Implementasi Metode Therapeutic Community (TC) Dalam Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahguna Narkotika : Case Study di Rumah Anugerah Yayasan Kipas Kota Bengkulu

Implementasi Metode Therapeutic Community (TC)  Dalam Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahguna Narkotika :  Case Study di Rumah Anugerah Yayasan Kipas Kota Bengkulu


Penyalahgunaan Narkotika merupakan kejahatan luar biasa. Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional tahun 2019 prevalensi penyalahgunaan Narkotika di Indonesia sebanyak 1,8 % atau setara dengan 3 (tiga) juta orang. Badan Narkotika Nasional Provinsi Bengkulu mencatat bahwa jumlah penyalahguna Narkotika di Provinsi Bengkulu dalam tiga tahun terakhir berturut-turut adalah sebanyak 141 orang di tahun 2018, 253 orang di tahun 2019 dan 138 orang di tahun 2020 dengan konsentrasi terbanyak di Kota Bengkulu.

Langkah strategis yang dilakukan pemerintah dalam upaya melakukan perang melawan narkotika adalah melalui tiga strategi, yaitu pertama demand reduction. Strategi ini merupakan strategi pencegahan agar masyarakat memiliki ketahanan diri terhadap penyalahgunaan Narkotika. Kedua menggunakan strategi supply reduction, yaitu penegakan hukum yang tegas dan terukur dalam menangani sindikat Narkotika. Ketiga adalah dengan melakukan upaya rehabilitasi kepada para pecandu dan penyalahguna Narkotika. Rehabilitasi dilaksanakan baik dengan rehabilitasi medis maupun rehabilitasi sosial.

Rehabilitasi medis dilaksanakan di rumah sakit khusus ketergantungan obat milik pemerintah, dan rehabilitasi sosial dilaksanakan baik oleh pusat rehabilitasi milik pemerintah maupun lembaga rehabilitasi milik masyarakat, yaitu melalui lembaga-lembaga kesejahteraaan sosial (LKS) yang fokus didalam rehabilitasi sosial korban penyalahguna Narkotika. Berdasarkan data Dinas Sosial Provinsi Bengkulu tahun 2020, jumlah lembaga kesejahteraan sosial yang fokus dalam rehabilitasi sosial di Provinsi Bengkulu sebanyak 4 (empat) lembaga. Dimana terdapat dua lembaga di Kota Bengkulu dan dua lembaga di Kabupaten Rejang Lebong.

Keempat lembaga ini merupakan mitra pemerintah daerah Provinsi Bengkulu yang melaksanakan rehabilitasi sosial bagi korban penyalahguna Narkotika dengan menggunakan sistem rawat inap atau residensial. Jumlah residen pada keempat lembaga kesejahteraan sosial di Provinsi Bengkulu untuk semester pertama tahun 2021 adalah lebih kurang sebanyak 96 orang, dengan rincian 26 orang residen di Rumah Anugerah Yayasan Kipas Kota Bengkulu, 21 orang residen di Yayasan Pesona Kota Bengkulu, 40 orang residen di Dwin Foundation Rejang Lebong dan sebanyak 9 orang residen di Yayasan Karunia Insani Kabupaten Rejang Lebong.

Rehabilitasi Sosial

Rehabilitasi Sosial (Kemensos,2014) adalah proses refungsionalisasi dan pengembangan untuk memungkinkan seseorang mampu melaksanakan fungsi sosialnya secara wajar dalam kehidupan masyarakat. Rehabilitasi sosial di lakukan dengan dua sistem yaitu rehabilitasi sosial di dalam lembaga dan rehabilitasi sosial di luar lembaga.

