Ngaji, Nyanyi, Nari: Strategi Penguatan dan Dukungan Psikososial Lansia

Ngaji, Nyanyi, Nari: Strategi Penguatan dan Dukungan Psikososial Lansia

Kondisi kependudukan di Indonesia mengalami bonus demografi dengan tingginya jumlah lanjut usia. Jumlah lansia yang sangat tinggi menyebabkan negara tersebut masuk pada era penduduk menua (ageing population) mulai pada tahun 2012. Jumlah lansia yang  lebih dari 7% akan menjadi negara dengan struktur tua.  Pada 2012, Indonesia mencapai 8,5% dari total populasi. Setiap tahunnya, jumlah lansia di Indonesia diprediksi meningkat. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa 2017 terdapat 8,67% lansia dari total populasii, 2018 sebanyak 9,27%, 2019 bertambah menjadi 9,60%, dan 2020 terdapat 9,92% lansia di Indonesia.  

Masalah yang sering dialami oleh lansia yakni menurunnya kondisi fisik maupun psikis. Kesehatan lansia mulai dipengaruhi oleh berbagai faktor psikis, ekonomi dan sosial. Menurut Risesdas tahun 2013, penyakit yang sering dialami oleh lansia yakni hipertensi, stroke, diabetes melitus, kanker, paru obstruktif kronik dan jantung coroner. Tidak hanya penyakit fisik tetapi lansia dapat terjadi penurunan psikis. Lansia cenderung termasuk pada multipatologi atau disebut terserang berbagai penyakit. Hal tersebut disebabkan karena proses penuaan yang mengakibatkan lansia menjadi rentan terhadap berbagai penyakit.

Dari kerentanan tersebut, lansia perlu diberikan pelayanan khusus. Di Indonesia, lansia salah satu menjadi keompok rentan yag perlu diperhatikan. Masalah yang penting dihadapi masuk pada era menua yakni sistem pelayanan yang diberikan untuk lansia. Kondisi lansia perlu diberikan pelayanan yang layak dan terawat. Faktanya banyak lansia di Indonesia termasuk salah satu Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) karena permasalahan keterlantaran.

Menurut Aplikasi Dataku Yogyakarta, kelompok lansia terlantar menjadi masalah serius seiring dengan jumlah lansia yang banyak. Pada 2017 terdapat lansia terlantar sebanyak 45.765 lansia terlantar. Jumlah tersebut turun pada 2018 sebanyak 42.417 orang dan 2019 sebanyak 37.442. Meskipun jumlah tersebut turun tetapi dapat menjadi tantangan bagi Indonesia menghadapi era penduduk menua.

Pemerintah melakukan berbagai upaya untuk menjawab tantangan dan menyelesaikan masalah lansia terlantar agar mendapat kehidupan yang layak. Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah salah satunya yakni dengan menyediakan balai pelayanan khusus lansia dan berbagai kegiatan masyarakat yang mendukung keberfungsian sosial lansia.

Pelayanan masyarakat dibagi menjadi 3 macam. Pertama, lansia dengan pelayanan home care. Kegiatan pelayanan berbasis home care ini sudah banyak dilakukan oleh beberapa instansi pemerintah maupun swasta. Pelayanan pada lansia model home care ini dilakukan dengan perawatan di rumah dan rawat jalan di rumah sakit/puskesmas. Pelayanan home care ini sebenarnya melibatkan keluarga lansia, masyarakat dan tenaga kesehatan setempat.

Perawatan dan pelayanan perlu didukung penuh oleh masyarakat agar terciptanya lingkungan yang ramah lansia. Kegiatan pelayanan berbasis masyarakat ini perlu dikembangkan seiring dengan pertambahan jumlah lansia. Hal tersebut penting sebab menjadi tantangan bagi negara untuk memberikan pelayanan yang maksimal bagi kelompok rentan. Perlu ada sinergi antara keluarga, masyarakat dan tenaga kesehatan setempat untuk perawatan di rumah. Model pelayanan ini perlu didukung berbagai pihak khususnya keluarga dan masyarakat agar lansia dapat terawat dengan maksimal.

Model pelayanan kedua yakni day care service. Pelayanan ini berbasis non panti artinya lansia tidak menginap di panti. Day care service hanya sebatas kegiatan yang dilakukan di panti maupun luar panti selama kurang dari 8 jam. Selama kegiatan ini berlangsung lansia akan mendapat bimbingan spiritual, bimbingan fisik, konseling, pemeriksaan kesehatan dan pemenuhan nutrisi makanan. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Lembaga Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia (LKSLU) atau instansi pemerintah berupa balai pelayanan. Kegiatan ini didukung oleh tenaga ahli dan profesional guna meningkatkan kesejahteraan sosial lansia.

