Menelisik Cara Pola Asuh Anak pada Usia Dini (Golden Age) Menuju Fase Dewasa yang Orang Tuanya Menjadi TKI

Menelisik Cara Pola Asuh Anak pada Usia Dini (Golden Age)  Menuju Fase Dewasa  yang Orang Tuanya Menjadi TKI

Peran orang tua terhadap kehidupan dan kepribadian anak di masa mendatang sangatlah besar pengaruhnya. Sehingga tak heran jika anak dikatakan sebagai anugrah sekaligus sebuah amanah. Oleh karena itu, orang tua sebagai kiblat peniruan serta salah satu pembentuk pribadi anak dituntut untuk sedini mungikin mendidik anaknya dengan cara-cara yang tepat.

Pola asuh orang tua merupakan intraksi antara anak dengan orang tua selama mengadakan kegiatan pengasuhan. Dalam proses pengasuhan ini orang tua mendidik, membimbing dan mendisiplinkan serta melindungi anak untuk mencapai fase kedewasaan sesuai dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat.Pola asuh menurut agama adalah cara memperlakukan anak sesuai dengan ajaran agama berarti memahami anak dari berbagai aspek dan memahami anak dengan memberikan pola asuh yang baik, menjaga anak dan harta anak yatim, menerima, mamberi perlindungan, pemeliharaan, perawatan dan kasih sayang sebaik-baiknya (QS Al Baqoroh: 220).

Mengasuh anak merupakan tugas orang tua dalam sebuah keluarga yang berada di lingkungan masyarakat. Di dalam keluarga merupakan tempat utama, dimana anak berkembang dan dibesarkan oleh orang tua hingga menjadi pribadi yang dewasa dan mandiri. Menurut pandangan masyarakat, pada umumnya sebuah keluarga itu adalah yang terdiri dari orang tua (suami-istri) dan anak. Hubungan yang terjalin antara anak dengan orang tua sangat ditentukan oleh sikap orang tua dalam mengasuh anak, proses pengasuhan yang dilakukan orang tua pada anak dan apa yang ditanamkan orang tua kepada anak sejak dini. Hal tersebut tertuju pada pola pengasuhan yang diterapkan oleh orang tua yaitu suatu suatu metode yang dipilih dan dilakukan oleh orang tua dalam mengasuh anak.

Hilangnya salah satu pasangan yaitu ayah atau ibu dapat menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan di dalam keluarga itu sendiri, seperti halnya ada perubahan peran serta beban tugas yang harus ditanggung untuk mengasuh anak di dalam sebuah keluarga. Keluarga juga menempati posisi yang paling utama dalam perkembangan anak menuju masa kedewasaan karena lingkungan keluarga menjadi tempat pertama dan utama bagi anak untuk membentuk suatu hubungan dengan orang tua maupun dengan saudara kandungnya sebelum menjalin hubungan dengan orang lain yang berada dalam lingkungannya. Suasana di dalam keluarga yang kurang hangat membuat anak merasa kurang nyaman serta hilangnya sosok ayah maupun ibu di dalam keluarga itu sendiri dapat menimbulkan bahaya psikologis bagi anak terutama pada masa remajanya.

Melihat pentingnya keberadaan orang tua dalam mendampingi dan menggiring anak menuju fase dewasa, maka timbul pertanyaan di benak kita, bagaimana anak-anak yang orang tua nya bekerja sebagai TKI ketika usia mereka masih sangatlah dini? Bagaimana mereka melalui masa di saat orang tuanya atau salah satunya orang tuanya menjadi TKI? Tentunya akan banyak perubahan yang signifikan di dalam keluarganya.

Meski banyak TKI yang menghadapi kemalangan tetap saja banyak orang tergiur menjadi TKI di luar negeri. Himpitan kemiskinan, kesulitan hidup, sulitnya mendapatkan pekerjaan dan pendapatan yang layak di dalam negeri, dan harapan perbaikan nasib, membuat mereka tetap nekat. Apalagi tidak ada jaminan apapun bagi mereka atas pemenuhan kebutuhan pokok mereka, juga jaminan kesehatan, pendidikan dan keamanan.

Masa depan anak akan sangat tergantung dari pengalaman yang didapatkan termasuk faktor pendidikan dan pola asuh orang tua. Kepentingan mereka sendiri dengan dalih untuk kesejahteraan anak, sehingga terkadang peran mereka sebagai orang tua yaitu mendidik dan mengasuh anak terlalaikan. Tidak hanya kebutuhan fisik saja tetapi kebutuhan psikologis juga menentukan perkembangan anak ke arah kedewasaan yang mantap dan menyeluruh.

