Memahami Lanjut Usia dan Kebutuhannya

Memahami Lanjut Usia dan Kebutuhannya


 

Manusia merupakan makhluk duniawi yang selama hidup akan mengalami berbagai macam proses dalam perkembangannya.  Pertumbuhan fisik atau perkembangan jasmaniah akan selalu dialami oleh orang yang masih hidup di dunia. Pertumbuhan dan perkembangan manusia dimulai saat berada dalam rahim ibu, kemudia memasuki fase bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa, dan lanjut usia. Tanpa bisa ditunda, tanpa bisa dikendalikan, dan tanpa bisa ditolak semua manusia pasti akan mengalami yang namanya menua.

 

Menurut UU No. 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, lanjut usia (lansia) didefinisikan sebagai seseorang yang mencapai usia 60 tahun ke atas. Kemudian Menurut data WHO, di kawasan Asia Tenggara populasi Lansia sebesar 8% atau sekitar 142 juta jiwa. Pada tahun 2050 diperkirakan populasi Lansia meningkat 3 kali lipat dari tahun ini. Pada tahun 2000 jumlah Lansia sekitar 5,300,000 (7,4%) dari total populasi, sedangkan pada tahun 2010 jumlah Lansia 24,000,000 (9,77%) dari total populasi, dan tahun 2020 diperkirakan jumlah Lansia mencapai 28,800,000 (11,34%) dari total populasi. Sedangkan di Indonesia sendiri pada tahun 2020 diperkirakan jumlah Lansia sekitar 80.000.000. Oleh karena itu perhatian semua negara terhadap masalah lanjut usia ini harus terus diantisipasi, karena akan ada ketergantungan biaya yang sangat besar,

 

Di Indonesia sendiri, apabila permasalahan Lansia ini tidak ada aksi atau kesadaran semua stakeholder bukan hanya bidang kesehatan tapi juga termasuk layanan sosial dan sebagainya, maka akan menimbulkan ancaman triple burden, yaitu jumlah kelahiran bayi yang masih tinggi, masih dominannya penduduk muda, dan jumlah Lansia yang terus meningkat.

 

Dengan memperhatikan jumlah populasi lansia di indonesia saat ini hemat dikatakan bahwa indonesia tengah  memasuki fase elderly population boom atau peningkatan jumlah lansia. Hal ini terjadi dikarenakan terjadinya peningkatan umur dan harapan hidup masyarakat indonesia. Kondisi ini bisa dianggap sebagai buah simalakama, penigkatan umur dan harapan hidup di satu sisi dapat dipandang sebagai keberhasilan pemerintah dalam tanda kutip meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat sehingga umur dan harapan hidup semakin tinggi. Namun di satu sisi peningkatan umur dan harapan hidup otomatis menjadikan indonesia menjadi salah satu negara dengan tingkat populasi lansia yang cukup tinggi. Jumlah populasi lansia yang tinggi ini jika tidak dibarengi dengan kebijakan dan penyebarluasan informasi masif seputar lansia nantinya akan berpotensi menjadikan lansia sebagai “masalah sosial” atau “beban negara” dalam menjalankan pembangunan.

 

Untuk itu penyebarluasan informasi mengenai lansia perlu diupayakan agar masyarakat semakin paham bagaimana memperlakukan lansia. Perlakuan dan perhatian yang tepat kepada lansia akan menimbulkan harapan bagi lansia untuk terus dapat menikmati hidup dan tetap produktif menjalani hari tuanya. Ada beberapa hal yang setidaknya dapat menjadi bahan informasi kepada masayrakat untuk memperlakukan lansia diantaranya :

 

1.     Perhatikan Asupan Gizi

Penurunan selera makan pada lansia sangat umum terjadi bersamaan dengan penurunan berbagai fungsi indera yang mereka miliki. Selera makan yang menurun bisa disebabkan oleh banyak faktor, biasanya karena penurunan kemampuan indra pengecap dan efek samping obat yang dikonsumsi setiap hari, sehingga menyebabkan mereka terkena sembelit atau gangguan kesehatan pada mulut. Setidaknya untuk lansia laki-laki usia 65-80 tahun disarankan untuk mengonsumsi 1.900 kkal/hari dan usia 80 tahun ke atas 1.525 kkal/hari. Untuk lansia wanita usia 65-80 tahun memerlukan konsumsi 1.550 kkal/hari dan 80 tahun ke atas sebanyak 1.425 kkal/hari. Perhatikan asupan vitamin, mineral, dan air yang dikonsumsi setiap harinya karena gizi yang seimbang dapat mencegah timbulnya penyakit dan menjaga proses metabolisme tubuh.

