Asistensi Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia

Asistensi Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia


 


 

Indonesia akan menjadi salah satu negara yang menua secara demografis. Data Badan Pusat Statistik (2019) menunjukkan bahwa persentase orang berusia di atas 65 tahun akan meningkat sebesar 25 persen di tahun 2050, dari 25 juta orang di tahun 2019 akan meningkat menjadi 80 juta orang di tahun 2050. Dependensi ratio akan terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2020 terdapat 6 orang penduduk usia produktif yang menanggung satu orang penduduk lanjut usia. Pada tahun 2045 terdapat 3 orang penduduk usia produktif yang menanggung satu orang penduduk lansia.

 Dilihat dari kondisi ekonomi, pada 2019 sebanyak 11 juta lansia berada dalam kelompok status ekonomi 40 persen terbawah. Berdasarkan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), pada Januari 2019, Data Lansia Miskin adalah 12,9 Juta orang atau 48,9 persen (Kemensos, 2020). TNP2K menyatakan 80 persen lansia hidup dalam kemiskinan dan relatif lebih tinggi dibandingkan kelompok umur lainnya (Kidd, et al., 2018). Sekitar 80 persen penduduk usia 65 tahun ke atas tinggal di rumah tangga dengan konsumsi per kapita di bawah Rp50.000,00 per hari dan tidak memiliki jaminan pendapatan (BPS, 2018).

Melihat situasi tersebut Kementerian Sosial RI c.q, Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial melakukan perubahan paradigma dalam pendekatan penanganan lanjut usia dari pendekatan belas kasihan, ke arah yang lebih mengedepankan pendekatan yang mengutamakan pemenuhan hak-hak lanjut usia. Perubahan paradigma dalam pendekatan penanganan masalah lanjut usia dilakukan tidak bersifat sektoral/fragmentaris,  tetapi pelayanan yang terpadu dan berkelanjutan.

Paradigma baru juga mengedepankan peran dan tanggung jawab keluarga dan masyarakat, serta layanan sosial dalam lembaga merupakan pilihan terakhir. Semua upaya ini dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan dan kesejahteraan sosial lanjut usia, dan pemenuhan hak-hak mereka. Perubahan paradigma ini juga sejalan dengan perkembangan situasi dan permasalahan lanjut usia yang semakin kompleks yang merupakan tantangan saat ini untuk membentuk kerangka kerja yang bertumpu sistem program rehabilitasi yang komprehensif, terstandar dan professional.

Hal tersebut diimplementasi melalui program Asistensi Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia (ATENSI LU). Melalui program ini diharapkan dapat menyempurnakan pelaksanaan program  rehabilitasi lanjut usia (PROGRESLU) yang sebelumnya sudah dilakukan. Program ATENSI LU dilakukan melalui tiga pedekatan, yaitu keluarga, masyarakat/komunitas, dan residensial.

Program ATENSI LU berbasis keluarga karena keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat dan merupakan lembaga sosialisasi pertama serta utama dalam masyarakat yang mempunyai peranan penting dalam mewujudkan kesejahteraan anggotanya. Program ATENSI LU berbasis keluarga dilakukan dengan lima cara.

Pertama, pendampingan keluarga yang dilakukan oleh pekerja sosial atau pendamping sosial masyarakat dalam mengatasi masalah yang terjadi pada lanjut usia dan keluarga. Upaya yang dapat dilakukan melalui konsultasi keluarga, terapi/konseling keluarga dan pertemuan/musyawarah keluarga.

Kedua, penguatan kapasitas keluarga merupakan upaya yang dilakukan oleh pekerja sosial atau pendamping sosial mayarakat dalam pemberian pengatahuan, pemahaman dan peningkatan keterampilan keluarga. Upaya yang dapat dilakukan melalui edukasi atau pelatihan bagi keluarga yang memiliki lanjut usia dalam kondisi sakit menahun, pelatihan keterampilan bagi lanjut usia potensial dan keluarga, dan perawatan jangka panjang bagi lanjut usia yang tinggal sendiri di dalam rumah tangga.

Ketiga, dukungan keluarga pengganti merupakan upaya peningkatan perlindungan sosial dan pemenuhan hak serta kebutuhan. Upaya yang dapa dilakukan melalui mediasi keluarga (family mediation), pengembalian fungsi keluarga, reunifikasi, lingkungan pertemanan, keluarga asuh (foster family),dan dukungan masyarakat.

Keempat bantuan sosial bagi lanjut usia diantaranya disalurkan melalui Program Keluarga Harapan (PKH) komponen kesejahteraan sosial lanjut usia, Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Pemberian bantuan sosial bagi lanjut usia dikhususkan bagi lanjut usia yang terdaftar dalam DTKS dan telah memenuhi eligibilitas program tersebut.

Kelima dukungan non operasional bagi lanjut usia dalam keluarga dimana dalam pelaksanaan ATENSI LU, hal ini bertujuan untuk mendukung komplementaritas program bantuan sosial dan mempercepat lanjut usia keluar dari status kemiskinan dan ketelantaran serta meningkatkan peran keluarga dalam perawatan lanjut usia, balai/loka rehabilitasi sosial lanjut usia akan menyalurkan dukungan non operasional kepada lanjut usia dan keluarga sesuai hasil manajemen kasus.

Program ATENSI LU berbasis komunitas atau masyarakat dilakukan oleh Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Lanjut Usia karena LKS termasuk Pusat Santunan Keluarga (PUSAKA) sehingga dapat menjadi penggerak utama bagi keluarga dan komunitas untuk melakukan perawatan sosial bagi lanjut usia. Selain itu LKS mempunyai potensi untuk mengatasi masalah kesejahteraan sosial yang ada secara mandiri dengan mengorganisisr diri untuk mengelola sumber daya manusia, alami dan sosialnya.

