Pengasuhan Anak Tuna Netra

Pengasuhan Anak Tuna Netra


Anak adalah mereka (laki-laki atau perempuan) yang belum dewasa atau belum mengalami pubertas, dan sedang menjalani suatu proses perkembangan sangat pesat dan fundamental bagi kehidupan selanjutnya. Ia memiliki karakteristik yang tidak sama dengan orang dewasa, misalnya saja bersifat egosentris, memiliki rasa ingin tahu yang besar, penuh fantasi, daya konsentrasi yang cenderung pendek, peniru ulung, dan mereka adalah sosok pembelajar paling potensial. Dengan mengenali beberapa karakter khas tersebut, diharapkan orang tua dapat lebih memahami dunia anak-anak mereka sehingga nantinya dapat menerapkan pola asuh yang memadai.

Kata “tunanetra” berasal dari kata “tuna” yang artinya rusak dan kata “netra” yang artinya adalah mata, jadi kata tunanetra adalah rusak penglihatan. Sedangkan orang yang buta adalah orang yang rusak penglihatannya secara total. Dengan kata lain orang yang tunanetra belum tentu mengalami kebutaan total tetapi orang yang buta sudah pasti tunanetra.

Tunanetra adalah seseorang yang karena sesuatu hal mengalami disfungsi visual atau kondisi penglihatan yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Seseorang dikatakan tunanetra apabila menggunakan kemampuan perabaan dan pendengaran sebagai saluran utama dalam belajar atau kegiatan lainnya dan ada juga mengatakan tunanetra adalah kondisi dari indera penglihatan yang tidak sempurna yang tidak dapat berfungsi sebagai orang awas (normal).

Ketunanetraan seringkali menimbulkan rasa ketidakberdayaan pada orang yang mengalaminya dan menimbulkan rasa keputusasaan. Tunanetra memandang dirinya sebagai seseorang yang tidak berdaya dan inkompeten, ditambah dengan perasaan cemas dan depresi, akan mengakibatkan kehilangan rasa harga diri karena dia tahu bahwa untuk memiliki kehidupan yang berkualitas orang harusa dapat berbuat sesuatu untuk memperoleh apa yang diinginkan. Apabila keadaan ini diperparah oleh sikap negatif masyarakat terhadap kecacatan netra, maka individu yang bersangkutan akan menjadi putus asa.

Lalu, pola asuh seperti apa yang dapat diterapkan secara tepat pada anak? Pola asuh sebagai sebuah proses  bagaimana orang tua memperlakukan dan cara berinteraksi dengan anak didalamnya meliputi aktivitas yang bersifat mendidik dan membimbing, memberikan perhatian, mengantarkan anak pada kedewasaan, serta penerapan aturan dalam keluarga. Pola asuh akan membentuk dasar kepribadian seseorang, mulai dari konsep diri, kemampuan menyelesaikan masalah, dan juga pembentukan ketrampilan atau kecakapan hidup (life skills). Pada intinya, pola asuh akan turut menentukan apakah anak kelak menjadi sosok yang tangguh (punya daya juang) atau justru rentan terhadap sumber stress.

Secara umum pola asuh ada beberapa tipe, diantaranya :

1.   Pola asuh permisif, dicirikan dengan apa pun yang ingin dilakukan anak akan diperbolehkan, dan orangtua cenderung sibuk dengan pekerjaan atau kepentingan yang lain. 

Contohnya anak dibebaskan mengendarai motor seorang diri padahal usia belum mencukupi dengan alasan anak memaksa atau ingin seperti anak yang lain.

2.   Pola asuh otoriter, yaitu pola pengasuhan anak yang bersifat memaksa, keras dan kaku di mana orangtua akan membuat berbagai aturan yang “saklek” dan harus dipatuhi oleh anak-anaknya tanpa mau tahu perasaan sang anak.

Contohnya, anak diharuskan masuk kuliah jurusan tertentu, sementara ia memiliki harapan yang lain.

