Kegiatan Penyuluhan tentang Sistem Pendidikan Aman Bencana (SPAB) Pada Era Pandemi Covid-19 di SMAN 3 Kabupaten Seluma, Bengkulu

Kegiatan Penyuluhan tentang Sistem Pendidikan Aman Bencana (SPAB)  Pada Era Pandemi Covid-19 di SMAN 3 Kabupaten Seluma, Bengkulu


 


 

Rasanya kurang lengkap jika pada era pandemi Covid-19 ini kita lewatkan tanpa sebuah bahasan tentang “Pendidikan”. Saat ini alokasi dana pendidikan dari pemerintah adalah sebesar 20% dari APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara), tetapi perhatian Pemerintah masih minim terkait “Pendidikan Siaga Bencana” di sekolah. Padahal beberapa negara lain sudah memasukkan Pendidikan Siaga Bencana ke dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah, di antaranya adalah Jepang dan Filipina. Jepang dan Filipina telah menerapkannya sejak di bangku sekolah dan sudah masuk ke dalam kurikulum nasional. Begitu pula dengan China, implementasi pendidikan kebencanaan di kampus-kampus dilakukan melalui penyuluhan dan pelatihan keselamatan dan darurat bencana di asrama setiap awal tahun ajaran baru bahkan Beijing Jiaotong University menyediakan ruang eksibisi tentang pendidikan kebencanaan.

          Jelas saja “Pendidikan Siaga Bencana” ini penting bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia, terutama mengenalkannya sejak dini di sekolah. Karena menurut United International Strategy for Disaster Reduction (UNISDR; Badan PBB untuk Strategi International Pengurangan Resiko Bencana) Indonesia termasuk dalam negara yang paling rawan terkena bencana alam di dunia. Berbagai bencana alam mulai gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, banjir, tanah longsor, kekeringan, dan kebakaran hutan rawan terjadi di Indonesia. Belajar dari pengalaman tentang kejadian bencana alam yang besar dan berbagai bahaya yang ada di Indonesia, maka dipandang perlu untuk mengajarkan kepada masyarakat Indonesia tentang Siaga Bencana. Hal ini dapat dimulai dengan “Pendidikan Siaga Bencana” pada siswa di sekolah tentang bagaimana menyelamatkan diri mereka saat bencana mengancam dan menghindari kecelakaan.

Terlebih lagi saat ini Indonesia juga sedang menghadapi wabah Covid-19 yang termasuk dalam kategori bencana non-alam. Tentu saja dengan adanya pandemi Covid-19 ini, sangat mempengaruhi tatanan kehidupan kita semua, tak terkecuali dengan sistem pendidikan yang ada di Indonesia. Mengingat sudah diperbolehkannya beberapa Sekolah untuk melakukan aktivitas belajar mengajar secara tatap muka. Oleh karena itu, sangat diperlukan dilakukannya kegiatan penyuluhan sosial tentang “Satuan Pendidikan Aman Bencana”. Yang mana kegiatan penyuluhan ini lebih ditekankan pada kesiapsiagaan pihak sekolah dalam menghadapi bencana, baik itu bencana alam maupun bencana non alam, seperti pandemi Covid-19 ini.

Seperti yang diketahui, bahwa Provinsi Bengkulu merupakan daerah rawan terjadinya gempa, maka diperlukan pemberian informasi tentang siaga bencana. Karena yang namanya bencana dapat terjadi kapan saja dan dimana saja, tidak menutup kemungkinan saat sedang berlangsungnya proses belajar mengajar di sekolah. Dan bertepatan juga saat ini sedang terjadi pandemi Covid-19, sehingga sangat diperlukan pemberian penyuluhan tentang standar protokol kesehatan saat sedang beraktivitas di sekolah. Oleh karena itu, saya selaku penyuluh sosial pertama Dinas Sosial Provinsi Bengkulu, memilih tema penyuluhan tentang “Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB)” untuk disuluhkan kepada siswa di SMAN 3 Seluma, Provinsi Bengkulu.

Penyuluhan sosial tentang “Satuan Pendidikan Aman Bencana” ini dilakukan di SMAN 3 Seluma sesuai dengan protokol kesehatan dan hanya diikuti oleh beberapa orang siswa sebagai perwakilan. Kegiatan ini diikuti oleh beberapa orang anggota OSIS, dengan mengatur jarak antar siswa dan tetap berpedoman pada protokol kesehatan. SMAN 3 Seluma  menerapkan sistem pembelajaran aktif secara tatap muka di era pandemi Covid-19. Kabupaten Seluma sempat berada di zona hijau, walau saat ini kembali menjadi zona kuning, karena sudah ada Desa di dekat lokasi sekolah yang terdampak virus Covid-19 lagi.

