Pendekatan Alternatif dalam Menghadapi Ancaman Bahaya Narkoba di Tengah Pandemi Covid-19


Sampai dengan saat ini upaya penanggulangan penyalahgunaan narkoba yang dilakukan oleh lembaga formal pemerintah (DepKes, Imigrasi, Bea dan Culai, Polri, BNN, BNP, dan lain-lain) maupun oleh lembaga swadaya masyarakat lainnya masih belum optimal, kurang terpadu dan cenderung bertindak sendiri-sendiri secara sektoral. Oleh sebab itu masalah penyalahgunaan narkoba ini tidak tertangani secara maksimal, sehingga kasus penyalagunaan narkoba makin hari bukannya makin menurun tapi cenderung semakin meningkat baik secara kualitas maupun kuantitas. Ancaman bahaya narkoba telah melanda sebagian besar negara dan bangsa di dunia. Kecenderungan peredaran narkoba sebagai salah satu cara mudah memperoleh keuntungan material dalam jumlah yang besar, kini telah berkembang jauh bahkan di kondisi pandemi Covid-19 ini.

Di tengah gencarnya perhatian bangsa ini akan wabah virus Corona (Covid-19) yang makin hari semakin masif, ada satu hal yang tak boleh terlupakan, yakni bahaya penyalahgunaan narkoba yang terus merusak anak bangsa negeri ini. Kita tahu saat ini wabah Covid-19 menyita seluruh perhatian kita. Tapi jangan lupa ancaman narkoba yang lebih berbahaya di masa depan juga belum berakhir. Dalam sebulan terakhir ini saja Badan Narkotika Nasional bersama Bea dan Cukai menggagalkan peredaran gelap narkoba jenis shabu jaringan Aceh-Medan dengan barang bukti sebanyak 32 Kg di Asahan, Sumatera Utara.

Bukan hanya kasus peredaran gelap narkoba, bahkan di tengah pandemi Corona/ Covid-19 ini ada sederet artis tanah air yang lagi-lagi terciduk kasus narkoba. Dan berita teraktual saat ini ada artis bersama sang suami yang merupakan seorang pengusaha, terciduk aparat kepolisian karena kasus penyalahgunaan narkoba. Hal ini sungguh sangat memperihatinkan. Karena pada situasi pandemi yang masih melanda negeri ini, telah banyak hal yang membuat aktivitas kita terhenti, namun di sisi lain masalah peredaran gelap dan penyalahgunaan narkoba tidak pernah berhenti di Negara kita. Meski demikian, dalam konteks upaya penanggulangan narkoba, masyarakat perlu dan harus terus diingatkan bahwa ancaman narkoba sudah sejak awal sebelum serangan virus Corona ini muncul.

Bahkan Menteri Sosial sebelumnya, Khofifah Indar Parawansa menyebut bahwa penyalahgunaan narkoba saat ini sudah menjadi bencana sosial di Indonesia. Ia mengingatkan kondisinya bisa bertambah buruk andaikan tidak segera diatasi bersama. "Masalah ini bisa berkembang menjadi bencana kemanusiaan."  Untuk menghindari semakin merajalelanya penyalahgunaan narkoba, Khofifah menegaskan perlunya langkah efektif dan kerja sama dengan banyak pihak. Dalam situasi sekarang ini upaya sosialisasi bahaya narkoba yang biasanya menghadirkan massa besar tentunya tidak dapat lagi dilakukan untuk sementara waktu. Namun demikian, BNN ataupun lembaga yang bergerak di bidang penanganan masalah narkoba tentunya harus jeli untuk mengambil langkah pencegahan yang tetap aman dan memberikan dampak yang signifikan kepada masyarakat. Dari sekian banyak opsi yang ada, sebagai contohnya yaitu Program BNN menyapa dengan mobil keliling adalah salah satu program yang telah dijalankan oleh BNNP Aceh untuk sosialisasi. Program ini dianggap aman untuk dilaksanakan, mengingat petugas tidak perlu berinteraksi langsung dengan masyarakat.