Model pelayanan terakhir yakni lansia di panti. Banyak faktor yang menyebabkan lansia dirawat di panti. Faktor utama lansia perlu perawatan di panti yakni keterlantaran. Sebab dari terlantar ini bermacam-macam seperti hidup sebatang kara, keluarga tidak mampu merawat, lansia menjadi gelandangan hingga kesadaran diri sendiri untuk tidak merepotkan orang lain guna merawatnya. Dari berbagai macam alasan tersebut, model pelayanan panti ini mampu menjawab permasalahan yang ada. Pelayanan panti digunakan untuk menyediakan pelayanan dan perawatan bagi lansia terlantar. Berbagai pelayanan dilakukan mulai dari kebutuhan tempat tinggal, makan, kegiatan produktif hingga pemusaran jenazah dilakukan oleh panti.

Di Yogyakarta model panti ini sudah dilakukan oleh berbagai lembaga. Terdapat 2 Balai Pelayanan Sosial Tresna Werdha milik Dinas Sosial Provinsi dan beberapa Lembaga Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia (LKSLU) dibawah tanggungjawab Dinas Sosial Kabupaten/Kota. Tujuan adanya lembaga tersebut untuk membantu lansia agar dapat mendapat penghidupan yang layak. Keberadaan balai dan LKSLU tersebut memiliki berbagai macam kegiatan pelayanan. Masing-masing dari lembaga memiliki ciri khas dan dapat menjadi percontohan sistem pelayanan.

Selain berbasis kelembagaan, terdapat beberapa penerapan berbasis komunitas seperti kampung ramah lansia dan posyandu lansia. Sinergi antara tenaga kesehatan seperti puskesmas dan masyarakat perlu dimaksimalkan untuk kegiatan positif ini. Banyak kegiatan yang dapat dilakukan oleh masyarakat untuk menunjang pelayanan sosial lansia. Selain dari Pekerja Sosial Masyarakat, penyuluh dan puskesmas tentu inisiatif masyarakat dapat mengembangkan model pelayanan tersebut.

Untuk memberikan perawatan terbaik bagi lansia dengan berbagai model pelayanan perlu dukungan kelaurga, tetangga, lingkungan panti maupun pemerintah setempat. Dukungan tersebut dapat diciptakan dengan berbagai kegiatan yang dapat dilakukan untuk mendukung pelayanan maksimal bagi lansia. Salah satu kegiatannya fokus pada pemenuhan kebutuhan psikososial lansia berupa aktivitas yang berfokus kepada penguatan resiliensi dan interaksi sosial antar individu dengan lingkungannya.

Apapun setting pelayanannya perlu ada kegiatan dukungan psikososial bagi lansia. Untuk meningkatkan dukungan psikososial lansia perlu diadakan kegiatan yang dapat diterapkan diberbagai setting. Kegiatan tersebut yakni ngaji, nyanyi dan nari. 3 Kegiatan tersebut sudah banyak dilakukan dan diteliti oleh banyak orang. Hasil dari berbagai penelitian menunjukkan ada pengaruh antara kegiatan-kegiatan tersebut dengan daya dukung psikologi dan sosial seorang lansia.

Ngaji yang dimaksud adalah kegiatan kerohanian. Kegiatan rohani dapat mempengaruhi kondisi psikis lansia seperti meningkatkan kebahagiaan, ketenangan, penerimaan dan lebih dekat dengan Tuhan. Menurut banyak penelitian bahwa terdapat hubungan antara religiusitas dengan kesejahteraan psikologis. Religiusitas ini didapat dari rasa kepercayaan dan penghayatan keagamaan  yang diekspresikan dengan melakukan ibadah sehari-hari. Ibadah tersebut seperti berdoa,kegiatan amal dan membaca kitab suci.

Nyayi adalah kegiatan yang dapat menghibur lansia selama melakukan aktivitas yang monoton. Untuk mengurangi rasa kesepian pada lansia dapat melakukan aktivitas menari dan menyanyi. Selain nostalgia tentu lansia dapat berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Nyanyi dan nari ini dapat dilaksanakan diberbagai setting pelayanan. Salah satu contohnya di Balai Pelayanan Sosial Tresna Werdha Yogyakarta sudah melakukan kegiatan menari dan menyanyi untuk mengisi kegiatan lansia.

Manfaat adanya kegiatan ngaji, nyanyi, dan nari ini adalah untuk meningkatkan daya fisik dan psikis seorang lansia. Selain itu dapat menguatkan daya dukungan keluarga, lingkungan tetangga dan masyarakat terhadap perawatan lansia. Dengan 3 kegiatan tersebut dapat diberikan pada 3 setting tempat sekaligus. Melalui posyandu lansia, caregiver (perawat lansia), tenaga Kesejahteraan Sosial dan pekerja sosial dapat membuat kegiatan-kegiatan tersebut dalam lingkup panti, non panti maupun di masyarakat.


Oleh : Hani Puspita Dewi


Bagikan :