Pendampingan Lanjut Usia Bagi Caregiver

Pendampingan Lanjut Usia Bagi Caregiver


 

Kegiatan pendampingan pada lansia telah berjalan di Indonesia oleh berbagai sektor baik pemerintah maupun masyarakat. Kegiatan pendampingan ini dilaksanakan oleh pendamping dengan menggunakan istilah yang berbeda-beda. Di Kementerian Sosial, jenis pekerjaan pendampingan ini disebut sebagai pendamping atau pekerja sosial. Kementerian Kesehatan menyebut caregiver sebagai asisten perawat dengan nama pramurukti, sementara BKKBN dalam program Bina Keluarga Lansia (BKL) yang menjadi pendamping lansia adalah anggota keluarga yang mempunyai lansia, dengan pembinaan oleh kader.

Istilah caregiver lansia digunakan bagi tenaga kerja Indonesia yang bekerja sebagai pendamping lansia di luar negeri. Pendamping lansia di beberapa negara menggunakan berbagai istilah di antaranya caregiver, care taker atau care worker. Secara umum, caregiving (pendampingan) adalah proses pendampingan bagi individu atau kelompok yang mengalami keterbatasan fisik, mental dan atau gangguan perkembangan sehingga tidak mampu merawat dirinya sendiri baik sebagian atau sepenuhnya, sehingga memerlukan caregiver.

Caregiver formal maupun informal adalah seseorang yang telah lulus pendidikan atau pelatihan untuk melakukan pendampingan pada seseorang atau kelompok yang tidak mampu merawat dirinya sendiri, baik sebagian atau seluruhnya karena mengalami keterbatasan fisik dan atau mental.

Caregiver formal adalah seseorang yang telah memiliki sertifikat kompetensi dalam melakukan pendampingan pada seseorang atau kelompok yang tidak mampu merawat dirinya sendiri, baik sebagian atau seluruhnya karena mengalami keterbatasan fisik dan atau mental. Caregiver Lanjut Usia formal maupun informal adalah seseorang yang telah lulus pendidikan atau pelatihan untuk melakukan pendampingan pada lanjut usia yang tidak mampu merawat dirinya sendiri, baik sebagian atau seluruhnya karena mengalami keterbatasan fisik dan atau mental.

Pendayagunaan caregiver Indonesia, saat ini berfokus di dalam dan luar negeri, hal ini merefleksikan dari NAWA CITA Presiden RI yang mana salah satunya adalah “meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia”. Pada pelaksanaannya dalam hal ini Pemerintah Indonesia memberikan gambaran tentang peluang kerja sebagai caregiver baik di dalam maupun luar negeri sehingga kedepan penduduk Indonesia mampu menghadapi era globalisasi dunia yang tak akan lagi terbendung dan menuntut kita mempunyai daya saing yang lebih baik.

Membangun serta mempertahankan tenaga kerja pendampingan bagi mereka yang tidak dapat merawat dirinya sendiri dalam jangka panjang dan berkelanjutan, perlu mendapatkan pelatihan secara tepat dengan memperhatikan kompetensi sesuai dengan jenjangnya. Mengingat Pedoman Pendayagunaan Tenaga Caregiver Lanjut Usia pendampingan (caregiving) tidak lepas dari masalah kesehatan, maka beberapa tindakan yang diutamakan adalah memastikan adanya tenaga kerja kesehatan yang terlatih, terkerahkan serta terkelola, yang akan menjadi supervisor dalam pelatihan caregiver lansia Perawatan Jangka Panjang (PJP).

Kompetensi dan kewenangan harus disesuaikan dengan jenjang caregiver lansia serta masalah kesehatan maupun sosial yang dialami lansia, serta tingkat ketergantungan lansia yaitu lansia yang masih mandiri, mengalami ketergantungan ringan hingga ketergantungan berat.

Indonesia memiliki potensi besar sebagai negara penyumbang sumber daya manusia dalam pendampingan dan perawatan lansia. Untuk itu diperlukan upaya peningkatan kualitas tenaga caregiver lansia melalui penyiapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) dan sistem sertifikasi bagi caregiver lansia dengan berorientasi pada kebutuhan para pengguna jasa, baik di dalam maupun luar negeri.

SKKNI adalah rumusan kemampuan kerja yang mencakup aspek pengetahuan (knowledge), keterampilan dan/atau keahlian (skills) serta sikap kerja (attitude) yang relevan dengan pelaksanaan tugas dan syarat jabatan yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. SKKNI untuk caregiver lansia berisi uraian kompetensi yang mencakup pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja minimal yang harus dimiliki seorang caregiver lansia untuk menjalankan fungsi, tugas, dan tanggung jawabnya secara profesional.

