Bagaimana Strategi Peningkatan Kesejahteraan Sosial Bagi Lanjut Usia di Dalam Panti ?

Bagaimana Strategi Peningkatan Kesejahteraan Sosial Bagi Lanjut Usia  di Dalam Panti ?


 

Upaya untuk meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat khususnya orang miskin telah dilakukan oleh pemerintah. Pembangunan nasional sebagai upaya mewujudkan tujuan negara sebagaimana tertuang dalam pembukaan Undang- Undang Dasar 1945, kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. Secara khusus salah satu sasaranya, diatur dalam pasal 34 UUD 1945 yang berbunyi fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.

Sebagaimana tertuang dalam UU No. 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial, negara telah melakukan penyelenggaraan pelayanan dan pengembangan kesejahteraan sosial secara terencana, terarah dan berkelanjutan untuk mewujudkan kehidupan yang layak dan bermartabat, serta untuk memenuhi hak dasar atas warga negara demi tercapainya kesejahteraan sosial. Penyelenggaraan kesejahteraan sosial meliputi:

1. rehabilitasi sosial;

2. jaminan sosial;

3. pemberdayaan sosial; dan

4. perlindungan sosial

Penyelenggaraan kesejahteraan sosial menjadi tanggung jawab pemerintah dan pemerintah daerah. Pemerintah daerah sendiri terdiri atas pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota. Pemerintah dan pemerintah daerah melakukan koordinasi dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian penyelenggaraan kesejahteraan sosial.

Peningkatan jumlah penduduk lansia akan membawa dampak terhadap berbagai kehidupan, baik bagi individu lansia itu sendiri, keluarga, masyarakat, maupun pemerintah. Dampak utama peningkatan lansia ini adalah peningkatan ketergantungan lansia. Ketergantungan ini disebabkan oleh kemunduran fisik, psikis, dan sosial lansia yang dapat digambarkan melalui tiga tahap, yaitu kelemahan, keterbatasan fungsional, ketidakmampuan, dan keterhambatan yang akan dialami bersamaan dengan proses kemunduran akibat proses menua.

Seperti yang terjadi masalah kasus lansia di Indonesia “terdata 23 juta lansia saat ini, sekitar 58 persen dari jumlah lansia tersebut masih potensial”. Pada tahun 2020 diperkirakan jumlah lansia di Indonesia akan berlipat ganda menjadi 28,9 juta atau naik menjadi 11,11 persen, meningkat dua kali lipat selama dua dekade. Kemampuan anggaran Kementerian Sosial sebesar Rp. 145 Miliar hanya mampu menangani 44.441 lansia dari 2,9 juta lansia terlantar setiap tahunnya.

Banyak kasus mengenai lansia yang belum secara tegas ditangani oleh pemerintah. Pemerintah lebih memperhatikan nasib lansia. Kebanyakan lansia yang hidup sebatangkara kehidupan mereka sangat menyedihkan karena tidak ada yang mengurus mereka, kondisi fisik mereka yang sudah rapuh tidak kuat lagi untuk bekerja keras sehingga mereka hanya menunggu dan membutuhkan bantuan yang datang. Dalam hal ini perlunya pemberdayaan terhadap mereka, serta pendampingan agar mereka tetap bisa merasakan kasih sayang, dapat memenuhi keinginanya, membantu menambah ekonomi, sehingga mereka bisa berdaya dan mendapat pelayanan yang terbaik di usia lanjutnya.

Menurut David dalam Sindoro (2004), strategi merupakan cara untuk mencapai sasaran jangka panjang. Kemudian menurut Steiner dan Miner dalam Iriantara (2004), strategi mengacu pada formulasi misi, tujuan, dan objektif dasar organisasi; strategi-strategi program dan kebijakan untuk mencapainya; dan metode yang diperlukan untuk memastikan bahwa strategi diimplementasikan untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi. Selanjutnya menurut Simamora (2001), strategi organisasi terdiri menjadi dua, yaitu strategi inovasi dan strategi peningkatan kualitas. Strategi inovasi ditinjau dari koordinasi antar unit kerja, pengembangan keahlian kerja, penyusunan pengembangan karier,pemberian insentif kerja, dan penetapan standar kerja. Kemudian strategi peningkatan kualitas ditinjau dari penjabaran deskripsi kerja, partisipasi dalam pengambilan keputusan, penilaian pekerjaan, keseragaman perlakuan, dan pelatihan dan pengembangan kualitas.

