“Mengelola Hutan Untuk Kesejahteraan” Prospek Pengembangan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) bagi keberlanjutan penghidupan SAD Taman Nasional Bukit Duabelas Provinsi Jambi

“Mengelola Hutan Untuk Kesejahteraan” Prospek Pengembangan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) bagi keberlanjutan penghidupan SAD Taman Nasional Bukit Duabelas Provinsi Jambi

Suku Anak Dalam merupakan salah satu komunitas adat terpencil yang berada di wilayah Provinsi Jambi. Runutan sejarah mengulas asal usul Suku Anak Dalam konon mereka adalah pelarian dari kerajaan Pagaruyung Sumatera Barat dan Kerajaan Sriwijaya di Sumatera Selatan, mereka melarikan diri ke dalam hutan, kebiasaan mereka hidup di hutan rimba, akhirnya berlanjut hingga kini,. Hal ini diperkuat kenyataan adat suku Anak Dalam punya kesamaan bahasa dan adat dengan suku Minangkabau, seperti sistem matrilineal. Secara garis besar Suku Anak Dalam di Jambi hidup di 3 (tiga) wilayah ekologis yang berbeda, yaitu Orang Kubu yang di utara Provinsi Jambi (sekitaran Taman Nasional Bukit 30), Taman Nasional Bukit 12, dan wilayah selatan Provinsi Jambi (sepanjang jalan lintas Sumatra). Mereka hidup secara nomaden dan mendasarkan hidupnya pada berburu dan meramu, dan tidak banyak dari mereka sekarang yang memiliki lahan karet dan pertanian lainnya. Kehidupan SAD yang sarat dengan hutan sebagai penyangga hidup meskipun ditengah isu penggerusan hutan, eksploitasi sumber daya alam, pembukaan lahan industri dan lain – lainnya. 

 

Kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) seluas 60.500 ha ditunjuk dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor : 285/Kpts-II/2000 Tanggal 23 Agustus 2000 melalui Hutan Produksi Tetap Serengam Hilir (11.400 ha) serta areal penggunaan lain (1.200 ha) dan cagar biosfer Bukit Duabelas (27.200 ha). Penunjukan Taman Nasional Bukit Duabelas diawali dengan surat Bupati Sarolangun Bangko tanggal 7 Februari 1984 Nomor 522/182/1984 tentang usulan kawasan hutan Bukit Duabelas menjadi Lindungan dan Cagar Biosfer. Pada saat itu Pemerintah Daerah Kabupaten Sarolangun Bangko berkeinginan untuk mengubah status kawasan hutan Bukit Duabelas menjadi hutan lindung dan Cagar Biosfer untuk tempat hidup Orang Rimba yang sudah lama tinggal di kawasan tersebut. Usulan tersebut kemudian di tindaklanjuti dengan surat Kepala Sub Balai Perlindungan dan Pelesterian Alam (PPA) Jambi 1984 tentang usulan kawasan hutan Bukit Duabelas menjadi Hutan Lindung dan Cagar Biosfer dan pada Gubernur Jambi melalui surat Nomor : 522.52/863/84 tanggal 25 April 1984 kepada Menteri Kehutanan agar kawasan Bukit Duabelas seluas 28.707 ha diperuntukkan sebagai Cagar Biosfer. Alasan Pemerintah daerah Provinsi Jambi mendukung usulan ini karena kawasan tersebut merupakan habitat berbagai satwa liar dilindungi yang semakin terdesak habitatnya.