Melalui program BNN menyapa ini petugas mengkampanyekan bahaya narkoba di lokasi-lokasi yang strategis di kawasan kota dan pedesaan. Lembaga yang terkait dengan penangan permasalahan Napza pun bisa melakukan peran aktif dengan cara menghimbau kepada masyarakat untuk melakukan pencegahan penyebaran virus Corona dengan cara melakukan pola hidup bersih, sehat, menjaga jarak, selalu mencuci tangan baik setelah keluar rumah maupun aktivitas di dalam rumah, tidak keluar rumah jika tidak dalam keperluan yang mendesak dan rajin berolahraga. Khusus bagi para pelajar yang diberikan libur agar memanfaatkan waktu belajar di rumah dengan mengerjakan tugas yang telah diberikan oleh guru. Sebagai seorang penyuluh sosial juga bisa turut serta dalam penanganan permasalahan Napza di tengah pandemi Covid-19 ini, yaitu dengan cara membagikan pamflet tentang bahaya narkoba dan memberikan masker secara gratis kepada pedagang pasar, kepada civitas akademik baik itu Universitas Negeri maupun Universitas Swasta, dan masyarakat umum lainnya. Semua itu dilakukan sebagai upaya mencegah penyalahgunaan narkoba dan penularan virus Corona di tengah masyarakat. Walau dalam kondisi krisis seperti saat ini kita tetap harus bekerja keras dan dituntut kreatif dan inovatif dalam melaksanakan upaya pencegahan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan yang berlaku.

Virus Corona/ Covid-19 dapat menyerang beberapa populasi yang memiliki gangguan penggunaan narkoba, hal ini dikarenakan Covid-19 adalah jenis virus yang menyerang paru-paru, mereka yang pada umumnya ialah perokok tembakau, pemakai ganja maupun vape dapat saja terancam. Jika ada yang mengatakan bahwa pengguna narkoba aman dari serangan Covid-19, tentunya ini merupakan hal yang keliru. Dikarenakan ketika paru-paru seseorang terkena flu atau infeksi lain, efek buruk dari merokok atau zat menguap pada narkoba yang digunakan orang tersebut jauh lebih serius akibatnya dari pada orang-orang yang tidak merokok atau menggunakan narkoba. Selain merokok dan penggunaan vape orang yang menyalahgunakan narkoba jenis opioid dan metamfetamin dapat berisiko mengalami komplikasi serius Covid-19, karena efek dari zat ini terhadap pernapasan dan kesehatan paru-paru si pengguna. Kapasitas paru-paru yang terpengaruh Covid-19 juga dapat membahayakan bagi penyalahguna narkoba. Begitu pula dengan pengguna narkoba jenis shabu. Metamfetamin (shabu) telah terbukti menghasilkan kerusakan paru yang signifikan karena sangat terikat pada jaringan paru. Hal ini harus dapat diketahui dan dipahami oleh masyarakat bahwa orang yang menggunakan narkoba lebih cenderung berisiko terkena Covid-19 dan berbahaya dari pada mereka yang hanya sekedar merokok.

Mereka yang sehat saja jika terjadi atau melakukan kontak fisik pada orang yang terkonfirmasi Covid-19 sedapat waktu berubah status menjadi Orang Dalam Pemantauan (ODP). Belum lagi pengguna narkoba yang kita tidak ketahui terkonfirmasi Covid-19 atau tidak. Ini yang harus disadari oleh masyarakat terlepas mereka pengguna narkoba atau tidak bahwa penularan Covid-19 ini sangatlah cepat. Jika ditelisik lebih mendalam, kenyataan miris ini tentu menghentakkan kita semua. Jika dilihat dari kasus-kasus yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir ini, tingkat kematian yang diakibatkan oleh Covid-19 sangatlah cepat pertumbuhannya. Belum lagi masalah kematian yang diakibatkan oleh penyalahgunaan narkoba berdasarkan hasil penelitian Puslitkes Universitas Indonesia dan Badan Narkotika Nasional yang dalam 1 hari bisa menewaskan 30-35 orang dalam sehari. Ini tentunya sangat sulit diatasi secara bersamaan, karena penyelesaiannya melibatkan banyak faktor dan kerjasama dari semua pihak yang bersangkutan, seperti pemerintah, masyarakat, media massa, keluarga, dan pihak-pihak lain.

