KEMISKINAN PEDESAAN DAN POLA PENGASUHAN ANAK

KEMISKINAN PEDESAAN DAN POLA PENGASUHAN ANAK


Ditulis oleh : Iis Arfiyani


Kemiskinan merupakan masalah yang takkan ada habisnya untuk dikaji, terlebih masalah tersebut  identik dengan penduduk di pedesaaan yang notabennya erat dengan sektor pendapatan ekonomi tradisonal. Perputaran ekonomi tradisional yang tidak bisa memenuhi kebutuhan primer suatu keluarga bukan hanya menimbulkan kelompok perempuan dan anak yang dikonsentrasikan menjadi golongan etnis minoritas karena dampak dari ketidakcukupinya  akan  masalah gizi. Akan tetapi masalah kemiskinan dipedesaan tersebut merupakan akar dari munculnya berbagai masalah baru, baik dari segi kesehatan, kesenjangan sosial maupun kriminalitas.

Pengaruh kemiskinan bukan hanya pada masalah tidak terpenuhinnya kebutuhan pokok suatu keluarga, akan tetapi terabaikannya masalah pendidikan anak. banyak anak pedesaan yang suatu keluarga tersebut mengalami putus sekolah, bahkan dari anak-anak yang terkena dampak  dari masalah kemiskinan, masyarakat tersebut  tidak mampu untuk melanjutkan pendidikan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi yang pada akhirnya bisa menimbulkan  pengangguran.

Pada umumnya kemiskinan itu terjadi karena banyak hal, salah satu diantaranya disebabkan dari karakter itu sendiri, Setidaknya menurut Edi Mulyono(2017:1) ada 3 karakteristik orang miskin yaitu: 1). Mereka memiliki kemauan tapi tidak memiliki kemampuan; 2). memiliki kemampuan akan tetapi tidak memiliki kemauan dalam arti kata malas; 3). memiliki kemampuan dan kemauan akan tetapi tidak memiliki peluang.

Selain dari 3 karakteristik tersebut, di era serba teknologi ini, ada sebab lain seorang terjebak dengan kemiskinan yaitu gaya hidup (life style) yang berlebihan membuat seseorang terjerembab jatuh pada persoalan kemiskinan, alih-alih masyarakat awan mengikuti trend yang ada dengan mengedepankan rasa iri terhadap tetangganya agar dipandang tinggi dari status sosialnya, akhirnya masyarakat tak lagi mempertimbangkan dan membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Termasuk minimnya pengetahuan mereka tentang pola pengasuhan anak yang pada akhirnya banyak orang tua terjebak untuk mengikuti semua keinginan anak, misalnya saja keinginan untuk memberikan gadget dengan tidak mempertimbangkan usia dan memperhitungkan batasannya,terlebih  masyarakat pedesaan sendiri secara ekonomi belum bisa memenuhi kebutuhan tersebut tapi memaksakan untuk menuruti keinginan anak.

Beban kemiskinan yang paling besar ditanggung oleh kaum perempuan dan anak atau kaum minoritas dimana kaum ini merupakan puncak dari lahirnya generasi, jika kaum minoritas ini mendapatkan pendidikan yang layak, pengetahuan yang baik, setidaknya perempuan tersebut dapat memainkan perannya dengan baik, adapun ketika terjadi masalah kemiskinan yang mengakibatkan minimnya untuk mengakses pendidikan, dan lahirlah generasi yang lahir dari orangtua yang minim akan pengetahuan atau besar kemungkinan terjadinya kemiskinan struktural.

