SDM), penataan lingkungan dan pengembangan ekonomi/usaha, atau yang selama ini dikenal dengan konsep pendekatan Tri Bina (Bina Manusia, Bina Lingkungan dan Bina Ekonomi/Usaha). Strategi pendekatan inilah yang disebut dengan pendekatan penghidupan berkelanjutan. Pendekatan ini semata-mata terinspirasi pada pengalaman tahun-tahun sebelumnya, dimana hasil pembangunan fisik seperti rumah seringkali tidak ditempati warga KAT karena ketiadaan penghidupan seperti sumber air bersih dan mata pencaharian sehingga kemampuan ekonomi warga KAT cenderung kurang meningkat karena pendampingan yang tidak intensif.

Pendekatan penghidupan (livelihoods approach) memiliki perhatian yang pertama dan utama pada manusia (people center) sebagai subyek yang penting. Modal manusia menunjukkan kemampuan seseorang dalam memperoleh akses yang lebih baik terhadap kondisi penghidupan mereka (Baiquni, 2006). Penghidupan berkelanjutan bagi warga KAT pada hakikatnya merupakan kegiatan yang dibutuhkan oleh setiap orang/masyarakat untuk menjalankan kehidupannya dengan menggunakan kapasitas/kemampuan serta kepemilikan sumber daya (asset) untuk mencapai tingkat kehidupan yang diharapkan melalui cara berkelompok.Selain itu, pendekatan  penghidupan ini sendiri oleh masyarakat dianggap sebagai salah satu bentuk pembinaan, dimana masyarakat difasilitasi untuk menggali potensi mereka, potensi komunitas mereka, serta memahami berbagai permasalahan yang mereka hadapi, serta tantangan dan visi kedepan. Penghidupan dikatakan berkelanjutan jika ia                                

a)     elastis dalam menghadapi kejadian-kejadian yang mengejutkan dan tekanan tekanan dari luar; 

b)     tidak tergantung pada bantuan dan dukungan luar (atau jika tergantung,bantuan itu sendiri secara ekonomis dan kelembagaan harus sustainable);

c)     mempertahankan produktivitas jangka panjang sumberdaya alam; da

d)     tidak merugikan penghidupan dari, atau mengorbankan pilihan-pilihan penghidupan yang terbuka bagi, orang lain. 

Dimensi keberlanjutan meliputi berbagai aspek yakni lingkungan, ekonomi, sosial dan kelembagaan.Penghidupan berkelanjutan adalah program pengembangan penghidupan kelompok rentan yang berbasis mata pencaharian. Program ini berusaha memetakan penguasaan aset mereka, baik aset SDM, modal sosial, keuangan, SDA, maupun infrastruktur sehingga dapat diformulasikan suatu strategi pengidupan berkelanjutan untuk mengatasi persoalan tersebut. Program ini menitikberatkan pada  peningkatan akses usaha dan akseskesempatan kerja bagi warga KAT melalui  strategi penguatan kelompok, pendekatan berbasis kebutuhan dan inisiatif  warga. Kegiatan ekonomi warga KAT tersebut dikembangkan berbasis pada potensi dan sumber daya yang ada di lokasi KAT dan disesuaikan dengan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki warga.Pengembangan ekonomi lokal tersebut melalui pemanfaatan bahan baku lokal guna mengembangkan aktivitas ekonomi di lokasi, seperti pertanian, perkebunan, dan peternakan (budidaya), industri rumah tangga, produk hasil kerajinan yang memiliki nilai estetik serta memiliki nilai ekonomi yang tinggi, seperti ukiran, pernak-pernik, batik dan lain-lain. Konsep pemberdayaan ekonomi ini mengedepankan kepada kemandirian warga dalam mengelola sumber daya ekonomi. 

Dalam aspek sosial budaya warga KAT, penghidupan berkelanjutan perlu menyentuh nilai-nilai kearifan lokal warga KAT yang semakin tergerus perubahan agar dapat tetap dikembangkan menjadi ciri khas dan  terpelihara dengan baik sebagai modal sosial bagi suatu komunitas. Terhadap aspek lingkungan ialah bagaimana dalam konsep pengihidupan berkelaonjutan dalam kemampuan kelompok mengelola asset sumber daya alam dan akses terhadap sarana lingkungan yang representatif karena mempengaruhi kualitas hidup warga, misalnya sanitasi lingkungan pemukiman yang sehat dapat dicapai melalui pola hidup sehat salah satunya denan ketersedian  sarana air bersih, mck komunal, sarana pembuangan limbah (sampah) keluarga, balai social. Dalam peningkatan akses pemasaran hasil usaha ke luar lokasi misalnya terkait ketersedian akses jalan lingkungan dan prasarana lainnya.

 

Oleh : M. Luksor Pratama, SST

Sumber : Baiquni, M. 2006. Pengelolaan Sumber Daya Pedesaan dan Strategi Penghidupan Rumah Tangga di Provinsi DIY Pada Masa Krisis (1998-2003). No. 138-142. Yogyakarta. 


Bagikan :