Di saat sekarang ini tidak sedikit orang tua yang mengejar materiBanyak anak TKI harus melewati masa keemasan atau golden age (0-5 tahun) tanpa kehadiran, kasih sayang dan bimbingan orang tua. Padahal, periode ini merupakan masa paling kritis dan menentukan bagi anak. (Benyamin S Bloom, ahli pendidikan dari Universitas Chicago dalam Stability and Change in Human Characteristics). Sekitar 50% potensi inteligensi anak sudah terbentuk pada usia 4 tahun dan mencapai 80% saat berusia 8 tahun dari total kecerdasan yang akan dicapai pada usia 18 tahun. Pada usia golden age ini, anak-anak mengalami lompatan kemajuan luar biasa, baik secara fisiologis, psikis maupun sosial, sehingga mereka sangat potensial untuk belajar apa saja.

Berbagai penelitian ilmiah juga menunjukkan bahwa usia 4 tahun pertama merupakan masa-masa paling menentukan dalam membangun kecerdasan anak dibandingkan masa-masa sesudahnya. Artinya, jika pada usia tersebut anak tidak mendapatkan rangsangan yang maksimal, maka potensi tumbuh kembang anak tidak akan optimal (Sutaryati, 2006: 10). Perpisahan Ibu dan keluarga juga berdampak kepada kondisi anak. Dalam jangka waktu yang relatif lama dapat merenggangkan bonding antara anak dan Ibu sehingga menyebabkan tidak terbangunnya basic trust dan menimbulkan kesulitan-kesulitan tingkah laku dalam perkembangan kepribadian anak selanjutnya.

Fenomena ini menggambarkan adanya dilema paradoks pada keluarga TKI. Disatu sisi kepergian orang tua menjadi TKI memberikan dampak positif karena pendapatan yang diperoleh TKI dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga, termasuk dalam investasi pendidikan anak, namun disisi lain ketidakseimbangan ekosistem keluarga TKI beresiko menurunkan kualitas perkawinan, menurunkan keterampilan sosial anak, meningkatkan stres anak, dan menurunkan prestasi akademik anak akibat tidak adanya perhatian Ibu terhadap anak.  Orang tua punya peran yang penting dalam perkembangan.

Dengan semakin banyaknya orang tua yang menjadi TKI, masa depan bangsa ini dibangun di atas pondasi yang keropos. Banyak anak TKI yang karena faktor ekonomi dan kurangnya kesadaran tidak bisa membina pendidikan yang layak. Ini disebabkan bukan karena tidak mampunyai dana untuk membiayai, akan tetapi karena dukungan keluarga untuk sekolah sangat kurang. Padahal pendidikan bisa menjadi tiket bagi mereka untuk memperbaiki taraf hidup.

Bisa dilihat bahwa terdapat perbedaan antara anak-anak di rumah tangga migran dengan nonmigran. Anak-anak pada keluarga migran lebih banyak bermasalah dengan teman sebaya dibandingkan dengan anak-anak pada keluarga nonmigran. Secara psikologis, anak-anak pada rumah tangga nonmigran menyatakan lebih bahagia jika dibandingkan dengan anak-anak pada keluarga migran. Anak-anak pada rumah tangga migran cenderung lebih pasif dalam hal mengatasi masalah-masalah yang muncul, baik dalam keluarga (saudara kandung) maupun pekerjaan sekolah. Anak-anak keluarga migran menunjukkan kecenderungan untuk lebih menahan diri dan tertutup ketika mengekspresikan perasaan maupun saat mencari dukungan ataupun bantuan. Ini berbeda jika dibandingkan dengan anak-anak pada rumah tangga nonmigran.

Kebanyakan alasan kepergian orang tua menginggalkan anak balitanya karena faktor ekonomi dan minimnya lowongan pekerjaan di daerah. Mereka menganggap dengan bekerja sebagai TKI adalah salah satu solusi untuk masa depan anak dan keluarga. Untuk mengatasi masalah tersebut perlu diambil langkah, antara lain mengoptimalisasi, bukan hanya untuk kepentingan ekonomi rumah tangga tetapi juga memberikan porsi yang lebih besar bagi pendidikan anak, yaitu pola asuh anak. Dan menitipkan anak pada keluarga terdekat serta sesering mungkin tetap melakukan komunikasi dengan anak via telepon. Namun apapun upaya alternatif dalam pengasukahn anak TKI tersebut, tetaplah peran orang tua yang paling utama dan penting dalam mendampingi tumbuh kembang anak menuju kedewasaan.

 

Oleh : Hanni Susanty, S.Pd

Penyuluh Sosial Pertama Dinas Sosial Provinsi Bengkulu


Bagikan :