Implikasinya Teori Hierarki Kebutuhan Dalam Praktik Pekerjaan Sosial Anak

Implikasinya Teori Hierarki Kebutuhan  Dalam Praktik Pekerjaan Sosial Anak

Implikasinya Teori Hierarki Kebutuhan  Dalam Praktik Pekerjaan Sosial Anak

By: Aris Tristanto, Sp.PSN

 

Dalam menjalani kehidupan manusia tentu memiliki kebutuhan-kebutuhan yang tidak dapat hindarkan. Kebutuhan itu beragam, mulai dari fisiologis (fisik) seperti makan dan minum maupun yang berkaitan dengan kepribadian seperti keamanan, kasih sayang, dan harga diri. Apabila ada suatu kebutuhan tidak terpenuhi akan berdampak pada perubahan sikap dan perilaku seseorang.

Hal itu menunjukan bahwa kebutuhan berperan  penting  dalam  menentukan  tingkah  laku  manusia. Manusia akan mendapat beban, merasa memiliki kekurangan dan tidak nyaman apabila kebutuhannya tidak terpenuhi. Hal tersebut mengindikasikan bahwa manusia memiliki kebutuhan-kebutuhan yang wajib terpenuhi.  Syarat sebuah sifat dapat dipandang sebagai kebutuhan menurut Maslow dalam Mif  (2008), adalah:

a Ketidakhadirannya menimbulkan penyakit.

b Kehadirannya mencegah timbulnya penyakit.

c Pemulihannya menyembuhkan penyakit.

d.  Pada situasi-situasi tertentu yang sangat kompleks, dimana orang bebas memilih oran yang   sedan berkekurangan   ternyat mengutamakan kebutuhan itu dibandingkan jenis-jenis kepuasan lainnya.

e Kebutuhan itu tidak aktif, lemah, atau secara fungsional tidak terdapat pada

orang sehat.

 

Menurut Maslow dalam Alwisol (2009), variasi kebutuhan manusia tersusun dalam bentuk hierarki atau berjenjang. Setiap jenjang kebutuhan dapat dipenuhi hanya kalau jenjang sebelumnya telah terpuaskan. Jenjang itu meliputi kebutuhan pada tingkatan yang lebih rendah menuju kebutuhan yang tingkatannya lebih tinggi. Teori tersebut dikenal  dengan  hierarki kebutuhan  hierarchy  of  need. Jenjang kebutuhan menurut teori hierarki kebutuhan tersebut yaitu : (1) Kebutuhan fisiologi (fisiological needs), (2) Kebutuhan rasa aman (safety needs), (3) Kebutuhan kasih sayang (love needs), (4) Kebutuhan penghargaan diri (esteem needs), (5) Kebutuhan pengembangan diri (self actualization needs).

Pada Hakikatnya kebutuhan manusia bersifat sama meskipun setiap pribadinya memiliki perbedaan dari segi fisik, sikap dan perilaku. Namun, apabila mengacu pada proses perkembangannya, manusia memiliki kebutuhan yang tidak sama pada setiap tingkatannya. Perbedaan kebutuhan tersebut dapat dilihat dari jenis, ukuran dalevelnya.  Seperti pada tahap anak-anak, remaja, dan dewasa yang sama-sama membutuhkan makanan dan minuman sebagai asupan gizi, tetapi kebutuhan akan makanan dan minuman anak tidak sebanyak kebutuhan orang dewasa.

Dalam memenuhi kebutuhan anak, maka diperlukan peran dan bantuan dari orang lain mengingat bahwa anak memiliki kekuatan dan kemampuan yang masih terbatas. Bantuan tersebut bisa didapatkan oleh anak dari oranlain serperti orang tua, kakak, guru, dan pekerja sosial anak. Apabila mengacu pada Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 08 Tahun 2012 maka anak yang perlu mendapatkan bantuan dari praktik pekerjaan sosial dalam pemenuhan kebutuhan adalah :1) anak balita telantar, 2) anak terlantar, 3) anak yang berhadapan dengan hukum, 4) anak jalanan, 5) anak dengan kedisabilitasan (adk), 6) anak yang menjadi korban tindak kekerasan atau diperlakukan salah, 7) anak yang memerlukan perlindungan khusus. Oleh sebab itu, sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap kesejahteraan anak maka pekerja sosial perlu mengetahui dan memahami jenis kebutuhan anak  bedasarkan teori hierarki kebutuhan yang dirumuskan oleh  Maslow seperti berikut ini:

a.     Kebutuhan-kebutuhan fisiologis (Pysiological Needs)