 

2.     Pekerjakan Care Giver/ Pengasuh Profesional

Tidak ada salahnya untuk merekrut tenaga pengasuh profesional atau menyarankan lansia untuk tinggal di hunian lansia profesional. Kedua pilihan tersebut bisa dibicarakan bersama sebelum diputuskan. Apabila memilih untuk merekrut pengasuh profesional, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Mengingat pengasuh lansia harus memiliki catatan harian terkait jadwal lansia untuk kontrol kesehatan, daftar makanan, hingga berbagai permintaan aneh, maka pilihlah pengasuh profesional yang penuh kesabaran, cekatan, dan bersedia menyiapkan segala hal yang lansia butuhkan. Sebelum memilih pengasuh, ada baiknya keluarga harus mengetahui beberapa hal, antara lain dengan memeriksa pengalaman sebelumnya, kepribadian, riwayat perkawinan, tingkat pendidikan, emosi, serta motivasinya untuk menjadi pengasuh. Pilihlah pengasuh yang menjiwai dunia keperawatan orang tua, mengetahui standar operasional dan teknik keperawatan, serta supel dan mudah mengambil hati lansia.

 

3.     Ajak Lansia beraktivitas

Ajaklah lansia beraktivitas dan berolahraga ringan tanpa paksaan. Aktivitas tersebut sudah terbukti ampuh untuk menjaga metabolisme supaya tetap lancar, sehingga bisa melindungi lansia dari berbagai penyakit dan mengurangi usia fungsional hingga 15 tahun. Kegiatan olahraga ringan yang terus dilakukan secara rutin akan menjaga kebugaran tubuh mereka dan fungsi kognitifnya. Banyak jenis olahraga yang bisa dilakukan bersama lansia. Olahraga untuk kekuatan dengan bantuan beban atau barbel yang bisa dikontrol dapat dilakukan 2-3 kali seminggu tak berurutan. Jenis olahraga kelenturan, seperti peregangan, yoga, dan tai chi bisa menjadi pilihan olahraga harian lansia dengan durasi 10-15 menit/hari. Untuk aktivitas ringan yang bisa dilakukan lansia dengan intensitas sedang, kamu dapat memilih jogging bersama, berenang, jalan kaki, atau bersepeda sebanyak lima kali dalam seminggu.

 

4.     Perhatikan Kebutuhan Lansia

Kehadiran nenek dan kakek atau orang tua di rumah akan menambah kehangatan keluarga, oleh sebab itu buatlah mereka nyaman saat tinggal dirumah. Karena fungsi tubuh lansia yang terus menurun dan beberapa mengalami pengapuran pada tulang dan lututnya, tak ada salahnya untuk sedikit mengubah interior rumah atau ruangan yang mereka tempati supaya makin nyaman. Keluarga juga perlu mengetahui perubahan apa saja yang terjadi pada lansia, sehingga bisa melakukan hal terbaik untuk mereka. Usahakan untuk menempatkan kamar lansia di lantai utama dan menyederhanakan bentuk tempat tidur, kursi, pintu, jendela, atau fasilitas lain supaya mereka makin nyaman saat menggunakan, memegang, atau melewatinya. Pilihlah material yang kuat dan mudah digunakan, sehingga akan memberi rasa nyaman dan aman untuk mereka.

 

Terpenuhinya pemenuhan kebutuhan lansia di atas memang tidak serta merta dan otomatis dapat menjadikan lansia lebih sejahtera, produktif dan berperan dalam pembangunan. Namun menjadikan hidup lansia lebih berarti saat menikmati hari-hari tuanya merupakan sebuah kewajiban utamanya bagi anak dan keluarga yang memiliki lansia.

 

 

Oleh : Maghfiran Raiman, S.ST., M.M. / Fungsional Penyuluh Sosial Pertama / Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Selatan

 

Sumber :

https://bp-guide.id/AXFkU4Ef

http://p2ptm.kemkes.go.id/kegiatan-p2ptm/aceh/populasi-lansia-diperkirakan-terus-meningkat-hingga-tahun-2020#:~:text=Pada%20tahun%202000%20jumlah%20Lansia,34%25)%20dari%20total%20populasi.


Bagikan :