3.   Pola asuh otoritatif, merupakan pola asuh yang memberi kebebasan pada anak untuk berkreasi dan mengeksplorasi berbagai hal sesuai dengan kemampuan anak dengan memberikan batasan dan pengawasan yang proporsional dari orangtua.

Contohnya anak diberikan kesempatan memutuskan akan mengerjakan PR atau tidur terlebih dahulu dengan mempertimbangan segala konsekuensinya.

 

Sebagai orang tua, tugas kita adalah mempersiapkan anak agar siap menghadapi masa depan sesuai dengan jamannya. Mengasuh anak idealnya harus memperhatikan beberapa aspek, antara lain :

1.   Usia anak.

Pola asuh harus dinamis sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan anak. Memperlakukan anak disaat usia mereka telah cukup dewasa dengan sikap seperti pada anak kecil tentu akan menimbulkan rasa tidak nyaman bagi mereka, karena itu perlakukan sesuai dengan usia perkembangannya.

2.   Pahami kebutuhan dan kemampuan anak.

Setiap anak terlahir unik, berbeda satu dengan lainnya meski itu saudara kandung sekalipun. Karena itu, terima apa yang melekat dalam diri mereka, fasilitasi kemampuan dan  minatnya, serta kuatkan perasaannya jika ada keterbatasan yang mungkin dimiliki. Jangan membandingkan anak dengan saudara kandung atau anak lain.

3.   Orang tua harus kompak

Ketika ayah dan ibu menunjukkan perbedaan pola asuh, anak cenderung akan memihak atau memilih yang dianggap lebih menyenangkan, tidak jarang pula anak merasa kecewa dan sedih ketika melihat orang tua yang bertengkar karena masing-masing berpegang pada keyakinannya. Dalam hal ini, orang tua diharapkan dapat berkompromi dan sepakat dalam menerapkan nilai-nilai yang diperbolehkan dan tidak.

4.   Perlunya contoh perilaku positif dari orang tua

Terkadang, orang tua meminta anak bersikap sesuai harapan mereka, misalnya jujur, tidak boros, atau melarang gunakan gadget. Sementara dalam keseharian, orang tua justru kerap berbohong, gemar menghamburkan uang, atau malah sibuk dengan handphone didepan anak. Anak membutuhkan sikap dan contoh yang positif dari orang tua, karena itu, tanamkan dan disaat yang sama tunjukkan nilai-nilai kebaikan tersebut dihadapan anak.

5.   Komunikasi dua arah yang efektif

Luangkanlah waktu untuk mengobrol dengan anak. Jadilah sosok pendengar yang baik, tidak menginterupsi cerita anak, dan berikan mereka kesempatan untuk berpendapat. Berikan pertanyaan atau pernyataan yang sekiranya dapat merangsang kemampuan anak berargumen dan menganalisa suatu masalah dari sudut pandang mereka.

6.   Disiplin

Sikap disiplin tidak dapat tumbuh begitu saja, melainkan harus dimulai dari hal kecil dan sederhana. Misalnya saja membereskan tempat tidur setiap bangun tidur, mempunyai jadwal harian untuk kegiatan sehari-hari, dan sebagainya. Dengan sikap disiplin pula, anak akan belajar bertanggung jawab terhadap kebutuhan pribadinya.

7.   Konsisten

Konsistensi erat kaitannya dengan pemberlakuan aturan. Jangan sampai ada perbedaan karena hal itu akan membuat anak menganggap enteng setiap aturan yang kita terapkan. Misalnya saja, kita melarang anak makan permen, namun dilain waktu kita membolehkan anak membeli permen untuk ia makan. Jika sikap kita seolah berubah-ubah, maka anak akan cenderung menilai bahwa kita tidak tegas dan pada akhirnya menganggap hal tersebut bukan lagi sebuah aturan.

