PENCEGAHAN DAMPAK DAN RESIKO MASALAH STUNTING PADA ANAK BERBASIS KELUARGA DAN MASYARAKAT

PENCEGAHAN DAMPAK DAN RESIKO MASALAH STUNTING PADA ANAK BERBASIS KELUARGA DAN MASYARAKAT


 

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Stunting mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan otak. Anak stunting juga memiliki risiko lebih tinggi menderita penyakit kronis di masa dewasanya. Permasalahan stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru akan terlihat ketika anak sudah menginjak usia dua tahun. UNICEF mendefinisikan stunting  sebagai persentase anak-anak usia 0 sampai 59 bulan, dengan tinggi badan di bawah minus (stunting sedang dan berat) dan minus tiga (stunting kronis). Hal ini diukur dengan menggunakan standar pertumbuhan anak yang dikeluarkan oleh WHO. Selain mengalami pertumbuhan terhambat, stunting juga seringkali dikaitkan dengan penyebab perkembangan otak yang tidak maksimal.

 

Hasil Studi Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) 2019 dilakukan secara terintegrasi dengan Susenas untuk mendapatkan gambaran status gizi yang meliputi underweight (gizi kurang), wasting (kurus), dan stunting (kerdil). Hasilnya, prevalensi balita underweight atau gizi kurang pada 2019 berada di angka 16,29 persen. Angka ini mengalami penurunan sebanyak 1,5 persen. Kemudian prevalensi balita stunting pada 2019 sebanyak 27,67 persen, turun sebanyak 3,1 persen. Sementara itu untuk prevalensi balita wasting (kurus), berada pada angka 7,44 persen. Angka ini turun 2,8 persen. Semua data dibandingkan dengan hasil survei  dari tahun lalu. Menurunnya angka stunting di Indonesia merupakan kabar baik. Tapi masih perlu kerja keras semua pihak untuk melakukan segala upaya penurunan stunting. Menurut standar WHO, batas maksimal toleransinya di angka 20 persen atau seperlima dari jumlah total anak balita yang sedang tumbuh, sedangkan indonesia masih berada di angka 27,67 persen. WHO menyebutkan Indonesia berada pada urutan ketiga kasus stunting tertingging di Asia. Persebaran kasus stunting tertinggi  di Indonesia 10 terbesar, menurut presiden RI, Jokowi berada di provinsi Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Barat, Gorontalo, Aceh, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah.

 

Penanganan Permasalahan Stunting menjadi salah satu visi misi Presiden RI. Sehingga Percepatan penanganan stunting menjadi prioritas nasional, tahun 2020 diperluas ke 260 kabupaten/kota dari yang sebelumnya 160 kabupaten/kota pada 2019. Penyebaran informasi bahaya stunting kepada masyarakat menjadi sangat penting sehingga masyarakat mengetahui solusi dalam mencegah bahaya stuntung ini. Apalagi dimusim pandemi saat ini dimana orang tua mengalami kesulitan dalam mencari nafkah untuk mencukupi gizi anak-anaknya. Hal ini memperbesar dampak dan resiko terjadinya stunting pada anak.

 

Penyuluhan Sosial Prioritas menjadi salah satu upaya dalam membantu pemerintah mensosialisasikan serta mengedukasi masyarakat dalam pencegahan dampak dan bahaya stunting. Penyuluhan sosial sebagai gerak awal dan gerak dasar berfungsi dalam mengawal program pemerintah terkait penurunan angka stunting dan memberikan pendampingan kepada masyarakat sehingga bisa menemukan solusi pencegahan dan penanganan permasalahan stunting. Sasaran penyuluhan pencegahan melalui basis terkecil yaitu desa dan kelurahan melalui peran serta stakholder pemerintahan desa/kelurahan serta tokoh-tokoh masyarakat

Penyebab Stunting antara lain:

1.     Status Gizi Ibu yang Kurang Baik Saat Mengandung (Hamil) dan Menyusui

Kekurangan gizi dalam dapat terjadi sejak janin dalam kandungan. Jika saat masa kehamilan dan menyusui nutrisi ibu tidak terpenuhi dengan baik, maka itu bisa memengaruhi perkembangan si buah hati.

 

2.     Kebersihan Lingkungan yang Kurang Terjaga

Kebersihan lingkungan di sekitar anak yang kurang baik, seperti sanitasi yang buruk, dapat memicu penyakit diare dan cacingan pada anak. Kalau sudah begitu, kondisi tersebut akan meningkatkan risiko gangguan tumbuh kembang.

 

3.     Pola MPASI yang Kurang Sehat dan Tidak Bergizi

Saat masuk ke masa MPASI sejak usia 6 bulan, orang tua harus memenuhi standar makanan sehat dan bergizi. Jika tidak dipenuhi, risiko stunting pada anak akan meningkat! Asupan makanan yang disarankan haruslah bervariasi, lalu asupan karbohidrat, protein, dan lemak juga harus dicukupi.

 

4.     Anak Jarang Mengkonsumsi Sayur dan Buah

Anak yang jarang konsumsi sayur dan buah punya cadangan vitamin dan mineral yang rendah, sehingga risikonya meningkat. Perlu diingat, vitamin dan mineral tidak diproduksi di dalam tubuh. Itu hanya diperoleh dari sayur dan buah

 

5.     Jarak Kehamilan yang Teralu Dekat

Bila ibu memiliki jarak kehamilan yang terlampau dekat antara satu kehamilan dengan kehamilan lain, ini dapat meningkatkan risiko. Jarak antar kehamilan yang dinilai aman adalah 18 bulan.