Kemudian menurut Hatten dan Hatten dalam Purwanto (2008), ada beberapa petunjuk mengenai cara pembuatan strategi sehinggi bisa berhasil, diantaranya:

  1. Strategi haruslah konsisten dengan lingkungannya. Ikutilah arus perkembangan yang bergerak dimasyarakat (jangan melawan arus), dalam lingkungan yang memberi peluang untuk bergerak maju.
  2. Setiap strategi tidak hanya membuat satu strategi. Tergantung pada ruang lingkup kegiatannya. Apabila banyak strategi yang dibuat, maka strategi yang satu haruslah konsisten dengan strategi lainnya.
  3. Strategi yang efektif hendaklah memfokuskan dan menyatukan semua sumber daya dan tidak mencerai beraikan satu dengan yang lainnya.
  4. Strategi hendaklah memuaskan perhatian pada apa yang merupakan kekuatannya dan tidak pada titik-titik yang justru pada kelemahannnya. Selain itu, hendaklah juga memanfaatkan kelemahan persaingan dan membuat langkah-langkah yang tepat untuk menempatkan posisi kompetitif yang lebih kuat.
  5. Sumber daya adalah suatu yang kritis. Mengingat strategi adalah suatu yang mungkin, maka harus membuat sesuatu yang layak dan dapat dilaksanakan.
  6. Strategi hendaknya memperhitungkan resiko yang tidak terlalu besar. Memang setiap strategi mengandung resiko, tetapi haruslah berhati-hati sehingga tidak menjerumuskan organisasi ke dalam lubang yang besar. Oleh sebab itu suatu strategi harusnya dapat dikontrol.
  7.  Strategi hendaknya disusun di atas landasan keberhasilan yang telah dicapai. Jangan menyusun strategi diatas kegagalan.

8.     Tanda-tanda dari suksesnya strategi ditampakkan dengan adanya dukungan dari pihak-pihak yang terkait, terutama para eksekutif, dari semua pimpinan unit kerja dalam organisasi.

Pelayanan sosial lanjut usia merupakan proses penyuluhan sosial, bimbingan, konseling, bantuan, santunan dan perawatan yang dilakukan secara terarah, terencana dan berkelanjutan yang ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan sosial lanjut usia atas dasar pendekatan pekerjaan sosial. Pelayanan sosial lanjut usia yang ada di Kota Bengkuluadalah Unit Pelayanan Teknis Daerah “Pagar Dewa” yang berada di bawah Dinas Sosial Provinsi Bengkulu dan merupakan Pelayanan sosial lanjut usia satu-satunya di Kota Bengkulu. UPTD Pelayanan Sosial Lanjut Usia Kota Bengkulu adalah sebanyak 90 jiwa. UPTD Pelayanan Sosial Lanjut Usia Kota Bengkulu mempunyai 12 wisma.

Jumlah lansia untuk setiap wisma disesuaikan dengan jumlah kamar yang tersedia di wisma tersebut. Lansia yang berada di UPTD Pelayanan Sosial Lanjut Usia Kota Bengkulu mempunyai kegiatan setiap harinya, yakni bimbingan keterampilan, bimbingan mental, dan bimbingan fisik. Dengan berbagai pelayanan yang diberikan diharapkan lanjut usia dapat menikmati hari tuanya dengan aman, tenteram, dan sejahtera karena telah terpenuhinya kebutuhan lanjut usia baik kebutuhan jasmani maupun rohani.

 

Dehan Rafflesia


Bagikan :