Kawasan hutan Bukit Duabelas dihuni oleh sekitar 900 jiwa Orang Rimba (Suku Anak Dalam) yang kehidupannya sangat tergantung pada hutan Bukit Duabelas. Topografi pengunungan Bukit Duabelas agak curam dengan kelerengan 0-20% dan jenis tanah podsolik yang sangat peka terhadap erosi. Pegunungan Bukit Duabelas juga merupakan hulu-hulu sungai yang termasuk dalam sub DAS Batang Tembesi dan Batang Tabir yang bermuara di DAS Batanghari. Sehinggga untuk kepentingan tata air perlu dipertahankan. Kehidupan masyarakan Orang Rimba dan kekayaan keanekaragaman hayati merupakan potensi yang bagus bagi pengembangan ilmu pengetahuan, penelitian kebudayaan dan pelku pengembangan potensi hasil hutan bukan kayu seperti madu alam, budidaya tanaman gaharu, jernang, rotan berbasis pelestarian dan kearifan local setempat.

 

Taman nasional bukit duabelas ini memang memiliki keunikan tersendiri daripada taman nasional yang ada di Indonesia. Keberadaan suku anak dalam sebagai komunitas yang menggantungkan hidupnya dari hutan taman nasional bukit duabelas mengharuskan pola konservasi menggunakan pendekatan pemberdayaan. Konservasi dengan pendekatan humanis, pemberdayaan dan kearifan lokal terhadap suku anak dalam sebagai pelaku utama yang menghuni dan menjaga rimba dinilai efektif jika dilaksanakan dengan pola yang benar. Pengembangan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) bagi keberlanjutan penghidupan SAD dan kelestarian Taman Nasional Bukit Duabelas Provinsi Jambi sepertinyan memiliki prospek yang positif. Pada satu sisi terdapat penanaman nilai, transfer pengetahuan dan keterampilan serta peningkatan penghidupan SAD melalui pengelolaan hasil hutan bukan kayu sebagai bahan-bahan atau komoditas yang didapatkan dari hutan tanpa harus menebang pohon. Dengan demikian aktivitas penebangan pohon dapat dikurangi karena selain menguntungkan secara ekonomi, juga menguntungkan secara ekologis. 

 

Hasil hutan non-kayu ini mencakup hewan buruan, rambut hewan, kacang-kacangan, biji, buah beri, jamur, minyak, daun, rempah-rempah, rempah daun, gambut, ranting untuk kayu bakar, pakan hewan ternak, dan madu. Selain itu, tumbuhan paku, kayu manis, lumut, karet, resin, getah, dan ginseng juga masuk ke dalam kategori hasil hutan non-kayu. Di banyak tempat, usaha pengumpulan dan penggunaan hasil hutan non-kayu dapat mengangkat kondisi kemiskinan bagi warga sekitar hutan jika diberdayakan dengan benar. Konsep inilah yang perlu dikembangkan sebagai strategi konservasi sekaligus strategi pemberdayaan bagi SAD yang hidup pada kawasan taman nasional bukit duabelas.  Pada bulan februari 2020 kemarin penulis ikut terlibat dalam asesmen potensi kerjasama Balai Taman Nasional Bukit Duabelas dengan CSR SKK MIGAS – PetroChina International Jabung Ltd sehingga dapat mengangkat konsep ini untuk dapat diimplementasikan. Dalam pelaksanaan konsep ini memang diperlukan sinergi dan komitmen berkelanjutan dari pihak – pihak terkait karena merupakan suatu investasi kehidupan jangka panjang untuk SAD maupun Taman Nasional Bukit Duabelas itu sendiri. Dalam kegiatan asesmen ini sudah dapat dipetakan potensi HHBK berdasarkan pembagian wilayah adat pada 13 (tiga belas) temenggung yang mendiami Kawasan TNBD. Pada tahap selanjutnya penulis berpikir perlu disusun suatu program penyuluhan dan pengembangan kapasitas teknis sesuai dengan HHBK yang berpotensi dikembangkan, dengan Konsep TNBD LESTARI, SAD SEJAHTERA.

 

Oleh : M. Luksor Pratama, SST

Sumber :

 

http://www.tnbukitduabelas.id/konten/mengenal-lebih-dekat-orang-rimba-di-taman-nasional-bukit-duabelas

Observasi Langsung tanggal 07 – 11 februari 2020


Bagikan :