 

6.     Ibu Mengkonsumsi Alkohol Ketika Hamil

Bumil yang sering konsumsi minuman beralkohol bisa membuat bayi yang dilahirkannya mengalami kondisi Sindrom Alkohol Janin atau Fetus Alcohol Syndrome. Anak akan menderita gejala fisik dan perilaku serta sulit belajar.

 

7.     Usia Kehamilan Ibu

Ibu yang hamil pada usia di bawah 20 tahun meningkatkan risiko terjadinya stunting pada anak.

 

8.     Infeksi berulang pada bayi

Infeksi berulang pada anak menyebabkan tubuh mereka memerlukan asupan energi yang lebih untuk melawan penyakit. Bila tak diimbangi dengan asupan nutrisi yang cukup, anak akan mengalami gangguan gizi.

 

9.     Ibu menderita suatu penyakit

Ibu yang mengalami penyakit selama masa kehamilan, misalnya hipertensi, dapat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin sampai bayi dilahirkan.

 

10.  Ibu tidak rutin kontrol kehamilan

bu yang tidak rutin kontrol dapat meningkatkan risiko stunting karena progress-nya tidak terpantau di kurva perkembangan per bulan.

 

Solusi Pencegahan yang dapat dilakukan mengurangi resiko terjadinya stunting dapat dilakukan melalui:

1.    Cukupi Kebutuhan gizi anak terutama Zat Besi, yodium dan Asam Folat

Zat besi, asam folat, dan yodium  merupakan nutrisi penting yang wajib dipenuhi ibu hamil untuk mencegah stunting. Kekurangan zat besi dan asam folat dapat meningkatkan risiko anemia pada ibu hamil. Anak yang lahir dari ibu hamil dengan anemia lebih berisiko mengalami stunting. Ibu hamil bisa mendapatkan ketiga nutrisi ini dengan mengonsumsi telur, kentang, brokoli, makanan laut, pepaya, dan alpukat. Selain itu, ibu hamil juga bisa mengonsumsi vitamin prenantal sesuai anjuran dokter

 

2.    Hindari Paparan Asap Rokok

Agar janin yang dikandung dapat tumbuh dengan sehat, ibu hamil harus berhenti merokok dan menghindari paparan asap rokok. Paparan asap rokok dapat meningkatkan risiko bayi lahir prematur atau memiliki berat badan kurang.

 

3.    Rutin melakukan pemeriksaaan kandungan

Pemeriksaan rutin selama hamil bermanfaat untuk memastikan nutrisi yang dikonsumsi ibu hamil cukup dan mendeteksi jika ada komplikasi pada kehamilan. Semakin cepat diketahui, komplikasi kehamilan dapat semakin cepat diatas

 

4.    Imunisasi Rutin sesuai Jadwal

Patuhi jadwal imunisasi rutin yang ditetapkan pemerintah agar anak terlindungi dari berbagai macam penyakit.

 

 

5.    Berikan ASI Ekslusif

Berikan ASI eksklusif sampai si Kecil berusia 6 bulan dan diteruskan dengan pemberian MPASI yang sehat dan bergizi.

 

Permasalahan stunting yang telah menjadi prioritas nasional perlu mendapatkan perhatian dan keterlibatan semua pihak bukan hanya pemerintah saja namun dari berbagai eleman termasuk masyarakat itu sendiri. Penanganan dan pencegahan  permasalahan stunting ini juga dapat dilakukan dalam basis masyarakat desa/kelurahan, baik dalam bentuk program/kegiatan desa/kelurahan maupun aktivitas masyarakat itu sendiri. Pencegahan/penanganan berbasis masyarakat diharapkan mampu memberikan penanganan secara cepat dalam membantu program pemerintah mengurangi angka penderita stunting di Indonesia.

 

Berikut cara pencegahan yang bisa dilakukan berbasis masyarakat:

1.    Setiap RT/RW mendata jumlah ibu hamil dan ibu menyusui yang ada di lingkungan nya sehingga masuk dalam pengawasan desa/kelurahan

2.    Membentuk satgas penanganan Stunting di tingkat desa/kelurahan yang memiliki peran dalam menangani secara cepat kasus-kasus stunting dan gizi buruk anak.

3.    Melakukan sosialisasi rutin pada masyarakat tentang bahaya stunting dan bentuk pencegahannya

4.    Mengaktifkan kembali pemeriksaan rutin bagi ibu hamil dan balita di puskesmas atau posyandu yang telah ada

5.    Membantu pemenuhan gizi anak yang terindikasi mengalami kurang gizi atau dari keluarga miskin melalui toleransi dan berbagi antar warga masyarakat desa/kelurahan melalui program bersama masyarakat atau program dari pemerintahan desa/kelurahan

6.    Melakukan kerjasama dengan stakholder/pihak-pihak yang berkompeten dibidangnya dan mengetahui alur pelaporan dan rujukan penanganan permasalahan stunting yang tepat


Oleh : Ferdiyan Pratama


Bagikan :