Caregiver lansia memiliki peran yang sangat penting, namun istilah caregiver lansia baik informal maupun formal, belum disebutkan dan dijabarkan secara khusus sebagai pendamping yang menangani lansia secara utuh dari sisi kesehatan maupun sosial. Sedangkan kebutuhan caregiver lansia khususnya semakin meningkat sesuai pertambahan penduduk secara global, khususnya yang berdampak pada peningkatan jumlah lansia yang memerlukan PJP. Untuk itu caregiver lansia dapat didayagunakan mulai dari keluarga, kelompok, masyarakat, fasilitas khusus, rumah sakit dan fasilitas jejaringnya. Lebih lanjut pendayagunaan caregiver lansia perlu mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

1.     Mempertahankan serta memperluas tenaga kerja yang dibutuhkan untuk melakukan pendampingan dengan meningkatkan kesadaran akan nilai serta penghargaan yang diterima saat melakukan pendampingan terhadap lansia;

2.     Mendapatkan penghasilan sesuai dengan kondisi saat bekerja, serta menciptakan jenjang karir yang memungkinkan mereka mendapatkan posisi dengan tanggung jawab serta penghasilan yang lebih tinggi;

3.     Hak dan kewajiban sesuai dengan undang-undang yang berlaku;

4.     Memberikan dukungan bagi para caregiver lansia, seperti menyediakan respite care dan fasilitas pengembangan diri seperti pelatihan dan pendidikan serta informasi yang dapat diakses;

5.     Memberikan peluang dan informasi pada lulusan caregiver lansia untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan penjenjangan dari caregiver lansia informal sampai level 5 baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Pemenuhan kebutuhan tenaga caregiver lansia di dalam maupun luar negeri dapat tercapai bila tersedia acuan penyelenggaraan dan pendayagunaannya. Penyusunan Pedoman Pendayagunaan Caregiver Lanjut Usia ini disusun secara komprehensif untuk memberikan arah dan acuan bagi seluruh pemangku kepentingan dalam pengembangan dan pendayagunaan tenaga caregiver lansia. Dengan adanya pedoman pendayagunaan tenaga caregiver lansia ini diharapkan dapat mewujudkan sinergisme dan upaya yang saling mendukung serta melengkapi antara pemerintah dan masyarakat serta swasta yang memiliki kepentingan terhadap pendayagunaan tenaga caregiver.

Dalam pelaksanaannya diperlukan komitmen dari seluruh pemangku kepentingan untuk melaksanakan prinsip-prinsip dalam pedoman sesuai dengan tugas dan kewenangannya. Penyelenggaraan pendayagunaan tenaga caregiver lansia dilakukan secara terintegrasi sehingga akan terbentuk tenaga caregiver yang berkualitas dan berdaya saing di dalam maupun luar negeri. Dengan disusunnya Pedoman Pendayagunaan Tenaga Caregiver Lansia ini diharapkan kompetensi dan jenjang pendidikan tenaga caregiver menjadi lebih jelas sehingga jenjang karirnya menjadi lebih terarah.

Ada beberapa indikasi dalam perawatan lansia yaitu :

a.     Mereka yang mengalami ketergantungan sedang dan berat, diukur berdasarkan pengukuran Activity of Daily Living (ADL) dengan menggunakan indeks bartel

b.     Mereka yang  mengalami keterbatasan dalam melakukan aktifitas sehari-hari secara instrumental (Instrumental Activity of Daily Living/IADL) 

c.      Mereka yang mengalami berbagai penyakit berat termasuk stroke, demensia, depresi berat, penyakit jiwa, pasca jatuh, terutama yang mengalami penyakit dua atau lebih (pasien geriatri).

Caregiver sangat dibutuhkan bagi lansia yang kurang produktif namun bukan berarti keluarga tidak akan memberikan atau mengurangi kasih sayang, hal ini menjadikan tolak ukur bahwasanya keluarga meminta bantuan kepada Caregiver lanjut usia agar dapat menjadi pendamping profesioanal disaat lansia membutuhkan.

 

Sumber Referensi:

1.     Buku Pedoman Pendayagunaan Caregiver

2.     https://dinsosdukkbpppa.purworejokab.go.id/caregiver-bagi-lansia-dalam-rangka-hari-lansia

3.     https://mhomecare.co.id/blog/mengenal-caregiver-perawat-lansia


Oleh :  Harianto H, S.Farm, Apt

 


Bagikan :