Dukungan Kesehatan Jiwa Psikososial Bagi Lansia

Dukungan Kesehatan Jiwa Psikososial Bagi Lansia


Menurut WHO, lansia merupakan mereka yang berusia 65 tahun ke atas untuk Amerika Serikat dan Eropa Barat. Sedangkan di Negara-negara Asia, lansia adalah mereka yang berusia 60 tahun ke atas. Lansia sebagai tahap akhir siklus kehidupan merupakan tahap perkembangan normal yang akan dialami oleh setiap individu yang mencapai usia lanjut dan merupakan kenyataan yang tidak dapat dihindari . Dikatakan lansia tergantung dari konteks kebutuhan yang tidak dipisahkan Konteks kebutuhan tersebut dihubungkan secara biologis, sosial ekonomi dan dikatakan usia lanjut dimulai paling tidak saat puber dan prosesnya berlangsung sampai kehidupan dewasa, jika mengacu pada usia pensiunan, lansia adalah mereka yang telah berusia di atas 56 tahun.

Permasalahan kesehatan lansia pada umumnya terjadi karena adanya perubahan normal pada fisiknya. Perubahan normal (alami) tersebut tidak dapat dihindari, karena cepat atau lambatnya perubahan dipengaruhi oleh faktor kejiwaan, sosial, ekonomi dan medik. Mundurnya kondisi fisik tersebut menyebabkan penurunan peran sosial lansia dan dapat menjadikan mereka lebih tergantung kepada pihak lain.

 Peran sosial yang menurun menyebabkan berkurangnya integrasi sosial pada lansia. Hal ini berpengaruh negatif pada kondisi sosial psikologis mereka yang merasa sudah tidak diperlukan lagi oleh masyarakat lingkungan sekitarnya. Kondisi lansia yang menarik diri diperburuk dengan berubahnya nilai sosial masyarakat yang mengarah kepada tatanan masyarakat individualistik, sehingga lansia kurang dihargai dan dihormati, serta tersisih dari kehidupan masyarakat yang pada akhirnya menjadi terlantar pergaulan antara orang-orang lansia ini juga tetap dilakukan secara teratur, rupanya di daerah pedesaan mereka lebih sering dikunjungi atau mengunjungi, namun di daerah perkotaan kegiatan ini jarang dilakukan.

Dukungan sosial bagi lanjut usia sangat diperlukan selama lansia sendiri masih mampu memahami makna dukungan sosial tersebut sebagai penyokong atau penopang kehidupannya. Namun dalam kehidupan lansia seringkali ditemui bahwa tidak semua lansia mampu memahami adanya dukungan sosial dari orang lain, sehingga walaupun ia telah menerima dukungan sosial tetapi masih saja menunjukkan adanya ketidakpuasan, yang ditampilkan dengan cara menggerutu, kecewa, kesal dan sebagainya.

 Hal ini dapat disebabkan oleh adanya dampak negatif dari budaya timur yang menempatkan lansia pada kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan orang muda. Berkeinginan untuk menjaga martabat lansia, terkadang anggota keluarga malah menjadi over protective Para lansia dilarang jalan keluar rumah, takut kalau-kalau jatuh atau mendapat kecelakaan, dilarang mengerjakan pekerjaan yang agak memberatkan dan sebagainya, sehingga kebiasaan ini akan merugikan lansia baik dari segi mental maupun fisik.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Oatley dalam Abraham dan Shanley (1997), menyatakan bahwa seseorang mempertahankan kesejahteraan, mungkin secara kuat dipengaruhi oleh dukungan sosial yang ia terima. Seseorang menemukan kembali pada kondisi sejahtera juga dipengaruhi oleh dukungan sosial. Penemuan mereka menunjukkan bahwa rata-rata lama tinggal pasien di rumah sakit dua hari lebih pendek pada pasien yang mendapatkan dukungan sosial daripada mereka yang tidak mendapat dukungan.

 Jenis dukungan sosial yang paling membantu seseorang tergantung pada masalah kesehatan mereka dan dukungan orang lain. Bagi lanjut usia, keluarga merupakan sumber kepuasaan. Para lanjut usia merasa bahwa kehidupan mereka sudah lengkap, yaitu sebagai orang tua dan juga sebagai kakek dan nenek. Mereka dapat berperan dengan berbagai gaya, yaitu gaya formal, gaya bermain, gaya pengganti orang tua, gaya bijak, gaya orang luar, dimana setiap gaya membawa keuntungan dan kerugian masing-masing. Akan tetapi keluarga dapat menjadi frustasi bagi orang lansia, jika ada hambatan komunikasi antara lansia dengan anak atau cucu dimana perbedaan faktor generasi memegang peranan.