Di sini akhirnya kita dapat menyadari bahwa penyuluhan dan informasi di masyarakat mengenai bahaya peredaran gelap dan penyalahgunaan narkoba serta Covid-19 sampai saat ini belumlah maksimal. Untuk itu penyuluhan dan tindakan edukatif harus direncanakan, diadakan dan dilaksanakan secara efektif dan intensif kepada masyarakat yang disampaikan dengan sarana atau media yang tepat dan sesuai untuk masyarakat disamping upaya kita dalam pencegahan penyebaran Covid-19. Melihat persoalan-persoalan yang terjadi akibat bahaya narkoba ini, maka setidaknya ada beberapa solusi alternatif atau beberapa pendekatan yang bisa dilakukan. Pertama, pendekatan agama. Setiap agama mengajarkan pemeluknya untuk menegakkan kebaikan, menghindari kerusakan, baik pada dirinya, keluarganya, maupun lingkungan sekitarnya. Sedangkan bagi mereka yang sudah terlanjur masuk dalam kubangan narkoba, hendaknya diingatkan kembali nilai-nilai yang terkandung di dalam ajaran agama yang mereka yakini. Dengan jalan demikian, diharapkan ajaran agama yang pernah tertanam dalam benak mereka mampu menggugah jiwa mereka untuk kembali ke jalan yang benar.

Kedua, pendekatan psikologis. Dengan pendekatan ini, mereka yang belum terjamah ‘kenikmatan semu’ narkoba, diberikan nasihat dari ‘hati ke hati’ oleh orang-orang yang dekat dengannya, sesuai dengan karakter kepribadian mereka. Langkah persuasif melalui pendekatan psikologis ini diharapkan mampu menanamkan kesadaran dari dalam hati mereka untuk menjauhi penyalahgunaan narkoba. Adapun bagi mereka yang telah larut dalam ‘kehidupan gelap’ narkoba, melalui pendekatan ini dapat diketahui, apakah mereka masuk dalam kategori pribadi yang ekstrovert (terbuka), introvert (tertutup), atau sensitif. Dengan mengetahui latar belakang kepribadian mereka, maka pendekatan ini diharapkan mampu mengembalikan mereka pada kehidupan nyata. Memotivasi mereka untuk mau melakukan upaya pemulihan baik itu secara mandiri maupun melalui program rehabilitasi. Ketiga, pendekatan sosial. Baik bagi mereka yang belum, maupun yang sudah masuk dalam ‘sisi kelam’ narkoba, melalui pendekatan ini agar tersadarkan bahwa mereka merupakan bagian penting dalam keluarga dan lingkungannya. Dengan penanaman sikap seperti ini, maka mereka merasa bahwa kehadirannya di tengah keluarga dan masyarakat memiliki arti penting, dan itu mendorong mereka terbentuknya self Regulation dan Asertiveness dalam dirinya, dan akan tertanam di dalam dirinya untuk menghindari setiap ancaman dan ajakan yang merugikan mereka.

Masyarakat harus dapat menerima dan merangkul mereka sebagai bagian dari komunitas sosialnya. Tujuannya adalah agar masyarakat dapat menghidupkan sistem imun sosialnya. Inilah beberapa pendekatan yang diharapkan mampu menggerakkan hati masyarakat untuk selalu sadar secara kolektif dan mengantisipasi dalam berbagai hal. Baik itu masalah narkoba maupun masalah Covid-19. Kita semua mengharapkan kehidupan saat ini berjalan dengan baik. Namun di tengah cobaan Covid-19 ini kita tergerak untuk saling menghimbau dan mengingatkan sesama kita bahwa ancaman keberlangsungan hidup itu akan selalu ada pada setiap zaman. Semoga kita terhindar dari jeratan narkoba, terutama saat kondisi pandemi Covid-19 seperti saat ini. Karena seperti yang sudah kita ketahui bersama, bahwa narkoba akan terus membayang-bayangi kehidupan masyarakat kita, bukan hanya saat ini, tetapi sampai nantinya. Oleh karena itu, pentingnya kesadaran dari setiap individu untuk menjauhkan diri dari narkoba, agar kita terbebas dari ancamannya dan diharapkan bahwa ancaman narkoba tidak akan menjadi bencana sosial di tengah pandemi Covid-19 ini.

 

Dehan Rafflesia


Bagikan :