Kegiatan rehabilitasi sosial berbentuk kegiatan pembinaan fisik/kesehatan, mental dan sosial serta vokasional. Proses rehabilitasi sosial mencakup : Penerimaan awal. Tahap ini meliputi suatu bentuk prosedur penerimaan dan seleksi klien yang dianggap cocok untuk diberikan pelayanan sesuai standar yang ditetapkan lembaga rehabilitasi sosial. Pada tahap ini dilakukan pemeriksaan awal untuk menentukan diagnosis dan rencana tidak lanjut yang meliputi wawancara, pemeriksaan fisik atau gejala-gejala klinis, pemeriksaan penunjang seperti tes air seni, darah, jantung, paru-paru dan lain sebagainya. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kondisi klien apakah dalam keadaan keracunan, over dosis, putus zat, adanya komplikasi, dalam keadaan dual diagnosis / gangguan jiwa atau clean. Detoksifikasi. Tahap ini adalah proses mengeluarkan racun atau toksin dalam diri penyalahguna Narkotika untuk menghilangkan ketergantungan secara fisik. Detoksifikasi dapat  dilakukan di dalam lembaga maupun di luar lembaga, bisa dilakukan dengan obat-obatan (medis) maupun tanpa obat-obatan (cold turkey). Pra-Rehabilitasi. Tahap ini merupakan tahap persiapan bagi klien untuk memasuki program rehabilitasi, meliputi persiapan kesehatan, kestabilan mental emosional, membangkitkan motivasi untuk mengikuti program dan pengenalan program. Pengungkapan dan pemahaman masalah (assessment). Kegiatan yang dilakukan adalah wawancara, observasi, review data personal, penggalian/pengungkapan dan pemahaman masalah, penggalian potensi  dan sumber- sumber internal maupun eksternal klien, tes psikologi, dan kemudian dilakukan temu bahas kasus (case conference). Kegiatan ini diakhiri dengan perumusan rencana intervensi yang dilakukan pekerja sosial bersama-sama dengan klien. Rencana intervensi yang di susun adalah acuan dalam melaksanakan bimbingan pemulihan. Pelaksanaan bimbingan pemulihan. Tahap ini terdiri atas serangkaian teknik yang dirancang untuk menghasilkan perubahan yang telah ditetapkan sebelumnya pada status fisik, psikologis, dan sosial. Kegiatan yang dilakukan tahap ini adalah pelibatan klien dalam kegiatan bimbingan fisik, bimbingan mental spiritual, bimbingan sosial, dan bimbingan keterampilan kerja dan bimbingan belajar. Kegiatan yang dilakukan dalam bimbingan fisik yaitu olahraga, rekreasi, dan perawatan kesehatan. Kegiatan yang dilakukan dalam kegiatan bimbingan mental spiritual yaitu pendidikan budi pekerti, kegiatan keagamaan, pengembangan minat dan bakat. Dalam kegiatan bimbingan sosial dilaksanakan terapi kelompok, sesi-sesi kelompok, seminar, konseling individu, keluarga dan kelompok. Dalam bimbingan keterampilan kerja diberikan kepada klien dalam bentuk praktek langsung, dan dalam tahap ini dilakukan pula konseling keluarga, kunjungan rumah, dan membangun kelompok dukungan keluarga.Tahap resosialisasi/reintegrasi. Kegiatan yang dilakukan meliputi program pencegahan kekambuhan, pelatihan belajar kerja/magang, pemberian cuti pulang, dan kunjungan rumah. Tahap bimbingan lanjut. Tahap bimbingan lanjut meliputi kunjungan rumah, wawancara, konseling, kunjungan kerja, dan surat menyurat dan lain sebagainya. Terminasi. Hal yang penting sebelum terminasi dilakukan adalah membantu klien merumuskan sejumlah alternatif yang merupakan rencana kehidupan  klien selanjutnya, dan membantu klien menentukan alternatif pilihan yang terbaik. Terminasi juga dimaksudkan untuk mencegah terjadinya kekambuhan (relapse).

Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika menyebutkan bahwa Rehabilitasi Sosial  adalah suatu proses kegiatan pemulihan secara terpadu, baik fisik, mental maupun sosial, agar bekas pecandu Narkotika dapat kembali melaksanakan fungsi sosial (social functioning)  dalam kehidupan masyarakat. Dalam Dictionary of Social Work (2010 : 255), John Pierson dan Martin Thomas, menyatakan bahwa :

“Rehabilitation is a process of restoration or recovery from an illness, accident or from some adverse circumstance or event. The term was used widely in health settings in the latter part of the 20th century but now has much wider application in social work practice and in work in the criminal justice system. In health settings, rehabilitation has described attempts by doctors and other health professionals, such as physiotherapists and occupational therapists to help people recover physically, emotionally and socially from physical illness, mental illness and trauma. The term also accurately describes both social and health professionals’attempts to assist alcoholics and substance misusers.”