Menurut data Direktorat Pelayanan Sosial Lanjut Usia Kementerian Sosial (2014), jumlah LKS yang bergerak dalam pelayanan sosial lanjut adalah 282 LKS dengan melayani 8.500 lansia, jumlah ini masih belum sebanding dengan populasi lanjut usia yang semakin meningkat (Tristanto, 2020). Dari 282 LKS, di Sumatera Barat, hanya memiliki dua LKS Lanjut Usia yaitu LKS Lanjut Usia Ar Rasyid Sumatera Barat dan LKS Salinduang Bulan (Nugrahaeni dkk, 2020).

LKS Lanjut Usia Ar Rasyid Sumatera Barat yang beralamat di Koto Gadang, IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. LKS ini dikelola oleh masyarakat Koto Gadang dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan lanjut usia setempat. Sedangkan LKS Salinduang Bulan merupakan LKS LU yang dikelola oleh para pekerja sosial professional. LKS ini beralamat di  Jl. Rasuna Said, Kelurahan. Manggis, Kecamatan. Padang Panjang Barat, Kota Padang Panjang, Sumatera Barat.

Pelaksanaan ATENSI LU berbasis Komunitas atau LKS LU, dilakukan oleh Kementerian Sosial melalui pemberian dukungan non operasional dari pemerintah bagi LKS, untuk meningkatkan perlindungan dan kesejahteraan lanjut usia. Selain itu, setiap lanjut usia yang dibina oleh LKS-LU dapat didaftarkan ke dalam DTKS, sehingga dapat mengakses bantuan sosial PKH dan BPNT. Lanjut usia yang didaftarkan ke dalam DTKS dan memenuhi eligibilitas yang ditetapkan, dapat menerima bantuan PKH dan BPNT.

Pelayanan berbasis institusi/residensial merupakan alternatif terakhir setelah pelayanan berbasis keluarga dan komunitas. Layanan residential melalui Balai Rehsos, atau Panti Rehsos menjadi kebutuhan bagi lanjut usia yang tidak memiliki keluarga atau ditelantarkan oleh keluarga atau keluarga yang tak mampu merawat lanjut usia karena permasalahan ekonomi dan sosial.

Perawatan lanjut usia didalam panti dapat menjamin kualitas kesejahteraan sosial bagi terpenuhinya kebutuhan fisik, psikologis dan sosial lanjut usia yang dilaksanakan secara temporer. Di Sumatera Barat, terdapat lima panti sosial untuk lanjut usia dimana dua panti milik pemerintah provinsi, dan dua panti milik perseorangan serta satu panti milik yayasan (Nugrahaeni dkk, 2020).

Dua panti sosial lanjut usia milik Pemerintah Provinsi Sumatera Barat yaitu: Pertama Panti Sosial Tresna Werdha Sabai Nan Aluih yang beramalat di Jl. Raya Padang - Bukittinggi No.84, Sicincin, 2 X 11 Enam Lingkung, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat 25584. Kedua, Panti Sosial Tresna Werdha Kasih Sayang Ibu yang beramalat di Jalan Cubadak, Lima Kaum, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat 27215.

Terkait dengan panti sosial lanjut usia yang dikelola oleh perseorangan yaitu Panti Jompo Syech Burhanuddin yang beralamat di Jl Syech Burhanuddin, Marunggi, Pariaman Selatan, Pariaman 2553, dan Panti Sasana Tresna Werdha  Jasa Ibu yang beralamat di  Jalan Jorong Lakung Desa Sarumpun, Situjuah Batua, Luak, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat 26273. Sedangkan Panti Jompo Wisma Cinta Kasih yang beralamat di Jalan Jendral Sudirman, Kota Padang, Sumatera Barat dikelola oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia.

Pelaksanaan ATENSI LU maka Kementerian Sosial melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat (Balai/Loka) dapat berperan sebagai centrelink/SERASI yang memfokuskan pelayanan kepada peningkatan kapasitas panti di daerah atau UPT Daerah dan LKS pada penguatan dukungan keluarga agar lanjut usia terlantar/rentan dapat sesegera mungkin kembali kepada keluarga. Dalam membantu UPTD dan LKS untuk memberikan layanan residential, balai/loka juga telah dilengkapi dengan sarana dan prasarana untuk memberikan layanan residential yang memadai. Namun demikian layanan residential yang diberikan bersifat terbatas (temporary).


Oleh : Kandarto 

Daftar Pustaka

BPS. (2018). Statistik Kesejahteraan Rakyat Welfare Statistic 2018. Jakarta: Badan Pusat Statistik Indonesia.

BPS. (2019). Satistik Penduduk Lanjut Usia 2019. Jakarta: Badan Pusat Statistik Indonesia.

Kemensos. (2020). Kebijakan dan program rehabilitasi sosial lanjut usia tahun 2021. Jakarta: Direktorat Rehabiliasi Sosial Lanjut Usia.

Nugrahaeni, I.,  Ardianto, D., & Tristanto, A. (2020). Rencana Tindak Lanjut Pelayanan Terhadap Lanjut Usia Pada Masa Pandemi Covid-19 di Sumatera Barat. Padang: LDP Sumbar

Tristanto, A. (2020). Dukungan Kesehatan Jiwa Dan Psikososial (Dkjps) Dalam Pelayanan Sosial Lanjut Usia Pada Masa Pandemi Covid-19. Sosio Informa, 6(2), 205-222

 


Bagikan :