Kemiskinan dan pola pengasuhan anak yang terjadi pada masyarakat pedesaan menyebabkan masalah anak yang dialami dalam sistem keluarganya, menurut Rozario (2005:1-11) , diantaranya : 1). Orangtua terlalu protektif dan memanjakan anak. Sikap orangtua seperti ini yang akan membantuk karakter anak tidak mandiri sehingga anak mempunyai sifat kebergantungan yang tinggi terhadap orangtuanya dan lahirkan generasi yang tidak bisa survive. Hal ini banyak pekerja sosial temui ketika melakukan home visit, dan alasan orangtua kebanyakan karena tidak tega terlebih meliihat tangisan dari anaknya, Padahal ketidak tegaan orangtua membawa dampak buruk anaknya di masa depan. 2). Orang tua acuh tak acuh terhadap anak-anaknya. Sikap acuh orang tua dapat berupa pengabaian atau penolakan. Sikap orang tua semacam ini yang dapat menimbulkan masalah penelantaran dan isolasi anak. 3). Orang tua melakukan kekerasan secara verbal dan atau menghukum anak secara fisik atau kekerasan fisik. Perilaku anak semacam ini yang akan menyebabkan seorang anak tumbuh menjadi pribadi yang agresif. 4). Orang tua menunjukan sikap pilih kasih  kepada satu anak dengan mengorbankan yang lain termasuk dengan membandingkan dengan anak lainnya. Sikap orang tua semacam ini yang akan menyebabkan self-esteem rendah pada anak. 5). Orang tua terlalu otoriter dan permisif.Sikap otoriter disini dapat menghalanhi kebebasan anak dalam mengembangkan bakatnya dan permisif menyebabkan anak tidak disiplin dan kurang kontrol dir. 6). Orang tua terlalu menuntut anak pada bidang pendidikan dan karir. Sikap orang tua seperti ini yang dapat menyebabkab abaj tidak mampu mengatasi stress, kecemasan dan panik.

Pada pola pikir masyarakat pedesaan  tidak sedikit yang mereka paham tentang ilmu mendidik anak, karena masyarakat sudah disibukan dengan bagaimana memenuhi kebutuannya sehari-hari sehingga mengabaikan satu kewajiban mereka dalam pengasuhan anak, tak sadar masyarakat mengabaikan baik karena  situasi dan kondisi mereka, maupun kurangnya pendidikan, pengetahuan orang tua tentang peran pentingnya dalam pengasuhan anak.Jadi, kemiskinan disini erat kali kaitannya dengan minimnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya pendidikan sehingga tak jarang banyak anak kasus putus sekolah, akan tetapi support system dari keluarga inti yang belum berjalan dengan baik.

 Dalam rangka penanggulangan kemiskinan pedesaan dan perbaikan pola pengasuhan anak, berbagai upaya telah dilakukan baik dari pemerintah maupun masyarakat itu sendiri untuk merubah status ekonomi dan pola pikir masyarakat.Pemberdayaan masyarakat yang diupayakan selama ini diharapkan tidak hanya mengejar kuantitas akan tetapi kualitas sehingga terjadi peningkatan yang signifikan dalam proses pemberdayaan. Agar pemberdayaan dapat berhasil dan berkualitas, diperlukan adanya pemberdayaan yang berkualitas dengan  berbasis karakteristik.

Salah satu jenis pemberdayaan yang cukup dikenal selama ini yaitu melalui pelatihan-pelatihan. Menurut Beach (1975) mengemukakan bahwa “ The Objective of training is to achieve a change in the behavior of those trained” . Sementara itu dari pelatihan yang dikemukakan oleh Flippo dalam buku Edi Mulyono bahwa tujuan pelatihan adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan seseorang.

 Pada Era Millenial sekarang, kita ketahui bahwa PKH yang merupakan program nasional yang mempunyai kegiatan pemberdayaan yang disebut dengan istilah Family Development Session (FDS). FDS  ini diimplementasikan oleh Kementerian Sosial,  Badan Perencanaan Pembangunan Nasioanal (Bappenas), Tim Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), Bank Dunia dan UNICEF, merupakan kegiatan yang bertujuan untuk merubah pola pikir masyarakat. Salah satu yang dibahas adalah  mengenai  pentingnya pengasuhan dan pendidikan anak yang tertuang dalam materi pada modul pengasuhan dan pendidikan anak yang memuat 4 topik yaitu: Menjadi orangtua yang lebih baik, Memahami Perkembangan dan perilaku anak, Memahami cara anak usia dini belajar, dan membantu anak agar sukses di sekolah. Dalam modul ini mempunyai tujuan agar meningkatkan pemahaman orangtua akan pentingnya menerapkan pola asuh yang baik di rumah dan pentingnya pendidikan untuk kesuksesan anak di masa mendatang.


Bagikan :