Penduduk lansia merupakan kelompok tersendiri. Di negara barat, penduduk lansia menduduki strata sosial dibawah kaum muda. Pada masyarakat tradisional di Asia seperti Indonesia, penduduk lansia menduduki kelas sosial yang tinggi yang harus dihormati oleh masyarakat yang usianya lebih muda. Perubahan status sosial usia lanjut pasti akan membawa akibat bagi yang bersangkutan dan perlu dihadapi dengan persiapan yang baik dalam menghadapi perubahan tersebut. Aspek sosial tidak dapat diabaikan dan sebaiknya diketahui oleh lansia sedini mungkin sehingga dapat mempersiapkan diri sebaik mungkin.

 Kesehatan jiwa atau mental merupakan bagian integral dari kesehatan umum, yang secara langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua kelompok umur termasuk lansia. Dengan mempertahankan kesehatan jiwa yang optimal akan menjadi satu hal yang penting dalam mencapai masa usia lanjut yang sehat dan sejahtera. Sebagian besar lansia dapat mempertahankan kegiatan mental baik secara intelektual maupun emosional sepanjang hidup mereka. Sebagian lagi ketika memasuki tahap lansia, akan menunjukkan perubahan-perubahan sifat seperti kehilangan minat terhadap semua kegemaran semasa mudanya, sikap menjadi kaku atau tidak mempunyai keinginan belajar hal-hal yang baru

Menurut para ahli seseorang dikatakan sehat mentalnya saat memiliki psychological well-being yang terdiri dari beberapa indikator yaitu seseorang yang memiliki penerimaan diri, hubungan positif dengan orang lain, kemandirian, tujuan hidup; mampu melakukan penyesuaian diri dengan berbagai stressor lingkungan; melakukan produktivitas selaras dengan kemampuannya; tumbuh dan berkembang secara positif; dan persepsi yang benar tentang realitas (Moeljono dan Latipun, 1999). Sehingga untuk menjaga kesehatan mentalnya, seorang lansia harus dapat memahami perubahan pada dirinya

Program Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia (Progres LU), meliputi:

1.     Therapi, yaitu mengoptimalkan fungsi fisik, mental spiritual, psikososial, dan penghidupan lanjut usia berdasarkan hasi asesment pekerja social, melalui beberapa kegiatan, yaitu: terapi fisik seperti olah raga, terapi penghidupan seperti musik dan ketrampilan, terapi mental dan spiritual seperti peningkatan dalam beribadah;

2.     Sosial care, yaitu memenuhi kebutuhan kasih sayang, kelekatan, keselamatan, kesejahteraan yang permanen dan berkelanjutan guna meningkatkan kualitas hidup dan berperan aktif di lingkungan sosial;

3.     Bantuan Bertujuan Lanjut Usia (Bantu LU), melalui usaha ekonomi produktif; dan

4.     Family support, yaitu penanganan rehabilitasi sosial terhadap lanjut usia dengan sistem luar balai, dimana lanjut usia tetap tinggal dirumah atau dilingkungan program keluarga, dalam keadaan tidak, mampu secara ekonomi, namun masih memiliki motivasi setiap upaya yang ditujukan kepada lanjut usia guna memperkuat keberfungsian fisik, psikologis, sosial dan spritual maupun ekonomi dengan dukungan dan penyertaan keluarga lanjut usia.

Setiap individu sejak lahir berada di dalam suatu kelompok, terutama kelompok keluarga. Kelompok ini akan membuka kemungkinan untuk dipengaruhi dan mempengaruhi anggota-anggota kelompok lain. Oleh karena itu pada setiap kelompok senantiasa berlaku aturan-aturan dan norma-noma sosial tertentu, maka perilaku setiap individu anggota kelompok berlangsung di dalam suatu jaringan normatif. Menilisik pemaparan diatas, dapat disimpulkan jika lansia sangat membutuhkan perhatian dari keluarga dan lingkungan dimana akan memberikan kesehatan jiwa psikosial untuk beraktivitas sehari hari.

 Oleh : Harianto . S.Farm

 

                                                                                   

 

                                                                                  

 

 


Bagikan :