Beban Perempuan Di Masa Pandemi Covid-19

Beban Perempuan Di Masa Pandemi Covid-19


Sudah lebih dari satu tahun dunia tak terkecuali di Indonesia masih harus hidup berdampingan dengan virus Covid-19. Kini berita mengenai pertambahan pasien positif, kematian akibat covid-19 ataupun pasien sembuh tidak lagi menjadi perbincangan masyarakat pada umumnya seperti pada awal terjadinya pandemi covid-19, pertanyaan yang kini sering muncul di masyarakat kapan dunia kembali normal ? kapan perekonomian kembali membaik ? kapan anak-anak dapat bersekolah kembali ? kapan pekerjaan kembali seperti biasanya ? Pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan suatu kepastian oleh siapapun.

Angin segar dan harapan baru untuk segera pulih dari kondisi seperti saat ini hadir dengan adanya vaksin. Kini pemerintah melalui Kementrian Kesehetan  tengah gencar melakukan vaksinasi bagi masyarakat Indonesia. Hingga 15 April 2021 jumlah masyarakat di Indonesia yang telah mendapatkan vaksin covid-19 dosis pertama sudah mencapai 10.577.082  dan jumlah yang sudah mendapatkan vaksin covid-19 dosisi kedua mencapai 5.701.103 orang. Walaupun untuk mencapai seluruh masyarakat Indonesia mendapatkan vaksin perlu waktu hampir satu tahun menurut perhitungan Kementrian Kesehatan.

Ditengah program vaksinasi yang tengah digejot pemerintah protokol kesehatan dan sejumlah pembatasan masih turut diterapkan. Entah sudah jilid keberapa kebijakan pemberlakukan pembatasan bersakala mikro maupun makro yang diterapkan pemerintah pusat maupun daerah hingga larangan mudik jilid dua pun masih tetap diberlakukan yang membuat para perantau menangis karena tak bisa mudik lagi juga pengusaha trasportasi publik menjerit karena kembali harus merugi. Semua orang dan hampir semua sektor penggerak eknomi pun terkena dampak, apakabarnya dengan kaum perempuan selama pandemi covid-19 berlangsung? sebelum adanya pandemi covid-19 saja peran dan pekerjaannya sudah dua kali lipat bila dibandingkan dengan laki-laki. Rapid Gender Assesment (RGA) dan UN Women di Eropa dan sentaral Asia menemukan selama pandemi covid-19 lebih dari 15% perempuan kehilangan pekerjaan, 41% perempuan mengalami penurunan upah kerja dan terjadinya peningkatan jam dan beban kerja perempuan dalam keluarga.

Tanggal 8 Maret lalu diperingati sebagai hari perempuan sedunia yang mengingatkan kita bahwa betapa pentingnya peran seorang perempuan yang acap kali dipandang lemah. Berdasarkan hasil wawancara BBC kepada beberapa perempuan untuk menceritakan kegiatannya selama pandemi covid-19, hasil wawancara tersebut mereka bercerita bahwa selama pemberlakukan kebijakan bekerja dari rumah perempuan tidak hanya mengerjakan pekerjaannya saja melainkan harus mengerjakan serangkaian pekerjaan rumah nya seorang diri, tetapi laki-laki sebagai suaminya bisa dengan tenang bekerja dari rumah tanpa harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga ataupun mendampingi anak belajar daring. Multi peran yang sebelum pandemi Covid-19 telah dirasakan oleh perempuan di masa panemi covid-19 bertambah lagi.

Kejadian serupa tidak hanya menimpa perempuan di Indonesia saja tetapi juga di belahan dunia lain seperti India dan China. Dalam sebueh laporan (Radhakrishnan, Sen, & Singaravelu, 2020) yang dikutip oleh Kirana dan Feni (2020) dalam sebuah jurnal, selama empat fase kebijakan lockdown yang diterapkan oleh pemerintahan India perempuan mengalami peningkatan kasus kekerasan dalam rumah tangga. Sementara di China lebih tepatnya di Provinsi Hubei kasus kekerasan dalam rumah tangga meningkat tiga kali lipat dari 47 kasus dari tahun sebelumnya menjadi 162 kasus pada tahun 2020 (Mak, 2020).