 

Rehabilitasi adalah sebuah proses, artinya rehabilitasi memiliki awal dan akhir yang berisi tahapan-tahapan yang dilakukan untuk mencapai tujuan dari kegiatan yang dilaksanakan. Istilah rehabilitasi digunakan secara luas yang intinya adalah proses pemulihan atau recovery, baik menyangkut fisik, penyakit, emosi, motivasi, dan sosial termasuk upaya pemulihan dari ketergantungan atau adiksi. Rehabilitasi adalah sebuah proses interdisiplin (interdisciplinary); melibatkan banyak disiplin ilmu terkait. Salah satu model pendekatan yang populer di kalangan praktisi rehabilitasi sosial adalah metode Therapeutic Community.

Therapeutic Community dalam Rehabilitasi Sosial

Therapeutic Community (TC) merupakan salah satu model terapi dalam bentuk rehabilitasi sosial residensial jangka panjang yang dapat mencapai jangka waktu satu tahun atau lebih. Prinsip dasar dari metode ini adalah addict to addict, maksudnya para penyalahguna membentuk suatu komunitas untuk saling membantu dalam proses pemulihan (man helps man to help himself) dari masalah ketergantungan Narkotika.

Dalam buku panduan Therapeutic Community Trainer’s Manual (2006:29), Richard Hayton menyatakan bahwa :

therapeutic communityas a structured method and environment for changing human behavior in the context of community life and responsibility.”

 

Therapeutic community adalah sebuah metode dan lingkungan yang terstruktur yang digunakan untuk mengubah perilaku manusia dalam konteks kehidupan masyarakat dan tanggung jawab. Aspek penting dari pandangan Richard Hayton adalah bagaimana perubahan perilaku manusia dilaksanakan dalam sebuah lingkungan yang terstruktur, sehingga perubahannya dapat diukur secara bertahap menuju keberfungsian sosial seseorang secara baik, sekaligus memandang Therapeutic Community sebagai sebuah metode dalam mewujudkan perubahan perilaku individu-individu yang menjalani proses pemulihan.

De Leon (2000:32) dalam bukunya, “Therapeutic Community : theory, model and method”, mendefinisikan Therapeutic Community sebagai sebuah pendekatan self-help yang unik dalam penanganan ketergantungan obat (adiksi) dan masalah terkait lainnya. Kata “therapeutic” merujuk kepada tujuan-tujuan sosial dan psikologis, yaitu mengubah identitas dan gaya hidup individu. Sedangkan “community” mengandung makna sebagai pendekatan utama didalam mencapai perubahan perilaku individu. Komunitas digunakan untuk menyembuhkan individu-individu secara emosional dan melatih mereka didalam bertindak, bersikap dan menghargai nilai-nilai dari hidup yang sehat (healthy living). Elemen-elemen dasar dari therapeutic community merupakan kumpulan dari berbagai konsep, keyakinan, asumsi, hasil praktik baik klinis dan pendidikan, serta komponen-komponen yang ada didalamnya. Therapautic community dapat dipandang, diformulasikan kedalam tiga aras utama yaitu perspektif, model dan metode. Sebagai sebuah metode, therapeutic community merupakan program pemulihan (program treatment).

Therapeutic community sebagai metode memiliki kelebihan dan kekurangan didalam pelaksanaannya. Menurut Rinto (2021) selaku ketua dari IPWL Pesona Bengkulu, metode ini sangat kuat dalam upaya membangun kedisiplinan residen, namun efektifitas metode ini sangat tergantung kepada banyak faktor. Termasuk berkaitan dengan residen yang bersangkutan, kompetensi para pelaksana, dukungan keluarga dan masyarakat, termasuk berkaitan dengan ketersediaan dukungan anggaran.