 

Kebutuhan fisiologis adalah sejumlah kebutuhan yang paling mendesak dan menjadi prioritas utama dalam pemenuhannya karena berkaitan dengan kelangsungan hidup dan kondisi fisik anak seperti makanan dan minuman. Dalam pemenuhan kebutuhan tersebut maka hal yang perlu diperhatihan oleh pekerja sosial adalah asupan protein, vitamin, gizi, karbohidrat dalam makanan dan minuman yang dikosumsi anak. Hal ini penting karena masa anak-anak merupakan masa yang sangat tepat untuk membentuk kecerdasan otak dan ketahanan fisik yang sehat dan kuat. Perkembangan otak pada masa ini sangat baik ketika diberikan asupan makanan yang mengandung banyak protein seperti telur dan daging yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan kogitif anak.

 

Pada kondisi normal kebutuhan akan makanan dan minuman anak tidak sebanyak  kebutuhan orang dewasa karena kapasitas lambung dan usus mereka masih terbatas. Anak pada usia 6-10 tahun cenderung makan dan minum dengan ukuran yang sedikit, berkisar sepertiga dari ukuran makanan orang dewasa. Begitu juga ketika anak menginjak usia yang lebih tua 10-12 tahun yang dibarengi dengan pertumbuhan fisik yang lebih besar, maka ukuran makanan  yang  dibutuhkasemakin  banyak,  karena  energi  yang  dibutuhkan semakitinggi.  

 

b.    Kebutuhan  akan  rasa  aman  dan  perlindungan  (Need  for  self-security  and security)

 

Setelah kebutuhan fisiologis terpenuhi maka  kebutuhan selanjutnya adalah kebutuhan akan rasa aman dan perlindungan. Kebutuhan rasa aman anak dapat dipenuhi dengan cara memberikan perhatian yang penuh, menciptakan lingkungan yang  tentram,  jaudari konflik dan membatasi ruang bermain anak dari tempat yang berbahaya bagi fisik anak. Jika kebutuhan rasa aman tidak terpenuhi, tentu berdampak bahaya terhadap psikologi anak, misalnya anak yang berada di wilayah konflik sosial tentu akan mengalami stres, rasa takut yang berlebihan dan tarauma yang sangat berbahaya dan dapat menjadi penghambat masa depan anak. Oleh sebab itu, peran pekerja sosial sangat dibutuhkan dalam memenuhi dan menjamin rasa aman anak agar memperoleh ketentraman, kepastian dan keteraturan lingkungannya.

 

c.     Kebutuhan  akan  rasa  kasih  sayang  dan  memiliki  (Need  for  Love  and belongingness)

 

Ketika  kebutuhan  fisiologis  darasa  amasudaterpenuhi,  maka  rasa kasih sayang akan muncul dalam diri seseorang, merasa butuh rasa kasih sayang dari seorang teman, sahabat dekat, dan kekasih. Dalam pemenuhan kebutuhan  akan  rasa  kasih  sayang, hal yang perlu diperhatikan oleh seorang pekerja sosial adalah anak-anak cenderung tidak ingin disalahkan, bahkan akan kembali marah, kesal dan menangis apabila terus menerus disalahkan. Oleh sebab itu pekerja sosial perlu berhati-hati dalam menengur anak yang salah dalam perbuatan sebagai bentuk rasa kasih sayang pekerja sosial pada anak, tetapi anak dapat menganggap hal yang sebaliknya. Hal lain yang perlu dipahami oleh pekerja sosial dalam pelayanan anak adalah untuk anak usia 6-8 tahun Sikap agresi (rasa kesal, kecewa dan frustasi) masih sangat tinggi. Berbeda dengan anak usia 9-10 tahun yang sudah bisa menunjukan benar atau salahnya suatu perbuatan dan pada anak usia 12 tahun ke atas yang sudah memiliki pandangan yang kompleks dan teratur tentang dirinya.

 

Cara yang dapat dilakukan oleh seorang pekerja sosial untuk  memenuhi Kebutuhan rasa kasih sayang yang diperlukan anak adalah dengan memberikan perhatian penuh kepada mereka, misalnya menyediakan sarapan atau bekal makanan, menemani anak ketika belajar, mengajak mereka berwisata (refreshing), bermain, bersanda gurau, membelikan mereka makanan, mainan atau benda-benda yang mereka sukai.