 

Peran Perempuan Pada Masa Pandemi Covid-19

Penerapan kebijakan pembatasan jarak sosial oleh pemerintah mengharuskan sebagian besar kegiatan di ruang publik harus dilakukan di dalam rumah. Terpusatnya kegiatan di dalam rumah menyebabkan tanggung jawab perempuan semakin besar. Perempuan mendapatkan peran lebih ekstra dari biasanya pada masa pandemi covid-19 seperti saat ini selain ikut memikirkan bagaimana mendapatkan tambahan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, peran sebagai guru pun harus dilakukan untuk mengajar anak yang kegiatan belajarnya dialihkan ke rumah, melayani berbagai kebutuhan suami, memastikan kebutuhan rumah tetap tersedia untuk anak dan suaminya, mengerjakan serangkaian pekerjaan rumah, ditambah lagi jika perempuan tersebut seorang wanita karir yang juga harus mengerjakan pekerjaannya di dalam rumah.

Kasus KDRT di Masa Pandemi Covid-19

Kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga khususnya pada perempuan memang bukan menjadi persoalan baru, namun persoalan ini hingga kini masih terjadi. Masa pandemi covid-19 yang memaksa harus memindahkan sejumlah kegiatan di ruang publik ke dalam rumah sangat berpotensi terjadinya  kekerasan yang dialami oleh perempuan. Data-data kasus kekerasan yang menimpa perempuan menurut pendapat penulis baru menunjukan kasus permukaan saja, perempuan yang mengalami tindak kekerasan dalam bentuk apapun kurang berani untuk melapor dengan alasan aib keluarga atau stigma lainnya yang melekat pada perempuan korban kekerasan.

Berdasarkan data catatan tahunan kekerasan terhadap perempuan tahun 2018 yang dihimpun oleh Komnas Perlindungan Perempuan, tahun 2013 hingga tahun 2017 kasus kekerasan terhadap perempuan cenderung meningkat, adapun grafik kausus kekerasan yang menimpa perempuan pada tahun 2013 hingga 2017 adalah sebagai berikut :


Lalu bagaimana pada kondisi pandemi covid-19 yang sudah terjadi lebih dari satu tahun ini ?

Pandemi covid-19 yang memaksa banyak kegiatan diruang publik harus beralih ke rumah seperti kegiatan sekolah, perkantoran dan pekerjaan lainnya membawa dampak bagi perempuan rentan mengalami kasus kekerasan dengan berpusatnya kegiatan kedalam rumah. Data yang dihimpun oleh Komnas Perempuan sepanjang tahun 2020 299.911 kasus terjadinya kekerasan pada perempuan, jumalah tersebut menurun sebesar 31% dari tahun 2019. Penuruan jumlah kasus tersebut menurut Komnas perempuan dikarenakan pengembalian kuesioner yang disebarkan ke lembaga-lembaga pengaduan di berbagai daerah menurun 100%. Namun sebanyak 34% lembaga menyatakan adanya peningkatan pengaduan kasus kekerasan. DKI Jakarta menjadi Kota tertinggi yang mengalami tindak kekerasan terhadap perempuan sepanjang tahun 2020 dengan jumlah kekerasan yang terlapor sebanyak 2.461 kasus.

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) selama masa pandemi covid-19 terjadi salah satunya disebabkan oleh penurunan jumlah pendapatan ekonomi yang diiringi dengan meningkatnya jumlah kebutuhan. Berpindahnya kegiatan diruang publik ke dalam rumah menambah kebutuhan seperti kebutuhan kuota internet karena kegiatan bekerja dan belajar dengan menggunakan daring, selain itu kebutuhan untuk makan pun meningkat biasanya ayah dan atau ibu yang bekerja makan siang sudah dijamin oleh tempat bekerja kini harus mengeluarkan sendiri. Penurunan pendapatan ekonomi keluarga yang diiringi dengan meningkatnya kebutuhan dapat memicu stress yang dapat memicu pelampiasan emosi secara berlebihan kepada anggota keluarga yang berada dirumah termasuk kepada perempuan.