De Leon menyatakan bahwa therapeutic community menawarkan sebuah pendekatan treatment yang dipandu oleh perspektif yang jelas terhadap penyalahguna narkotika yang meliputi pandangan terhadap orang, pemulihan, dan prinsip hidup yang benar. Dalam therapeutic community terapis dan panutannya adalah komunitas itu sendiri yang berupa lingkungan sosial, teman sebaya, dan para staf yang berperan sebagai panutan atau contoh dalam perubahan diri, sekaligus pemandu dalam proses pemulihan. Sehingga komunitas adalah konteks dimana perubahan terjadi, dan sekaligus sebagai metode didalam proses perubahan.

Perbedaan pendekatan therapeutic community dari pendekatan-pendekatan lainnya adalah bagaimana therapeutic community memandang komunitas sebagai metode didalam perubahan sosial dan psikologis dari individu-individu. Komunitas sebagai metode berarti mengintegrasikan orang dan praktik dibawah sebuah perspektif dan tujuan untuk mendidik orang belajar dan mengubah dirinya.

 

“Dalam therapeutic community, semua aktivitas dirancang untuk menghasilkan dampak terapi dan pendidikan. Seluruh aktivitas, baik berdiri sendiri atau kombinasi, bertujuan untuk membangun intervensi yang berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap proses perubahan.”

 

Dalam praktiknya, therapeutic community dibangun dengan kekuatan filosofis, struktur, pilar, aktivitas-aktivitas, tahapan-tahapan serta kelembagaan sebagai sebuah upaya untuk memfasilitasi proses perubahan perilaku individu (residen). Keseluruhan komponen therapeutic community merupakan kesatuan aspek yang menunjang proses rehabilitasi sosial bagi para residen untuk mencapai tujuan pemulihan yaitu kehidupan yang sehat dan produktif. Program therapeutic community berlandaskan pada filosofi dan slogan-slogan tertentu, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis (unwritten philosophy).

Filosofi therapeutic community yang tertulis merupakan nilai-nilai hal yang harus dihayati, dipahami, yang dianggap sakral, tidak boleh diubah dan harus dibaca setiap hari. Sementara filosofi tidak tertulis (unwritten philosophy) adalah merupakan nilai-nilai yang diterapkan dalam proses pemulihan yang maknanya mengandung nilai-nilai kehidupan yang universal, artinya filosofi ini tidak mengacu kepada kultur, agama, dan golongan tertentu. Filosofi-filosofi yang ada tidak mengenal hirarki, dalam arti tidak ada yang lebih penting dari yang lainnya, melainkan merupakan nilai-nilai kehidupan yang seluruhnya diterapkan dalam keseharian aktivitas para residen di lembaga rehabilitasi (facility).

Empat struktur, yang dimaksud adalah sasaran perubahan yang diinginkan dari metode therapeutic community, yaitu : 1) Manajemen/ pembentukan perilaku, yaitu perubahan perilaku yang diarahkan pada peningkatan kemampuan untuk mengelola kehidupannya sehingga terbentuk perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai, norma-norma kehidupan masyarakat. Bentuk aplikasinya  mengikuti dan mentaati segala peraturan yang berlaku didalam program maupun di lingkungan masyarakat, 2) Emosional/psikologis, yaitu perubahan perilaku yang diarahkan pada peningkatan kemampuan penyesuaian diri secara emosional dan psikologis, seperti murung, tertutup, cepat marah, perasaan bersalah, dan lain-lain ke arah perilaku yang positif, 3) Intelektual/spiritual, yaitu perubahan perilaku yang diarahkan sehingga mampu menghadapi dan mengatasi tugas-tugas kehidupannya serta didukung dengan nilai-nilai spiritual, etika, estetika, moral dan sosial, 4) Keterampilan vokasional/ mempertahankan diri, yaitu perubahan perilaku yang diarahkan pada peningkatan kemampuan dan keterampilan residen yang dapat diterapkan untuk menyelesaikan tugas- tugas sehari-hari dan tugas-tugas kehidupannya (life skills). Aplikasinya para residen diberikan tanggung jawab dalam melaksanakan tugas kesehariannya disesuaikan dengan tanggung jawab masing- masing seperti memasak, membereskan tempat tidur dan menjaga kebersihan lingkungan.

