Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial (DKJPS) Kepada Lanjut Usia yang Tinggal Didalam Panti

Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial (DKJPS) Kepada Lanjut Usia yang Tinggal Didalam Panti

 

Ditengah pandemi Covid-19 pelayanan yang diberikan oleh Balai Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia (BRSLU) ataupun Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) perlu ditingkatkan. Peningkatan pelayanan tersebut dapat ditekankan kearah Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial (DKJPS) seperti pelayanan kesehatan rutin dan pemberian obat-obatan yang dibutuhkan. DKJPS atau Mental Health and Psychosocial Support (MHPSS) digunakan oleh Sistem kemanusiaan global sebagai istilah payung untuk berbagai pihak dalam merespons kondisi kedaruratan, salah satunya adalah pandemi Covid-19.

Dalam melaksanakan DKJPS pekerja sosial dan berbagai profesi lain dapat mengacu pada panduan Inter Agency Standing Committee (IASC). Didalam panduan tersebut menganjurkan agar berbagai tingkatan intervensi diintegrasikan dalam kegiatan respons wabah. Tingkatan-tingkatan ini disesuaikan dengan spektrum kebutuhan kesehatan jiwa dan psikososial yang tergambar dalam piramida intervensi.

Didalam piramida tersebut, intervensi DKJPS memiliki empat level.  Level pertama, adalah promotif berupa pertimbangan sosial dalam layanan dasar dan keamanan yang dilakukan sebelum ada potensi masalah. Level kedua, adalah preventif yaitu memperkuat komunitas dan dukungan sosial. Level ketiga, dalam intervensi itu adalah pemantauan, identifikasi dan pelayanan psikososial yaitu dukungan tidak terspesialisasi yang berfokus pada individu. Level keempat, adalah intervensi yang dilakukan oleh tenaga spesialis.

Pentingnya peningkatan DKJPS kepada lanjut usia dalam panti karena selain masalah di aspek fisiologis, pada masa pandemi Covid-19 lanjut usia juga harus dihadapkan pada masalah di aspek psikologis. Menurut Hooyman (2014), aspek psikologis meliputi perubahan yang terjadi dalam proses sensorik, persepsi, kepribadian, dan kemampuan kognitif (memori, belajar, kecerdasan). Masalah pada aspek psikologis yang dihadapi usia lanjut pada umumnya meliputi: kecemasan , keterasingan dari lingkungan, perasaan tidak berguna karena menurunnya kemampuan kognitif,  ketidakberdayaan, dan sindrom sarang kosong (Suardiman, 2011).

Masalah kecemasan, pada lanjut usia di masa pandemi Covid-19 disebabkan oleh beredar informasi yang salah mengenai pandemi Covid-19 sehingga menimbulkan kecemasan atau stres pada lanjut usia. Menurut Qiu (2020) dalam hasil studinya mengatakan bahwa banyaknya informasi yang salah terutama mengenai tingkat kematian tinggi pada lanjut usia berdampak pada psikologis mereka.

Penerapan sosial distancing dan physical distancing, merupakan pemicu timbulnya masalah keterasingan pada lanjut usia di masa pandemi. Hal tersebut karena lanjut usia mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dengan lingkungan sosialnya. Padahal salah satu tugas lanjut usia adalah membentuk hubungan dengan orang-orang yang seusia dan  menyesuaikan diri dengan peran sosial secara luwes (Hurlock, 2006). Menurut dr. Zulvia Oktanida Syarif, Sp.K.J, physical distancing menyebabkan seseorang tidak dapat menjalankan aktivitas rutin yang biasa dilakukan dan harus menjaga jarak dengan keluarga, teman, atau kerabat. Kondisi ini dapat menimbulkan perasaan keterasingan, kesepian, bosan, cemas karena tidak dapat bertemu atau berdekatan fisik dengan orang yang disayang sehingga berakibat pada masalah psikologis seseorang 

DKJPS kepada lanjut usia yang berada di panti dapat dilakukan pada level pertama yaitu melalui pengoptimalan kegiatan bimbingan mental, agama dan sosial. Hal ini bertujuan untuk mengatasi masalah psikologis lanjut usia. Sebagaimana telah diketahui bahwa kondisi kejiwaan lanjut usia yang tinggal di dalam panti berbeda dengan lanjut usia yang tinggal di luar panti (Tristanto, 2020).

Dalam bimbingan mental lanjut usia diajak untuk melupakan hal-hal yang membuat sedih, putus asa, kesepian, bosan dan selalu diajak untuk mengingat hal-hal yang sangat berarti selama hidup. Fokus bimbingan mental adalah mengarahkan lanjut usia untuk mengingat masa lalu yang menyenangkan, terutama sebagai kekuatan diri  sehingga dapat meningkatkan self-esteem lanjut usia, dan akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis dan mencegah serta menangani kondisi kesehatan jiwa dan psikososial lanjut usia.

Selain itu, untuk menekan masalah psikologis lanjut usia akibat dari diberlakukannya aturan PPKM sehingga berimplikasi pada memperburuk sindrom sarang kosong (empty nest syndrome)  karena peluang lanjut usia untuk berjumpa dengan sanak keluarganya semakin kecil, maka hendaknya pihak panti memfasilitasi dan mempertahankan komunikasi lanjut usia dengan anggota keluarga melalui berbagai media.

