Pelayanan Sosial Lanjut Usia Di Indonesia

Pelayanan Sosial Lanjut Usia Di Indonesia

Pelayanan sosial adalah suatu aktivitas yang bertujuan untuk memperbaiki hubungan dengan lingkungan sosialnya. Pelayanan sosial disebut juga sebagai pelayanan kesejahteraan sosial. Menurut Muhidin (1992). Pelayanan sosial dalam arti luas adalah pelayanan sosial yang mencakup fungsi pengembangan termasuk pelayanan sosial dalam bidang pendidikan, kesehatan, perumahan, tenaga kerja dan sebagainya. Sedangkan pelayanan sosial dalam arti sempit atau disebut juga pelayanan kesejahteraan sosial mencakup program pertolongan dan perlindungan kepada golongan yang tidak beruntung seperti pelayanan sosial bagi anak terlantar, keluarga miskin, cacat, tuna sosial dan sebagainya.

Pengertian pelayanan sosial lanjut usia secara khusus dapat ditemukan dalam Peraturan Menteri Sosial Nomor. 19 tahun 2012 tentang Pedoman Pelayanan Sosial Lanjut Usia, pada pasal 1 dijelaskan bahwa pelayanan sosial lanjut usia adalah upaya yang ditujukan untuk membantu lanjut usia dalam memulihkan dan mengembangkan fungsi sosialnya. Arah kebijakan pelayanan dan perlindungan lanjut usia pada saat ini mengacu pada skema penyediaan layanan long term care (LTC). Layanan LTC melibatkan tiga komponen, yaitu pemerintah melalui pelayanan sosial lanjut usia berbasis institusi (institutional based), masyarakat melalui pelayanan sosial lanjut usia berbasis komunitas (Community based), dan layanan berbasis rumah tangga (Home-Based) (Tristanto, 2020). 

Pelayanan sosial lanjut usia berbasis institusi di Indonesia dilaksanakan dalam bentuk Balai Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia (BRSLU) ataupun Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW). Merujuk pada Peraturan Menteri Sosial No. 19 tahun 2012 pasal 7 menjelaskan bahwa pelayanan dalam panti dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup, kesejahteraan, dan terpenuhinya kebutuhan dasar lanjut usia. Pelayanan sosial berbasis institusi umumnya melayani lanjut usia yang mengalami tingkat kerentanan sangat tinggi yaitu:  1) Lanjut usia yang masih mandiri dan mengalami keterlantaran dijalanan 2) Lanjut usia yang sudah tidak memiliki kemandirian yang tidak mungkin dilayani melalui pelayanan sosial berbasis rumah tangga dan berbasis komunitas.

Adapun jenis pelayanan yang diberikan dalam panti, meliputi: 1) pemberian tempat tinggal yang layak; 2) jaminan hidup berupa makan, pakaian, pemeliharaan kesehatan; 3) pengisian waktu luang termasuk rekreasi; 4) bimbingan mental, sosial, keterampilan, agama; dan 5) pengurusan pemakaman atau sebutan lain.

Pelayanan sosial lanjut usia berbasis komunitas, dapat berupa Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS). Hal tersebut tercantum dalam Undang-undang Nomor 11 tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial, pasal 38 ayat 2 yang berbunyi penyelenggaraan kesejahteraan sosial dari unsur masyarakat diantaranya adalah melalui Lembaga Kesejahteraan Sosial atau Organisasi Sosial. Sedangkan, menurut Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2013 tentang asistensi sosial melalui lembaga kesejahteraan sosial lanjut usia, pasal 1 ayat 5 menjelaskan bahwa lembaga kesejahteraan sosial lanjut usia yang selanjutnya disingkat LKS LU adalah organisasi sosial atau perkumpulan sosial yang melaksanakan penyelenggaraan kesejahteraan sosial lanjut usia baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum. LKS LU berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam menyelenggarakan kesejahteraan sosial.

LKS LU hadir dan diperlukan karena bertambahnya jumlah lanjut usia yang membutuhkan pelayanan. Adapun peran LKS antara lain sebagai berikut: 1) LKS merupakan lingkungan terdekat bagi lanjut usia dalam pemenuhan kebutuhan fisik dan psikis; 2) LKS yang memiliki kesadaran bersama akan melindungi lanjut usia dari kerentanan dan diskriminasi;  3) LKS (termasuk PUSAKA) menjadi penggerak utama bagi keluarga dan komunitas untuk melakukan perawatan sosial bagi lanjut usia; 4) Komunitas adalah yang terdekat dengan keluarga lanjut usia, sehingga harus dikuatkan melalui LKS agar lebih sensitif dan responsif dalam mencegah dan menyelesaikan permasalahan yang dialami lanjut usia.

Kehadiran LKS dalam memberikan pelayanan kepada lanjut usia, sejatinya lebih diarahkan pada model pelayanan berbentuk program day care services atau Program Pelayanan Harian Lanjut Usia (PHLU). Pelayanan tersebut merupakan suatu model pelayanan sosial dimana lanjut usia datang ke LKS LU sesuai dengan waktu yang ditentukan. PHLU ini diharapkan sebagai alternatif pelayanan yang tepat dalam mempertahankan dan mengembangkan keberfungsian sosial lanjut usia, serta merespon kebutuhan dan permasalahan guna mewujudkan kesejahteraan sosial lanjut usia. Di samping itu, PHLU juga diharapkan dapat membantu pemenuhan kebutuhan lanjut usia yang tidak dapat diberikan oleh keluarganya seperti perawatan jiwa dan dukungan psikososial lanjut usia.