Lima pilar yang dimaksud adalah metode-metode yang digunakan untuk mencapai perubahan yang diinginkan : 1) Family milieu concept, yaitu suatu metode yang menggunakan konsep kekeluargaan dalam proses dan pelaksanaannya. Para residen di dalam komunitas dibiasakan untuk berdiskusi dalam menyelesaikan suatu masalah, yang didasari oleh konsep kekeluargaan, 2) Peer pressure, yaitu suatu metode yang menggunakan kelompok sebagai metode perubahan perilaku. Dalam komunitas para residen saling memberikan tekanan terhadap satu sama lain kearah perubahan yang positif, 3) Therapeutic session, yaitu suatu metode yang menggunakan pertemuan sebagai media penyembuhan. Para residen mengikuti pertemuan-pertemuan di dalam program untuk mendapatkan solusi pada suatu masalah adiksinya, 4) Religious session, yaitu suatu metode yang  memanfaatkan  pertemuan-pertemuan   keagamaan  untuk meningkatkan nilai-nilai kepercayaan atau spiritual residen, 5) Role model, yaitu suatu metode yang menggunakan tokoh sebagai model atau panutan. Bentuk aplikasinya para residen diharapkan memiliki sosok yang bisa memberikan contoh perubahan perilaku yang baik. Di luar filosofi tertulis, tidak tertulis, empat struktur dan lima pilar, hal-hal yang dianggap tabu untuk dilakukan pada sebuah fasilitas therapeutic community sebagai peraturan peraturan utama (cardinal Rules), yaitu: 1) No Drugs, tidak diperkenankan menggunakan narkotika; 2) No Sex,  tidak diperkenankan melakukan hubungan seksual dalam bentuk apapun; 3) No Violence, tidak diperkenankan melakukan kekerasan fisik.

Sasaran pelayanan rehabilitasi sosial metode therapeutic community meliputi : 1) Residen atau penyalahguna Narkotika, 2) Keluarga, 3) Komunitas yang dekat dengan residen. Peran keluarga maupun orang-orang terdekatnya dibagi menjadi  3 (tiga) bentuk kegiatan: 1). Family Visit (kunjungan keluarga). Dalam kegiatan ini residen yang sudah disetujui untuk bertemu dengan orang tua, boleh dikunjungi oleh orang tua/wali sesuai waktu sesuai waktu yang telah ditentukan, 2). Family Support Group (kelompok dukungan keluarga). Kegiatan ini merupakan pertemuan antara orang tua residen saja, di mana mereka dapat berbagi perasaan pengalaman dan harapan mereka, 3). Family Saturday (Sabtu bersama keluarga). Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh orang/wali residen dengan seluruh jajaran staf. Kegiatan berbentuk seminar dan kelompok-kelompok diskusi dengan topik-topik seputar masalah ketergantungan dan hubungan keluarga setiap hari Sabtu.

Tahapan Therapeutic Community mencakup : 1) Proses Penerimaan (intake process). 2) Tahap Primer (Primary Stage). 3) Tahap lanjutan (Re-entry Stage) 4)  Aftercare Program (Pembinaan Lanjut). 5)   Prosedur penanganan relapse. Struktur Kelembagaan Therapeutic Community.Struktur organisasi atau kelembagaan yang digunakan dalam metode therapeutic community terbagi dalam dua kelompok yaitu struktur kelembagaan staf dan struktur kelembagaan residen. Untuk mencapai hasil optimal dari program pemulihan maka seluruh aspek metode TC diimplementasikan secara integral.