 

Melihat dari beberapa aspek yang telah dijelaskan sebelumnya, maka mengasuh anak berkebutuhan khusus misalnya tunanetra juga memiliki cara pengasuhan sendiri. Pengalaman memiliki anak tunanetra menimbulkan berbagai macam perasaan pada orangtua dan keluarga. Umumnya perasaan yang timbul adalah perasaan protektif bahkan cenderung over protective dan kurang mendukung ketika anak tunanetra melakukan aktivitas biasa di rumah sekalipun, sehingga ketika anak dewasa akan menjadi kurang mandiri dan bergantung kepada orang lain. Padahal yang seharusnya dilakukan oleh orangtua yang memiliki anak tunanetra adalah memberikan bimbingan orientasi dan mobilitas, misalnya mengenakan situasi dan arah dimana anak berada. Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan untuk melatih kemandirian anak tunanetra :

1.   Membiarkan anak tunanetra menentukan pilihannya

Seperti halnya pada anak-anak awas (bukan tunanetra), orang tua juga bisa mengajarkan kemandirian pada anak tunanetra dengan cara menentukan pilihan. Tanya kepada anak tunanetra, hari ini dia ingin makan telur goreng atau ayam goreng, pergi ke taman atau ke supermarket, dan digendong ayah atau ibu. Meskipun sepele, tapi tindakan ini bisa membentuk sikap mandiri pada anak ketika harus memutuskan dan menentukan berbagai pilihan dalam hidupnya kelak.

2.   Membiarkan anak tunanetra melakukan kegiatan sendiri dengan pengawasan

Hal ini mungkin merupakan hal yang cukup sulit dilaksanakan,namun daripada terus menerus membantu atau malah melakukan semua hal untuk anak tunanetra, akan lebih baik jika orang tua melakukan pengawasan dalam jarak aman. Orang tua dapat memberikan pertolongan jika anak tunanetra menyatakan butuh bantuan atau situasi mengharuskan mereka untuk dibantu. Dengan memberikan kesempatan pada mereka untuk melakukan kegiatan tertentu, bisa jadi adalah cara terbaik mengajarkan kemandirian pada anak tunanetra. Sebagai tambahan, orang tua atau keluarga dapat memberikan informasi, pengetahuan atau orientasi pada anak tunanetra, sebelum mereka memulai kegiatannya.

3.   Memberikan tugas yang sesuai dengan usianya

Jika usia anak tunanetra telah mampu melakukan kegiatan sehari-hari atau Activity Daily Living (ADL), maka orang tua atau keluarga juga bisa mulai mengajarkan kemandirian melalui cara tersebut. Contoh kegiatan ADL yang bisa dilakukan dengan tahapan usia anak tunanetra, yakni merapikan tempat tidur, mencuci piring, membersihkan meja makan dan sebagainya. Orang tua dan keluarga bisa mengajak anak tunanetra melakukan kegiatan ADL dari hal yang paling sederhana terlebih dahulu sesuai dengan usia anak tunanetra. Jangan lupa katakan “tolong” saat meminta anak tunanetra melakukan kegiatan ADL karena ini juga dapat mengajarkan sikap yang baik pada anak tunanetra ketika dia membutuhkan bantuan dari orang lain.

4.   Ajari anak dengan menggunakan benda nyata atau miniatur

Tunanetra mengalami hambatan dalam penglihatan atau indera visual sehingga arah dalam mengajari anak tunanetra yakni secara kongkrit atau langsung, ia akan sangat sulit untuk menerima konsep saja. Contohnya ketika mengajarkan berhitung, kita bisa mengambil benda seperti batu kemudian anak memindah batu ke tempat yang ditentukan sambil membilang. Selanjutnya bila batu sudah terkumpul langsung ditanya jumlah batu tadi. Bila benar berikan pujian, bila belum benar ulangi memindahkan batu.