Bimbingan psikologis kurang optimal apabila tidak diimbangi dengan bimbingan agama. Menurut Musnamar (1992) tujuan bimbingan agama yaitu : Pertama, membantu individu atau kelompok mencegah timbulnya masalah-masalah dalam kehidupan keagamaan antara lain yaitu dengan membantu individu menyadari fitrah manusia. Kedua, membantu individu memecahkan masalah yang berkaitan dengan kehidupan keagamaannya, antara lain yaitu dengan cara: membantu individu memahami problem yang dihadapi, membantu individu memahami situasi dan kondisi dirinya dan lingkungannya, membantu individu memahami dan menghayati berbagai cara untuk mengatasi berbagai problem kehidupan. Ketiga, membantu individu menetapkan pilihan upaya pemecahan yang dihadapinya.

Metode yang dapat digunakan dalam bimbingan agama adalah bimbingan secara individu maupun kelompok. Bimbingan agama secara individu memungkinkan lanjut usia mendapatkan layanan langsung dalam rangka pembahasan dan pengentasan masalah yang sifatnya pribadi. Bimbingan ini dapat dilakukan dengan menggunakan teknik percakapan pribadi melalui dialog langsung dan tatap muka dengan lanjut usia. Bimbingan agama secara kelompok dapat dilakukan dengan teknik-teknik diskusi kelompok, dan sosiodrama dengan tetap memperhatikan jarak fisik.

Dalam memberikan bimbingan agama harus sejalan dengan bimbingan sosial. Menurut Gunarsa (2007) bimbingan sosial bertujuan untuk membantu individu mengatasi berbagai masalah dan kesulitan dalam kehidupan sosialnya, sehingga ia mampu mengadakan hubungan-hubungan sosial dengan baik. Ditengah pandemi Covid-19 bimbingan sosial kepada lanjut usia dapat dilakukan melalui kegiatan psikoedukasi.

Kegiatan psikoedukasi dapat dilakukan dalam bentuk memberikan pendidikan, informasi, dan pemahaman kepada para lanjut usia seputar kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah terkait situasi yang terjadi saat ini dengan cara sederhana dan mudah dimengerti. Selain itu dalam psikoedukasi juga dapat dilakukan melalui pengajaran kepada lanjut usia terkait dengan pentingnya social distancing dan physical distancing, serta cara Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)  seperti, mencuci tangan yang benar, menggunakan masker yang benar, etika yang benar pada saat batuk atau bersin.

Untuk lanjut usia yang tinggal di dalam panti dan tidak memiliki kemandirian (bedridden), bentuk DKJPS yang dapat diberikan adalah pelayanan yang lebih intensif terutama dalam  kesehatan. Untuk itu diperlukan tenaga pelayanan profesional seperti dokter spesialis geriatri untuk mengidentifikasi kondisi kesehatan; psikolog atau psikiater untuk mengidentifikasi kondisi emosional dan psikologis; dan pekerja sosial untuk mengidentifikasi masalah terkait interaksi sosial dengan lingkungannya.Dalam tahap treatment besar kemungkinan setiap jenis layanan harus diberikan secara individual, karena masalah yang dihadapi lanjut usia kemungkinan berbeda-beda. Oleh karenanya, jumlah tenaga pelayanan yang diperlukan akan lebih banyak.

Sebagai orang yang merawat atau kontak langsung dengan lanjut usia,  tenaga pelayanan harus lebih berhati-hati dalam melindungi diri dari virus corona. Oleh sebab itu tenaga pelayanan yang merawat lanjut usia harus selalu mencuci tangan sebelum dan setelah membantu lanjut usia beraktivitas. Apabila tenaga pelayanan yang merawat lanjut usia  sehabis beraktivitas diluar panti, maka  sebelum menemui atau merawat lanjut usia harus mengganti pakaian terlebih dahulu. Bila perlu, gunakan masker selama berada di dekat lanjut usia. Hal ini bertujuan untuk mengurangi risiko penularan virus corona kepada lanjut usia. Selain itu dalam melakukan perawatan pada lanjut usia tenaga pelayanan juga harus menjaga kesehatan diri sendiri, termasuk kesehatan fisik dan mental, agar lebih mampu merawat lanjut usia dengan baik, mengingat memberikan asuhan pada lanjut usia merupakan pekerjaan yang membutuhkan ketahanan fisik, ketelitian dan kesabaran.


Oleh : Aris Tristanto

 

Daftar Pustaka

 

Gunarsa, S. D., & Singgih D. G. (2007). Psikologi Untuk Membimbing. Jakarta: PT. BPK. Gunung Mulia.

Hurlock, E. B. (2006). Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Edisi kelima. Jakarta: Erlangga.

Hooyman, N. & H. Asuman Kiyak. (2014). Social Gerontology: A Multidisciplinary Perspective. Amerika: Pearson.

IASC (2020).  Catatan tentang aspek kesehatan jiwa dan psikososial wabah Covid-19 Versi 1.0. Februari 2020.

Musnamar, T. (1992). Dasar-Dasar Konseptual Bimbingan dan Konseling Islami. Yogyakarta: UII Press.

Suardiman, S.P. (2011). Psikologi Usia Lanjut. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Tristanto, A. (2020). Dukungan Kesehatan Jiwa Dan Psikososial (Dkjps) Dalam Pelayanan Sosial Lanjut Usia Pada Masa Pandemi Covid-19. Sosio Informa, 6(2), 205-222

Qiu, Jianyin, Bin Shen, Min Zhao, Zhen Wang, Bin Xie, Yifeng Xu. (2020),"A nationwide survey of psychological distress among Chinese people in the COVID-19 epidemic: implications and policy recommendations”,General Psychiatry 2020;33:e100213. doi:10.1136/gpsych-2020-100213.

 


Bagikan :