Implementasi Metode TC dalam Rehabilitasi Sosial

Semua nilai filosofi wajib diketahui, dihapal, dipahami, dan dipraktikan dalam keseharian oleh seluruh residen. Seluruh residen baik yang baru maupun yang sudah lama berada di fasilitas wajib mengetahui, menghapal, memahami, dan mempraktikan segenap nilai filosofis mulai dari bangun sampai tidur lagi selama mengikuti program pemulihan, bahkan menjadi nilai-nilai yang terus hidup ketika residen kembali ke tengah-tengah keluarga dan masyarakat.

Berdasarkan hasil pengamatan, nilai-nilai filosofis baik tertulis maupun tidak tertulis ditempatkan di ruang prosfect chair dan walking paper milik residen. Di ruang prosfect chair, nilai-nilai tidak tertulis, dicetak dan ditempel di dinding rumah, sehingga setiap kali ada residen yang nge-chair akan melihat nilai-nilai tersebut. Jika setiap hari membaca nilai-nilai tersebut, maka lambat laun akan menjadi hapal dengan sendirinya. Melalui nilai-nilai filosofi, residen belajar nilai-nilai positif kehidupan dengan saling support sesama residen. Filosofi adalah janji diri untuk berubah. Filosofi adalah norma-norma yang hidup untuk mengubah perilaku residen selama mengikuti proses rehabilitasi sosial.

Selama proses pemulihan, residen dituntut untuk mempraktikan nilai-nilai kejujuran sekecil apapun bentuknya. Selama menjalani proses rehabilitasi sosial, semua residen saling memperkuat, menasehati, mendukung dan memberi contoh satu sama lain. Ini adalah perwujudan dari prinsip bahwa therapeutic community adalah aktivitas yang bersifat addic to addict. Sistim kekeluargaan (family) dan perasaan satu keluarga merupakan pendekatan yang dipakai dalam proses rehabilitasi sosial. Struktur yang dimaksud adalah sasaran perubahan yang diinginkan, yaitu mencakup aspek : 1) perilaku, 2) Emosional/psikologis, 3) Intelektual/spiritual, dan 4) Keterampilan vokasional/mempertahankan diri. Sedangkan lima pilar yang dimaksud strategi/motode yang digunakan untuk mencapai perubahan perilaku yang diinginkan, yaitu : 1) Family milieu concept, menggunakan konsep kekeluargaan 2) Peer pressure; kelompok sebagai media perubahan, 3) Therapeutic session, menggunakan sesi-sesi terapi, dan  4) Religious session, penggunaan sesi keagamaan, serta 5) Role model; penggunaan role model bagi para residen baik antarsesama maupun dengan para konselor yang ada.

Konselor Roban menyatakan bahwa :

“struktur dan pilar merupakan indikator-indikator atau tanda-tanda perubahan yang dituju oleh semua residen.”

 

Setiap residen setidaknya melaksanakan konseling dengan konselor atau pekerja sosial masing-masing setidaknya empat kali dalam sebulan atau seminggu sekali. Melalui sesi konseling inilah konselor dapat menilai/mengevaluasi dan mengukur kemajuan/progres yang sudah dicapai oleh residen. Evaluasi dilaksanakan melalui case conference yang menjadi basis rencana intervensi selanjutnya.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan didapati berbagai aktivitas yang dilakukan oleh para residen membuktikan bahwa mereka mengalami proses perubahan perilaku yang nyata. Kegiatan harian dirancang secara padat dan berkelanjutan untuk membuat para residen menjadi lelah, sehingga pikirannya dapat fokus hanya untuk mengikuti program pemulihan secara optimal. Semua aktivitas yang berlangsung di fasilitas, baik formal maupun informal, sendiri maupun kelompok, rutin ataupun insidentil, semuanya tetap dalam upaya pendidikan dan aktivitas pemulihan residen. Tidak ada satupun aktivitas yang tidak bertujuan perubahan perilaku dan pembelajaran.