Perawatan lanjut usia di LKS LU dilakukan melalui pendampingan oleh seorang pendamping sosial.  Menurut Direktorat Bantuan Sosial (2007) pendampingan adalah suatu proses pemberian kemudahan (fasilitas) yang diberikan pendamping kepada klien dalam mengidentifikasi kebutuhan dan memecahkan masalah serta mendorong tumbuhnya inisiatif dalam proses pengambilan keputusan, sehingga kemandirian klien secara berkelanjutan dapat diwujudkan. Pendampingan lanjut usia di LKS LU dapat dilakukan oleh pendamping sosial yang berlatar belakang pekerja sosial, atau pramu sosial, pengasuh, dan relawan sosial dengan syarat mempunyai kompetensi terkait bimbingan dan perawatan lanjut usia.

Pelayanan sosial lanjut usia berbasis komunitas akan lebih optimal apabila ada peran serta dari keluarga lanjut usia. Hal tersebut disebabkan karena LKS hanya sebagai bagian dari sistem dukungan dalam melakukan pelayanan lanjut usia. Sedangkan pelayanan utama berasal dari rumah tangga (home-based) yaitu keluarga lanjut usia karena keluarga memiliki peran antara lain sebagai berikut:

a.   Keluarga menjadi tempat untuk memenuhi kebutuhan fisik dan psikis lanjut usia;

b.   Keluarga tempat berlindung yang utama lanjut usia;

c.   Keluarga tempat lanjut usia untuk menjalankan peran dan mengaktualisasikan dirinya di usia lanjut;

d.   Keluarga yang baik, harmonis dan bahagia dapat meningkatkan kualitas kesejahteraan sosial lanjut usia melalui perawatan. Keluarga yang tidak peduli, tidak harmonis, dan penuh konflik beresiko bagi kesehatan fisik dan psikis lanjut usia;

e.   Keluarga tempat terbaik bagi lanjut usia.

 

Oleh sebab itu dukungan keluarga kepada lanjut usia harus diperkuat, agar terwujudnya pemenuhan hak dan kebutuhannya. Hal tersebut karena pranata sosial pertama dan utama dalam mewujudkan lanjut usia sejahtera adalah keluarga.

Menurut Chan (2005) keluarga yang merupakan dukungan informal menjadi pihak yang paling penting dan diandalkan ketika dukungan formal yaitu negara kesulitan bahkan tidak dapat menjamin dengan baik kehidupan lanjut usia. Hal senada juga dikemukakan oleh Harris dalam Baroroh dan Irafayani  (2015) bahwa keluarga merupakan orang terdekat yang secara spontan akan mengambil bagian menjadi caregiver, ketika keluarga yang dicintainya membutuhkannya.

Layanan lanjut usia berbasis rumah tangga adalah bentuk pelayanan pendampingan dan perawatan lanjut usia di rumah yang dilakukan oleh keluarga inti. Pelayanan lanjut usia di rumah dapat dilakukan dalam bentuk membantu lanjut usia yang mempunyai hambatan fisik, mental dan sosial, termasuk memberikan dukungan dan pelayanan untuk lanjut usia hidup mandiri.

Pendampingan dan perawatan sosial lanjut usia berbasis rumah tangga sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Program ini telah diperkenalkan sejak tahun 1974 oleh almarhum Ibu Jenderal A.H. Nasution yang ketika itu lebih berfokus pada pemberian makanan bergizi kepada lanjut usia. Setelah itu, pendampingan dan perawatan sosial lanjut usia di rumah mulai berkembang pesat di tengah-tengah masyarakat Indonesia (Tristanto, 2020).


Oleh : Aris Tristanto

 

Daftar Pustaka.

 

Baroroh, D. B., & Irafayani, N. (2015). Peran Keluarga Sebagai Care Giver Terhadap Pengelolaan Aktifitas Pada Lanjut usia Dengan Pendekatan Nic (Nursing Intervention Classification) Dan Noc (Nursing Outcome Classification). Jurnal Keperawatan, 3(2).

Chan, Angelique. (2005). Aging in Southeast and East Asia: Issues and Policy Directions. J Cross Cult Gerontol (2005), Volume 20, pp. 269–284.

Departemen Sosial RI. (2007). Pedoman Pendamping Pada Rumah Perlindungan dan Trauma Center. Jakarta: Direktorat Bantuan Sosial.

Muhidin, S. (1992). Pengantar Kesejahteraan Sosial. Bandung: STKS press

Kementrian Sosial RI. (2014). Pedoman Asistensi Sosial Lanjut Usia Melalui Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS). Jakarta: Direktorat Pelayanan Sosial Lanjut Usia

Peraturan Mentri Sosial Nomor. 19 tahun 2012 tentang Pedoman Pelayanan Sosial Lanjut Usia

Tristanto, A. (2020). Dukungan Kesehatan Jiwa Dan Psikososial (Dkjps) Dalam Pelayanan Sosial Lanjut Usia Pada Masa Pandemi Covid-19. Sosio Informa, 6(2), 205-222.

Undang-undang Nomor 11 tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial

 

 

 


Bagikan :