 

d.    Kebutuhan akan rasa harga diri (Need for self-esteem)

 

Kebutuhan  akarasa  harga  diri  merupakan  suatu  kebutuhaseseorang untuk dapat menumbuhkan rasa percaya diri dimana ia merasa memiliki kapasitas, kredibilitas dan merasa berharga. Untuk memenuhi kebutuhan akan rasa berharga daladiri  anak hal dapat dilakukan oleh seorang pekerja sosial adalah menghargai pendapat anak, memuji hasil karyanya, menegur dengan bahasa yang  halus ketika  mengingatkan  seorananak  yang  berbuat  salah,  melengkapi kekurangannya dan memberi motivasi secara terus menerus. Hal tersebut dilakukan karena apabila kebutuhan akan rasa harga diri anak terpenuhi maka anak akan merasa lebih percaya diri, aktif, progresif dan lebih produktif.  Sebalik nya apabila kebutuhan akan harga diri anak tidak terpenuhi maka akan berdampak terhadap psikologinya seperti anak cenderung menutup diri, rasa tidak berdaya, merasa malu, kehilangan semangat atau gairah hidup dan dapat menimbulkan rasa putus asa, merasa tidak bisa apa-apa yang pada akhirnya merusak mental anak.

 

e.     Kebutuhan akan aktualisasi diri (Need for self-actualization)

 

Kebutuhan aktualisasi diri adalah kebutuhan  untuk  memenuhi dorongan hakiki manusia untuk menjadi orang yang sesuai dengan keinginan dan potensi dirinya. Kebutuhan ini memberikan kecenderungan individu untuk berjuang melakukan apa saja dalam meraih sebuah harapan. Aktualisasi sebagai tujuan final-ideal hanya dapat dicapai oleh sebagian kecil dari populasi, itupun hanya dalam presentase yang kecil. Menurut Maslow dalam Alwilson (2009) menyatakan bahwa “rata-rata kebutuhan aktualiasasi diri hanya terpuaskan 10%.

 

Aktualisasi diri anak dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan keturunan. Faktor lingkungan dapat dicontohkan berupa anak laki-laki menampillkan bahwa dia mampu bermain bola karena  anak tersebut melihat seseorang laki-laki desawa  bermain main bola. Sedangkan faktor keturunan adalah bakat yang mereka bawa sejak lahir, misalnya jika orang tuanya seniman, maka anak juga akan mengaktualisasikan dirinya dengan cara menjadi seniman.

 

Aktualisasi diri anak tidak dapat dipaksakan karena anak cenderung bebas berekspresi sesuai dengan apa yang mereka sukai dan sulit untuk dilarang. Apabila seorang anak dilaranmelakukan sesuatu dengan paksaan,  maka akan  berdampak terhadap kerusakan mental anak. Oleh sebab itu seorang pekerja sosial dalam praktik bersama anak harus mengenal dan memahami kepribadian, bakat dan keterampilan yang dimiliki anak serta memberikan kebebasan berekspesi kepadanak tanpa mengkesampingkan batas normal, kewajaran, dan tidak   membahayakan. Pemahaman terhadap bakat anak  juga  dapat  membantu pekerja sosial dalam  menyusun  program pembinaan anak, seperti memfasilitashobi anak dan membantu mewujudkan masa depan anak yang berprestasi.

Peran pekerja sosial dalam membantu memenuhi kebutuhan anak sangatlah besar karena anak memiliki keterbatasan fisik, pola pikir dan kemampuan motorik yang terbatas. Oleh sebab itu pekerja sosial dalam praktik bersama anak perlu mengetahui dan memahami jenis dan tingkat kebutuhan anak yang dilayaninya. Hal tersebut bertujuan agar pekerja sosial dapat dengan mudah membantu memenuhi kebutuhan anak sesuai dengan taraf perkembangannya, baik di lingkungan keluarga, di sekolah (kegiatan belajar mengajar) dan di lingkungan masyarakat. Apabila seorang pekerja sosial tidamemahami kebutuhan anak,  maka berdampak pada masa depan anak, juga dapat menjadi hambatan dalam meningkatkan kesejahteraan anak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



 


Bagikan :