Peran keluarga maupun orang-orang terdekat residen diwadahi melalui 3 (tiga) kegiatan, yaitu : 1). Family Visit (kunjungan keluarga). Dalam kegiatan ini residen yang sudah disetujui untuk bertemu dengan orang tua, boleh dikunjungi oleh orang tua/wali sesuai waktu sesuai waktu yang telah ditentukan pada umumnya 2 (dua) minggu sekali. 2). Family Support Group (kelompok dukungan keluarga). Kegiatan ini merupakan pertemuan antara orang tua residen saja, di mana mereka dapat berbagi perasaan pengalaman dan harapan mereka, umumnya dilakukan 2 (dua) minggu sekali. 3). Family Saturday (Sabtu bersama keluarga). Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh orang/wali residen dengan seluruh jajaran staf. Kegiatan berbentuk seminar dan kelompok-kelompok diskusi dengan topik-topik seputar masalah ketergantungan dan hubungan keluarga, dilakukan sekali sebulan pada hari Sabtu. 

Berdasarkan pengamatan dan wawancara penulis bahwa bentuk-bentuk dukungan keluarga terhadap residen yang sedang menjalani proses rehabilitasi sosial tidak saja dilakukan pada saat visit tetapi berlangsung sepanjang waktu selama residen menjalani dan pasca menjalani rehabilitasi sosial, masih berstatus calon residen, residen, maupun pasca rehabilitasi sebagai alumni. Artinya sepanjang proses pemulihan peran keluarga sangat penting didalam mendukung residen baik secara emosional, moral, finansial, dan kehadiran fisik dalam bentuk family visit secara berkala. Ketika berada di dalam fasilitas menjalani rehabilitasi sosial, informan merasakan betapa pentingnya arti keluarga. 

Tahapan dalam therapeutic community meliputi tahap intake, primer, re-entry, dan aftercare. Berdasarkan pengamatan, wawancara dan dokumentasi yang dilakukan oleh penulis bahwa tahapan therapeutic community pada Rumah Anugerah meliputi tahap : 1) detoksifikasi, 2) tahap orientasi, 3) tahap core 1, 4) tahap core 2, 5) tahap core 3, 6) tahap re-entry, dan 7) tahap aftercare.

Jika dibandingkan dengan waktu ideal yang dibutuhkan seorang residen menjalani proses pemulihan setidaknya selama 24 (dua puluh empat) bulan atau dua tahun, maka jangka waktu yang diterapkan di fasilitas jauh dibawah standar waktu yang seharusnya. Pemangkasan waktu membawa konsekuensi bagi residen, dimana tidak semua tahap dapat dijalani secara penuh. Layanan residensial akan diputus atau terminasi jika sudah mencapai batas maksimal yaitu empat bulan. Pihak lembaga tetap menjaga kualitas dari program pemulihan yang dilaksanakan.

Struktur organisasi atau kelembagaan yang digunakan dalam metode therapeutic community terbagi dalam dua kelompok yaitu struktur kelembagaan staf dan struktur kelembagaan residen. Struktur kelembagaan staf terdiri dari : 1) Area direktur, adalah unsur pimpinan tertinggi yang bertanggung jawab penuh terhadap keseluruhan program dan proses pelayanan serta fasilitas yang ada dalam lembaga, 2) Primary program manager, adalah unsur pimpinan yang bertanggung jawab penuh ada keseluruhan program primary serta seluruh fasilitas yang digunakan oleh residen, 3) Re-entry program manager, adalah unsur pimpinan yang bertanggung jawab penuh pada keseluruhan program re-entry serta seluruh fasilitas yang digunakan oleh residen, 4) Senior counselor, adalah staf yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan program primary dan re-entry dan residen. Senior counselor tidak memiliki wewenang yang penuh untuk memberi keputusan-keputusan yang penting dalam pelaksanaan program, 5) Staf adalah petugas yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan program primary dan re-entry dan residen tetapi tidak memiliki wewenang untuk memberi keputusan-keputusan dalam hal pelaksanaan program., 6) Intern staf, adalah petugas yang membantu staf dalam menjalankan program primary maupun re-entry.