Kesehatan Mental Perempuan di Masa Pandemi Covid-19

Badan orangnisasi kesehatan dunia (WHO) telah menyepakati bahwa kesehatan fisik dan kesehatan mental merupakan dua unsur yang sama-sama harus diseimbangan untuk mencapai kesehatan holistik. Pada masa pandemi covid-19 seperti saat ini tidak hanya kesehatan fisik yang perlu diperhatikan tetapi juga kesehatan mental. Masa pandemic covid-19 yang merubah tatanan kehidupan manusia dapat mendatangkan tekanan psikologis, apabila tekanan itu tidak dapat dikelola dengan baik dapat memicu stress. Ketidakpastian akan berbagai hal pada situasi pandemi seperti kapan pandemic berakhir, pekerjaan, pendidikan, relasi sosial dan hal lainnya memicu tekanan yang dapat berakibat stress.

Kelompok yang rentan terkenda dampak psikologis dari situasi pandemi covid-19 ini adalah perempuan, anak-anak, remaja dan lanjut usia. Kenapa perempuan masuk kedalam kelompok rentan terkena dampak piskologis ?

Secara biologis perempuan mengalami perubahan kadar hormon estrogen dan progesterone, hal ini mempengaruhi sistem saraf yang mempengaruhi suasana hati dan beresiko mengalami gangguan kesehatan mental. Multi peran yang diemban oleh perempuan apalagi pada situasi pandemi covid-19 seperti saat ini turut menjadi penyebab perempuan rentan mengalami gangguan kesehatan mental. Tuntutan dan penilaian dari lingkungan sosial turut mempengaruhi rentannya perempuan mengalami gangguan kesehatan mental.

Berdasarkan hasil kajian cepat survey ketahanan keluarga di masa pandemi covid-19 yang dilakukan oleh Institut Pertanian Bogor (IPB) dari 66% responden perempuan yang sudah menikah menunjukan bahwa gangguan psikologis yang paling banyak dialami adalah mudah cemas dan gelisah 50,6%, mudah sedih 46,9%, dan sulit berkonsentrasi 35,5%.

Belum ada satupun ilmuan yang dapat memastikan kapan pandemi covid-19 akan berakhir. Selama pandemi covid-19 masih berlangsung kita harus siap hidup dengan berbagai pembatasan. Kondisi yang menimpa perempuan seperti yang terjadi pada masa pandemi covid-19 ini harus ada upaya untuk mengatasinya. Selain peran pemerintah sangat dibutuhkan untuk menyediakan fasilitas pertolongan untuk mengatasi masalah kesehatan mental yang mudah di jangkau dan ramah terhadap perempuan, komunikasi keluarga khususnya pasangan suami-isteri juga diperlukan untuk berbagi peran.


Oleh : Olvia Nursaadah

Sumber

https://komnasperempuan.go.id/siaran-pers-detail/catahu-2020-komnas-perempuan-lembar-fakta-dan-poin-kunci-5-maret-2021

https://www.kemenpppa.go.id/index.php/page/read/31/1742/perempuan-rentan-jadi-korban-kdrt-kenali-faktor-penyebabnya

Deshinta Vibriyanti, Kesehatan Mental Masyarakat:Mengelola Kecemasan Di Tengah Pandemi Covid-19, Jurnal Kependudukan Indonesia | Edisi Khusus Demografi dan COVID-19, Juli 2020 | 69-74

Eka Kartika Sari, Biko Nabih Fikri Zufar, PEREMPUAN PENCARI NAFKAH SELAMA PANDEMI COVID-19, Al-Mada: Jurnal Agama Sosisal dan BudayaVol. 4No 12021. Hal. 13-29

https://www.merdeka.com/peristiwa/jumlah-masyarakat-disuntik-vaksin-covid-19-per-15-april.html

https://lifestyle.kompas.com/read/2021/01/16/091927320/pandemi-covid-19-ketidakpastian-dan-kesehatan-mental?page=all


Bagikan :