Kegiatan penyuluhan sosial ini dilakukan di SMAN 3 Seluma karena sebagai salah satu satuan pendidikan, lokasi sekolah ini dekat dengan pantai dan wilayah Kabupaten Seluma ini juga termasuk salah satu wilayah yang ada di Provinsi Bengkulu yang rawan gempa dan sering terjadi banjir ketika intensitas dan curah hujan tinggi, sehingga peluang kemungkinan terjadinya bencana alam itu besar. Dan bertepatan juga saat ini sedang terjadinya pandemi Covid-19, dan SMAN 3 tetap melakukan aktivitas di sekolah, meskipun tidak full time, dibagi per shift dan adanya pengurangan jam belajar dari pembelajaran normal sebelumnya.  Sehingga sangat tepat jika dilakukan penyuluhan tentang “Satuan Pendidikan Aman Bencana” di sekolah ini.

Penyuluhan tentang “Satuan Pendidikan Aman Bencana” ini menerapkan media kunjungan anjang karya, yaitu salah satu media dengan bentuk kunjungan yang dilakukan seorang penyuluh ke lokasi dimana kelompok sasaran melakukan aktivitasnya. Dalam hal ini saya selaku penyuluh sosial langsung mengunjungi SMAN 3 Seluma. Pada penerapan metode ini terjadi ‘learning by doing’, yaitu belajar sambil melakukan. Pada saat proses penyuluhan berlangsung, saya sebagai penyuluh sosial akan menunjukkan seperti apa protokol kesehatan selama di sekolah dan meminta salah satu siswa untuk mempraktekkannya di depan kelas sesuai dengan yang telah dijelaskan sebelumnya.

Selain menggunakan media kunjungan anjang karya, kegiatan penyuluhan ini juga menggunakan media surat-menyurat. Media yang digunakan berupa leaflet dan gambar-gambar yang disajikan di papan tulis. Leaflet berisi tentang penjelasan secara singkat, padat dan mudah dipahami serta didukung gambar-gambar yang sederhana. Leaflet ini digunakan untuk memberikan keterangan singkat tentang kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana alam di lingkungan sekolah dan menjelaskan tentang protokol kesehatan selama di sekolah. Leaflet  ini dibagikan pada saat melaksanakan penyuluhan, yang nantinya bisa digunakan sebagai bahan bacaan agar lebih memahami materi penyuluhan yang telah disampaikan. Sedangkan gambar-gambar digunakan untuk mempermudah sasaran garapan penyuluhan untuk memahami permasalahan yang diangkat menjadi topik penyuluhan.

Dalam kegiatan penyuluhan sosial ini, metode yang digunakan adalah metode kelompok. Metode kelompok adalah pendekatan penyuluhan yang dilakukan secara berkelompok, dimana kelompok dijadikan sebagai alat bantu dalam proses penyuluhan ini. Dengan kata lain, “kelompok” ini merupakan perwakilan/ perpanjangan tangan dari penyuluh sosial, yang dapat membantu menyebarluaskan dan meneruskan informasi yang telah mereka peroleh dari kegiatan penyuluhan sosial yang telah dilaksanakan kepada para siswa yang lainnya. Dalam kegiatan penyuluhan ini, saya selaku penyuluh sosial secara langsung memberikan informasi dan penjelasan tentang materi yang terkait dengan judul penyuluhan. Materi ini disampaikan melalui ceramah yang didukung dengan gambar-gambar sebagai penguat materi.

Sangat jelas sekali bahwa tujuan pelaksanaan dari kegiatan penyuluhan tentang “Satuan Pendidikan Aman Bencana” ini adalah untuk memberikan gambaran dan mengenalkan kepada Satuan Pendidikan, dalam hal ini SMA Negeri 3 Kabupaten Seluma mengenai kesiapsiagaan menghadapi bencana, baik bencana alam maupun bencana non alam. Mengingat bahwa di Indonesia sering sekali terjadi bencana alam, maka dipandang perlu untuk mengajarkan kepada masyarakat Indonesia tentang Siaga Bencana. Dan juga pada saat ini Indonesia sedang mengalami bencana non alam, yaitu adanya pandemi Covid-19. Oleh karena itu, sangat diperlukan dilakukannya kegiatan penyuluhan sosial tentang “Satuan Pendidikan Aman Bencana”. Yang mana kegiatan penyuluhan ini lebih ditekankan pada kesiapsiagaan pihak sekolah dalam menghadapi bencana, baik itu bencana alam maupun bencana non alam, seperti pandemi Covid-19 yang sedang dan masih terjadi hingga saat ini.


Oleh : Hanni Susanty, S.Pd


Penyuluh Sosial Pertama Dinas Sosial Provinsi Bengkulu

 

 


Bagikan :