Berdasarkan data profile organisasi Yayasan Kipas/Rumah Anugerah yang dilakukan penulis, unsur manajemen organisasi terdiri dari seorang pimpinan lembaga, seorang sekretaris, seorang bendahara, seorang pengelola data dan informasi dan seorang program manager, seorang koordinator program, seorang kepala rumah tangga, lima orang konselor dan seorang pekerja sosial yang juga merangkap sebagai konselor adiksi. Selain itu terdapat juga seorang psikolog, guru keagamaan, instuktur olahraga, dan dua orang penjaga keamanan, serta seorang perawat dan seorang pendamping sebaya. Dalam rangka melakukan penjangkuan klien, lembaga memiliki empat orang petugas penjangkau untuk wilayah kabupaten masing-masing satu orang. Selain itu lembaga juga ditunjang oleh keberadaan seorang psikolog klinis dan psikiater, yang dibutuhkan untuk mengasesmen jika ada klien yang menunjukan perilaku yang menyimpang (dual diagnosis). Untuk layanan kesehatan dasar, jika ada klien yang sakit maka lembaga bekerjasama dengan Puskesmas terdekat.

Setiap minggu departemen yang ada dirotasi agar semua residen merasakan tugas dan tanggung jawab yang ada. Termasuk chief (ketua kelas) juga berganti tiap minggu. Adapun departemen yang ada meliputi : kitchen, laundry, aquamen, office, ruang religius, sampah, dan gazeebo.  Selama di fasilitas, residen tidak bisa bebas karena diatur dengan aturan dan tanggung jawab, serta ada yang mengawasi semacam polisi sebutannnya expeditor/xteam yang mencatat kesalahan yang dilakukan, dan ada hakimnya disebut COD, ada juga MOD, chief, serta ada sidangnya yaitu screening tools dimana kita disidang untuk diputuskan jenis sanksinya.

Dari informasi pihak Yayasan diketahui bahwa struktur kelembagaan harian residen terdiri dari mayor on duty atau disingkat MOD yang ditunjuk oleh lembaga biasanya dijabat oleh konselor yang bertugas. Selanjutnya ada koordinator seluruh departemen yang coorinator of department disingkat COD, yang bertanggung jawab terhadap kesiapan dan ketuntasan kerja dari seluruh departemen yang ada. Selanjutnya ada chief selaku ketua kelas yang bertugas untuk memimpin sesi-sesi kegiatan yang dilalui para residen. Ketua kelas merupakan jembatan penghubung antara crew atau residen dengan MOD. Sedangkan yang bertanggung jawab terhadap sebuah departemen, misalnya departemen air (aquaman) disebut dengan kepala departemen atau HOD yang dijabat dari salah seorang residen. Expeditor adalah semacam polisi yang mengamati tingkah laku para residen dan mencatat kesalahan yang dilakukan untuk selanjutnya melaksanakan sidang screening tools  dan menjelaskan jenis kesalahan (fumble) dan jenis hukumannya (learning experience).

Kelembagaan staf dan kelembagaan residen merupakan komponen yang saling berkaitan, mendukung, dan bekerjasama untuk kesuksesan pelaksanaan program pemulihan dari hari ke hari. Pengelolaan kelembagaan residen selain sebagai struktur juga dimaksudkan sebagai upaya untuk memberikan tanggung jawab kepada seluruh residen. Seluruh departemen dan penanggung jawab dirotasi sedemikian rupa untuk memberikan kesempatan kepada masing-masing residen untuk merasakan bagaimana sebuah tanggung jawab dilaksanakan.

Pelaksanaan rehabilitasi sosial dengan menggunakan metode TC masih dihadapkan pada sejumlah kendala, baik dari aspek internal maupun eksternal. Kendala internal meliputi keterbatasan jumlah konselor dan pekerja sosial, jumlah dan kualitas sarana dan prasarana fasilitas rehab, penghargaan terhadap tenaga konselor dan pekerja sosial yang belum memadai serta anggaran operasional yang terbatas. Sedangkan kendala eksternal meliputi belum adanya peraturan daerah tentang rehabilitasi sosial yang dapat mengikat secara hukum semua pihak yang terkait, masih terbatasnya kolaborasi antarpihak untuk keberlanjutan program dan termasuk masih kuatnya stigma negatif terhadap residen di tengah-tengah masyarakat.



oleh : Nara Sirnajati

 


Bagikan :