5.   Ajari anak suatu hal secara menyeluruh dan berkesinambungan

Maksud dari mengajari secara menyeluruh adalah misalnya saja kita mengajarkan tentang hewan sapi. Hindari mengajari anak tunanetra per bagian misalnya saja hanya kepala sapi, atau kaki sapi. Kita bisa mengajarkan hewan tersebut  menggunakan miniatur hewan sapi. Kemudian langsung dijelaskan menyeluruh kalau sapi itu ada kepalanya, ada kakinya, ada ekornya, sambil anak diarahkan meraba miniatur sapi. Ajarkan juga dari hal mudah ke hal yang semakin rumit dan kompleks.

6.   Ajari anak belajar sambil beraktivitas

Pembelajaran pada anak tunanetra sangat penting dalam melibatkan aktivitas dalam prosesnya. Seperti contoh sebelumnya diatas, bahwa kita bisa mengajari anak membilang sambil memindahkan batu, mengenal hewan sapi dengan meraba miniatur, dengan begitu selain anak tidak bosan, anak juga dapat dengan mudah memahami apa yang dipelajari.

7.   Ajari anak suatu hal dengan melibatkan berbagai indera

Anak tunanetra mengalami hambatan indera penglihatan, namun karena hambatan tersebut indera lain bisa menjadi lebih sensitif. Ajarkan anak suatu hal dengan melibatkan berbagai indera misalnya ketika mengajarkan tentang ayam maka anak bisa belajar meraba untuk melatih kepekaan perabaan bagaimana bulu ayam apakah halus atau kasar, kemudian pada indera pendengaran anak diperdengarkan suara ayam, kemudian indera pengecap anak dikenalkan daging ayam, dan indera lainnya sehingga anak memahami secara menyeluruh tentang ayam.

8.   Memberikan apresiasi saat anak tunanetra berhasil menyelesaikan suatu pekerjaan

Ketika anak tunanetra telah mampu melakukan banyak hal dengan mandiri, sangat dianjurkan orang tua dan keluarga memberikan apresiasi. Tidak selalu dalam bentuk hadiah atau pujian. Akan tetapi lebih pada kata “terima kasih” atau tindakan yang menunjukkan bahwa dia adalah anak tunanetra yang membanggakan. Di samping akan membuat anak tunanetra lebih percaya diri, cara ini juga akan menjadi pendorong untuk mengajarkan kemandirian pada anak tunanetra lebih lanjut.

9.   Mencari Lembaga Pendampingan yang Tepat

Bagaimana pun ketika orang tua atau keluarga memiliki anak dengan kebutuhan khusus seperti penyandang tunanetra, mengajarkan kemandirian menjadi hal yang juga membutuhkan perhatian khusus pula. Tidak ada salahnya jika orang tua mencari seorang ahli atau lembaga yang dapat mendampingi dalam mengasuh serta mendidik anak tunanetranya. Dengan adanya ahli, lembaga pendampingan atau bahkan rekan sesama orang tua yang memiliki anak tunanetra, akan mampu memberikan motivasi dan support system yang dibutuhkan setiap orang tua dan keluarga dalam menciptakan ruang yang inklusi bagi anak-anaknya.

 

Setiap anak memiliki keunikannya masing-masing. Tugas kita sebagai orang tua adalah menjaga dan mendidik anak dengan baik karena anak merupakan anugerah dan titipan dari Tuhan, kelak kita akan dimintai pertanggung jawabannya. Menerima dengan ikhlas seluruh kelebihan dan kekurangan anak adalah hal terbaik yang dapat kita lakukan akan mampu melihat segala potensi yang dimiliki oleh anak dan mampu memaksimalkan segala potensi dan kemampuan anak, baik anak awas (non tunanetra) dan anak tunanetra)

 

Sumber :

http://grhasia.jogjaprov.go.id

https://mitranetra.or.id

https://edukasi.kompas.com

dan sumber lainnya

 

 

 

Oleh    :

Nur Apriani Listyarini Yusrin, S.Pd

Penyuluh Sosial Pertama

RPSDSN Bhakti Candrasa Surakarta

             

 


 

 

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Bagikan :