Kontribusi Program Keluarga Harapan (PKH) dalam Pencegahan Stunting di Indonesia

Kontribusi Program Keluarga Harapan (PKH) dalam Pencegahan Stunting di Indonesia

Masalah sosial senantiasa dihadapkan dengan kemiskinan yang terjadi di suatu negara. Kemiskinan ini berdampak pada  minimnya akses masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan maupun pelayanan kesehatan. Kemiskinan merupakan indikator ketidakmampuan dalam memperoleh kecukupan pangan karena rendahnya kemampuan daya beli sehingga sulit untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, perumahan, pendidikan dan lain-lain.

Stunting menjadi salah satu permasalahan yang disebabkan  oleh kemiskinan. Kemiskinan dianggap menjadi faktor penting penyebab terjadinya stunting pada balita karena rumah tangga yang misikin tidak dapat memenuhi asupan gizi untuk anaknya, sehingga anak tersebut menjadi stunting. Dengan kondisi tersebut tumbuh kembang anak menjadi terhambat sehingga kedepannya menghasilkan SDM yang tidak berkualitas.

Stunting merupakan masalah gizi kronis dimana seseorang mengalami kegagalan pertumbuhan dan perkembangan secara optimal dikarenakan dampak dari kekurangan gizi secara kumulatif dan terus-menerus. Anak yang mengalami stunting tidak hanya terhambat pertumbuhan fisiknya, tetapi juga perkembangan otaknya yang menyebabkan kecerdasan intelektualnya rendah. Permasalahan stunting memiliki konsekuensi jangka panjang bukan hanya terlihat dari fisik melainkan berpengaruh juga pada kelangsungan hidup , pertumbuhan linear, perkembangan kognitif, kemampuan belajar di sekolah menurun, kurang produktif, lebih mudah terkena penyakit degenaratif. Bayangkan jika sebagian besar balita di Indonesia mengalami stunting bagaimana nasib sumber daya manusia kita di masa depan? Tentu sumber daya manusia yang dihasilkan berkualitas rendah.

Prevalensi balita stunting pada tahun 2018 berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) mencapai 30,8 persen yang artinya satu dari tiga balita mengalami perawakan pendek akibat malnutrisi kronis. Upaya dalam pencegahan stunting dimulai dengan penyuluhan dan konseling demonstrasi pada remaja untuk mencegah anemia dan kurang Energi Kronik (KEK) dengan asupan gizi yang seimbang. Selain itu upaya pendewasaan usia perkawinan juga tetap harus ditingkatkan.Stunting hanya bisa teratasi selama periode 1000 Hari Pertama Kehidupan atau dari masa kehamilan sampai anak berumur dua tahun dan disaat otak anak berkembang pesat.

Bagaimanan peranan pemerintah dalam mengatas permasalahan stunting? Adanya Program Keluarga Harapan (PKH) menjadi salah satu upaya pemerintah dalam menekan prevalensi kasus stunting di Indonesia. Sasaran PKH salah satunya keluarga miskin dan rentan yang terdaftar di Data Terpadu Program Penanganan Fakir miskin yang memiliki komponen kesehatan dengan kriteria ibu hamil atau menyusui,anak berusia nol sampai dengan  enam tahun. Penerima bantuan PKH diistilahkan sebagai Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Adapun kewajiban KPM PKH di bidang kesehatan meliputi pemeriksaan kandungan bagi ibu hamil, pemberian asupan gizi dan imunisasi serta timbang badan anak balita. Selain KPM, pendamping PKH juga memiliki kewajiban untuk mensosialisasikan dan mengedukasi KPM terkait pentingnya 1000 hari pertama kehidupan, gizi ibu hamil dan pemeriksaan kehamilan, mengatasi kesakitan dan kesehatan lingkungan (CTPS, kebersihan jamban, Penyediaan Air Bersih dll), aksesibilitas pada Program Indonesia Sehat/Kartu Indonesia Sehat, pemberian  makanan tambahan. PKH telah diimplementasikan selama 11  tahun dan secara faktual berhasil mendorong peningkatan status gizi KPM PKH. Hasil penelitian Bank Dunia menunjukkan PKH mengurangi 2,7 persen kasus stunting.

Selain  itu di Tahun 2020 bentuk kepedulian pemerintah melalui Program Keluarga Harapan dalam mengentaskan permasalahan stunting ialah dengan menaikkan indeks nilai bansos PKH untuk kategori ibu hamil dan anak usia dini dari Rp 2,4 juta menjadi Rp 3 juta pertahun diharapkan dapat memberikan kesempatan lebih luas bagi ibu hamil untuk mempersiapkan kehamilan yang sehat dan gizi yang  baik bagi anak-anaknya dengan penambahan indeks bantuan tersebut ibu- ibu mampu menjangkau pangan bergizi untuk dirinya sendiri maupun anak-anak.

Beberapa gejala stunting pada anak yang perlu diketahui para orang tua diantaranya: 

1.     Anak berbadan lebih pendek untuk anak seuisianya.

2.     Proporsi tubuh cenderung lebih normal tetapi anak tampak lebih muda/kecil untuk usianya.

3.     Berat badan rendah untuk anak seusianya.

4.     Pertumbuhan tulang tertunda.

Adapun cara mengantisipasi terjadinya stunting pada balita berikut hal-hal yang dapat diterapkan oleh para orang tua khususnya ibu yaitu:

1.     Melakukan pemeriksaan kehamilan secara teratur.

2.     Menghindari asap rokok dan memenuhi nutrisi yang baik selama masa kehamilan antara lain dengan menu sehat seimbang , asupan zat besi, asam folat, yodium yang cukup.

3.     Melakukan kunjungan secara teratur ke dokter atau pusat pelayanan kesehatan lainnya untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan anak, yaitu:

a.     Setiap bulan ketika anak anda berusia 0 sampai 12 bulan

b.     Setiap 3 bulan ketika anak anda berusia 1 sampai 3 tahun 

c.     Setiap 6 bulan ketika anak anda berusia sampai 6 tahun

d.     Setiap tahun ketika anak anda berusia 6 sampai 18 tahun 

4.     Mengikuti program imunisasi terutama imunisasi dasar.

5.     Memberikan ASI ekslusif sampai anak anda berusia 6 bulan dan pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang memadai.

Diharapkan bagi KPM khususnya kategori ibu hamil dan usia dini agar mampu menggunakan bantuan PKH sebagaimana mestinya sesuai dengan tujuan diberikannya bantuan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan pada masa kehamilan khususnya di masa 1000 Hari Pertama Kehidupan serta konsisten untuk memenuhi kewajibannya sebagai peserta PKH agar permasalah sosial khususnya stunting yang ada di negara kita ini dapat dituntaskan secara maksimal.

 

Oleh : Salmiah, S.KM


Bagikan :