Makna Peringatan World Social Work Day 2021 : Ubuntu “I Am Because We Are”

Makna Peringatan World Social Work Day 2021 : Ubuntu “I Am Because We Are”


Tanggal 17 Maret 2021 lalu, seluruh pekerja sosial di dunia memperingati Hari Pekerjaan Sosial Sedunia (World Social Work Day). Hari Pekerjaan Sosial ini diperingati sebagai momentum bagi pekerja sosial untuk mempertanggungjawabkan profesinya kepada masyarakat serta menunjukkan eksistensi profesi pekerja sosial. Hal ini tidak terlepas dari pekerja sosial yang menjadi salah satu pilar penting dalam upaya pembangunan sosial dan peningkatan kesejahteraan sosial.

 

Peringatan Hari Pekerjaan Sosial (WSWD) tahun 2021 ini mengangkat tema “Ubuntu: I am because We are – Strengthening Social Solidarity dan Global Connectedness”. Ubuntu berasal dari bahasa Afrika Selatan, yang maknanya mengacu pada berperilaku baik terhadap orang lain atau bertindak dengan cara yang memberikan manfaat bagi komunitas. International Federation of Social Workers (IFSW) menjadikan ini sebagai tema peringatan hari Pekerjaan Sosial sedunia untuk mendorong solidaritas di semua tingkatan dalam komunitas sampai masyarakat secara global (IFSW, 2021).

 

Kata ‘Ubuntu’ berasal dari salah satu dialek bantu Afrika dan merupakan filosofi tradisional Afrika. Filosofi ini memberikan pemahaman tentang diri kita dalam hubungannya dengan dunia serta mengajarkan ikatan dan interaksi antara sesame manusia untuk menemukan kualitas diri sebagai manusia. Filosofi ini sudah digunakan lebih dari 2000 tahun di setiap negara Afrika di selatan Sahara, meskipun istilah yang digunakan di setiap daerah berbeda-beda. Istilah ini juga dikenal sebagai Nguni Bantu yang berarti ‘kemanusiaan’ atau bisa juga diterjemahkan menjadi ‘saya karena kita’ atau ‘kemanusiaan terhadap orang lain’. Makna ‘Ubuntu’ ini juga dijelaskan oleh seorang pemenang Nobel Perdamaian dari Afrika Selatan, Uskup Desmond Tutu. Menurutnya, ‘Ubuntu’ berbicara tentang keutuhan dan kasih sayang (Fasa, 2021). Artinya seseorang dengan ‘Ubuntu’ akan memiliki sifat yang terbuka, ramah, hangat, murah hati, dan bersedia untuk berbagi. Orang-orang yang mengamalkan ‘Ubuntu’ akan bersikap terbuka dan bersedia membantu orang lain, mendukung orang lain, dan tidak merasa terancam karena mengetahui bahwa mereka termasuk dalam keseluruhan masyarakat yang lebih besar (Fasa, 2021).

 

Ternyata, makna filosofi ‘Ubuntu’ ini sejalan dengan filosofi ‘Tat Twam Asi’. Filosofi ‘Tat Twam Asi’ ini merupakan bahasa sansekerta yang dianut masyarakat Hindu yang maknanya berarti ‘Aku adalah Engkau, Engkau adalah Aku’. Filosofi ini sudah lama diterapkan pada berbagai lembaga pelayanan kesejahteraan sosial di Indonesia di berbagai seting. Bahkan  nilai ‘Tat Twam Asi’ telah menjadi nilai yang diajarkan bagi seluruh mahasiswa Pekerjaan Sosial/Ilmu Kesejahteraan Sosial di Indonesia dan menjadi atribut bagi pekerja sosial.

 

Jika kita menarik benang merah dari makna kedua filosofi ini, kita dapat menemukan bahwa sejatinya pekerja sosial sebagai salah satu pilar dalam pembangunan sosial dan kesejahteraan sosial harus selalu bekerjasama dengan berbagai pihak lainnya untuk bersama-sama mewujudkan kesejahteraan sosial. Hal ini karena tidak ada satu masalah sosial pun yang selesai jika hanya diselesaikan oleh satu profesi saja. Melainkan pekerja sosial bersama dengan profesi-profesi lainnya saling bahu membahu untuk menangani berbagai masalah yang terjadi. Ini artinya ada suatu keterhubungan antara sesama profesi seperti yang dimaksudkan dalam tema WSWD tahun ini.

 

Dalam situasi COVID-19 saat ini misalnya, dalam menangani berbagai dampak akibat pandemi tentunya diperlukan kerjasama dan keterhubungan antara berbagai profesi. Pekerja sosial, dokter, perawat, suster, relawan, penyuluh, dan lain-lain, semuanya turun tangan menangani masalah pandemi COVID-19 saat ini. Oleh karena itu, tema WSWD tahun ini mengangkat tema Ubuntu “I Am Because We Are” sejatinya sebagai pengingat juga bagi pekerja sosial untuk selalu memperkuat solidaritas dan keterhubungan dengan berbagai pihak.

 

Solidaritas artinya selalu berempati, tenggang rasa, dan mengutamakan persatuan dan keharmonisan. Sementara keterhubungan artinya selalu menjalin relasi, komunikasi, dan koordinasi yang baik sehingga terbentuknya satu rasa, satu jiwa, dan satu komitmen bersama. Tanpa adanya solidaritas dan keterhubungan maka setiap profesi, khususnya profesi pekerja sosial, akan memiliki ego masing-masing dalam menjalankan profesinya dan tidak saling bahu membahu dalam menangani masalah. Padahal masalah sosial merupakan masalah multidimensional yang artinya selalu berhubungan dengan berbagai masalah lainnya. Seperti masalah pandemi COVID-19 saat ini, tidak hanya berdampak pada kesehatan, bahkan lebih besar lagi berdampak pada penurunan kesejahteraan masyarakat. Sehingga diperlukan upaya bersama untuk memulihkan kembali kondisi saat ini dengan cara saling bekerjasama dalam menangani masalah tersebut.

