Kesejahteraan atau Kesempatan

Kesejahteraan atau Kesempatan
Ditulis oleh : Ulyatul Mustarsida

Kemiskinan merupakan masalah bersama bangsa ini untuk dipecahkan. Berbagai upaya dilakukan agar presentase kemiskinan turun dan masyarakat Indonesia benar-benar mencapai taraf kesejahteraan dalam keluarganya. Mulai dari menyediakan lapangan kerja, pelatihan kerja, pelatihan keahlian, UMKM, bantuan sosial dan banyak lagi berbagai macam strategi yang telah digunakan oleh pemerintah dalam mengentas kemiskinan. Tentu , sasaran-sasaran dari berbagai macam strategi itu adalah masyarakat dengan kategori miskin. Lalu bagaimana cara mengetahui mereka yang miskin dan membutuhkan berbagai macam akses kesejahteraan tersebut, dari sekian banyak masyarakat di Indonesia.

Bukan pekerjaan yang mudah memang, butuh kerjasama dari semua pihak untuk menentukan siapa yang layak mendapatkan akses. Bukan sekedar memilih dan menentukan saja, namun proses berikutnya adalah menilai keefektifan dari akses yang diberikan, apakah sudah tepat dengan yang dibutuhkan dan berpotensi  sustainble , ataukah malah akses tersebut berlalu begitu saja, tanpa adanya output yang signifikan untuk mewujudkan kesejahteraan yang diharapkan?. Ketika hal tersebut tidak tepat sasaran maka bukan kesejahteraan yang diraih, melainkan masalah baru yang harus dihadapi.

Semisal dengan mengadakan pelatihan kerja yang dikhususkan untuk tenaga muda yang memiliki keahlian dibidang tertentu dan juga memiliki kemauan. Namun kareana terbatasanya informasi, dan kondisi waktu yang sudah hampir kadaluarsa, maka mau tidak mau harus segera mengisi kuota dengan oranglain yang kurang memenuhi ketentuan-ketentuan yang sudah disepakati. Alhasil, ketika pelatihan tersebut sudah terlaksana, mungkin hanya beberapa saja yang bisa mengaplikasikannya dan memulainya untuk menjadikannya sebagai aktifitas baru mata pencaharian mereka, namun bagaimana yang lain? Mungkin hanya memanfaatkan uang saku saja, setelah itu hilang dan kembali menjadi pengangguran.

Bantuan sosial, juga merupakan salah satu akses yang diberikan oleh pemerintah dalam misi mengentas kemiskinan. Bantuan sosial yang diberikan pun bermacam-macam, mulai dari bantuan uang tunai, bantuan modal, bantuan pangan non tunai, dan sebagainya. Namun apakah semua bantuan yang sudah diberikan dengan daftar penerima yang sudah ditentukan tersebut sudah tepat sasarankah? Atau malah berlalu ditangan masyarakat yang sudah sejahtera namun enggan untuk menanggalkan bantuan yang tanpa diminta itu datang menghampiri.

Kenyataan di lapangan, kejadian semacam itu sangat sering terjadi. Bahkan diberbagai tempat, salah sasaran dalam memberikan bantuan tersebut terjadi. Berbagai protes dilayangkan, baik ke pemerintah desa, Kecamatan, Petugas Sosial, bahkan sampai ke berbagai media.  Siapa yang paling banyak protes? Tentu mereka yang merasa dirinya berada dijalur kemiskinan dan tidak mendapatkan bantuan apapun, sedangkan tetangganya yang berada dijalur sejahtera malah mendapatkan berbagai macam bantuan. Apalagi saat ini berbagai macam bantuan menjadi satu yakni combo dalam satu ATM, semisal PKH dan BPNT.

Untuk mereka yang mendapatkan bantuan dan sejahtera, sejahtera dalam artian memiliki ekonomi yang tinggi dibandingkan dengan tempat tinggalnya. Memiliki 3 kendaraan bermotor, rumah berlantai keramik, dinding tembok, dan cukup luas, serta memiliki aset berupa sawah dan hewan ternak, dan mereka memiliki ATM combo yang berisikan bantuan PKH dan juga BPNT.

Dengan berbagai macam bantuan yang mendatangkan kenyamanan ini, tentu mereka telah  menjadikannya sebuah kesempatan. Kesempatan untuk kembali mengumpulkan pundi-pundi rupiah, yang awalnya mereka gunakan untuk membeli bahan makanan, kini mereka bisa mebgalihkannya untuk memebli barang-barang sekunder atau malah lebih ke tersier, karena kebutuhan primer mereka sudah tercukupi dari adanya fasilitas bantuan sosial. Dikatakan miskin, mereka lebih berada daripada orang-orang disekitarnya, namun mereka mendapatkan bisa bantuan sosial tersebut.

Lalu ketika terjadi hal yang demikian, masih pantaskah itu disebut sebagai cara untuk meningkatkan kesejahteraan, atau menggunakan kesempatan yang datang? Dengan alasan mereka tidak meminta namun diberi kenapa harus menolaknya, apalagi bantuan yang diberikan lumayan besar, mungkin cukup untuk kebutuhan dasar mereka selama dua minggu hingga satu bulan. Kesempatan yang didasari dengan ego yang tinggi tersebut tentu semakin menciptakan tingginya ketimpangan sosial yang terjadi diantara sesama masyarakat. Apalagi ketika mereka enggan berbagi rejeki, malah dengan senang hati menunjukkan kekayaan yang dimiliki, tentu akan semakin menciptakan ruang sakit hati untuk mereka yang merasa terdiskriminasi.

Melihat fakta diatas tersimpan pekerjaan besar untuk pemerintah dan khususnya untuk para pekerja sosial yang berhubungan langsung dengan masyarakat, agar selalu mensosialisasikan peruntukan bantuan sosial tersebut. Ketika sosialisasi sudah dilakukan namun masyarakat yang memiliki kesejahteraan yang cukup dibandingkan dengan sekelilingnya dan enggan untuk melepas atributnya sebagai penerima bantuan sosial maka dibutuhkan adanya kesadaran dari masyarakat itu sendiri. Memang menghadapi hal semecam itu membutuhkan kerja keras dan kerja sama yang baik. Tentu tidak hanya mengandalkan kerja keras dari para pegiat sosial, namun para masyarakat seharusnya mulai membangun kesadaran dan kesiapan mental untuk mengatakan tidak pada haknya, dan berani untuk menolak bantuan jika itu tidak diperuntukkan untuk identitas yang melekat pada dirinya.

Keadaan semacam itulah yang menunutut pemerintah khususnya dan kita pada umumnya untuk bersama-sama kembali mengkaji daftar penerima bantuan sosial. Apakah benar-benar layak ataukah tidak. Pekerjaan rumah lainnya adalah segera membuat daftar nama baru dengan kondisi masyarakat yang ekonominya berada dilajur kemiskinan guna menghindari ketimpangan sosial yang semakin melonjak. Daftar nama baru tersebut bisa didapatkan dari BDT yakni basis data terpadu atau mungkin dari usulan beberapa masyarakat dengan tindak lanjut survey untuk meninjau langsung guna mengetahui keadaan sasaran yang sebenarnya, benar-benar layak ataukah tidak.

 


Bagikan :