 

Peringatan WSWD tahun 2021 ini juga mengingatkan para pekerja sosial untuk memperkuat lagi komitmen dan konsistensinya dalam mewujudkan kesejahteraan sosial, khususnya di Indonesia.

Pada pelaksanaannya pekerja sosial berupaya untuk mewujudkan kesejahteraan sosial masyarakat Indonesia melalui lima hal yakni pencegahan disfungsi sosial, perlindungan sosial, rehabilitasi sosial, pemberdayaan sosial dan pengembangan sosial. Namun di tengah pandemi saat ini, pekerja sosial menghadapi tantangan yang cukup besar yakni perubahan gaya dan pola hidup karena adanya protokol kesehatan ketat untuk mencegah penularan COVID-19.

 

Perubahan ini berdampak bagi pekerja sosial karena mayoritas pelayanan dilakukan dengan cara interaksi langsung atau memberikan direct services kepada masyarakat. Seperti misalnya melakukan pendampingan terhadap masyarakat, tentunya diperlukan interaksi langsung dengan masyarakat agar dapat mencapai target perubahan. Namun dengan adanya kondisi pandemi saat ini dimana protokol kesehatan harus diterapkan secara ketat, tentunya akan mengubah cara kerja pekerja sosial itu sendiri dan menuntut pekerja sosial untuk menyesuaikan diri dengan keadaan.

 

Dalam menghadapi situasi pandemi saat ini, pekerja sosial harus mampu memanfaatkan teknologi informasi agar tetap dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat. Melalui beberapa kesempatan Pekerja Sosial Indonesia melalui IPSPI melakukan beberapa langkah seperti menyelenggarakan hotline layanan dukungan psikososial yang tergabung dalam Gugus Tugas Nasional COVID-19, melakukan berbagai kampanye pencegahan COVID-19, terlibat dalam penyusunan berbagai panduan praktik pekerjaan sosial di masa pandemi COVID-19, menyelenggarakan webinar series melalui aplikasi zoom meeting, serta beberapa langkah strategis lainnya untuk membantu pemerintah Indonesia dalam menanggulangi dampak COVID-19 (Sulistyaningsih, 2021).

 

Ini artinya situasi pandemi tidak menyurutkan langkah pekerja sosial dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Sebaliknya, situasi ini mendorong untuk menciptakan cara pelayanan yang lebih kreatif dan inovatif bagi masyarakat. Dengan memanfaatkan IT, pekerja sosial dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat. Namun pekerja sosial juga harus memperhatikan bahwa tidak semua masyarakat memiliki akses yang baik terhadap teknologi informasi. Bagi masyarakat yang tinggal di daerah terpencil, terpinggirkan, atau fakir miskin, mereka tentu akan kesulitan untuk mengakses teknologi informasi sehingga muncul suatu kesenjangan akibat keterbatasan akses IT ini. Oleh karena itu, pekerja sosial harus juga memperhatikan dan menangani kesenjangan dalam 

layanan kesejahteraan sosial dengan mempertimbangkan ketidakmerataan akses teknologi komunikasi tersebut. Pekerja sosial dituntut untuk menunjukkan inisiatif dan ide-ide baru agar tetap mampu memberikan layanan terbaik bagi yang membutuhkan dengan mengedepankan prinsip keamanan dan keselamatan karena keamanan dan keselamatan adalah yang utama di tengah pandemi ini.

 

Terakhir, pekerja sosial harus terus membenahi dan meningkatkan diri karena masih banyak hal-hal yang harus dilakukan dan ditingkatkan. Lahirnya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2019 tentang Pekerja Sosial memberikan gambaran bahwa masih banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan oleh pekerja sosial, dimana kondisi ini akan jauh lebih mudah dihadapi apabila ada dukungan penuh dari seluruh pekerja sosial Indonesia dan tentunya seluruh masyarakat Indonesia, karena kita percaya dengan Tat Twam Asi yaitu ‘Aku adalah Engkau, Engkau adalah Aku’ (Sulistyaningsih, 2021). Dan juga tidak lupa untuk selalu mengamalkan dan melekatkan nilai ‘Ubuntu’ dalam keseharian agar pekerja sosial menjadi orang-orang yang memiliki rasa kemanusiaan tinggi, penuh kasih sayang, dan selalu bersedia membantu orang lain.

 

Daftar Referensi :

Fasa, Rd. Zaky Miftahul. (2021). Filosofi Ubuntu : Makna Ajaran Kemanusiaan dari Benua Afrika. Diakses dari https://www.peksos.id/filosofi-ubuntu-makna-ajaran-kemanusiaan-dari-benua-afrika/.

International Federation of Social Worker. (2021). World Social Work Day 2021. Diakses dari https://www.ifsw.org/social-work-action/world-social-work-day/world-social-work-day-2021/.

Sulistyaningsih, Endah. (2021). “Hari Pekerjaan Sosial Sedunia 2021: Ubuntu I am because We are” Suara.com Minggu, 14 Maret 2021 | 14:10 WIB. Diakses dari https://www.suara.com/news/2021/03/14/141055/memperkuat-solidaritas-sosial-dan-keterhubungan-global?page=all.

 

Oleh Syadza Alifa, M.Kesos

Widyaiswara Ahli Pertama BBPPKS Bandung

 


Bagikan :